Saya pernah bertemu seorang aparatur sipil negara (ASN). Bukan pejabat eselon. Bukan pula orang yang punya kuasa menentukan nasib orang lain. Ia pegawai biasa yang sudah lebih dari 15 tahun mengabdi. Pekerjaannya banyak bersentuhan langsung dengan masyarakat.
Suatu ketika, saya meliput kegiatan yang ia jalankan. Kegiatan itu layak diberitakan. Ada nilai berita di dalamnya. Ada manfaat yang bisa diketahui publik. Ada kerja yang patut diapresiasi.
Berita pun selesai ditulis dan diterbitkan. Saya menyarankan agar ia ikut menyebarluaskannya. Memublikasikan ulang berita itu melalui media sosialnya. Istilah sekarang, men-share.
Harapannya sederhana: semakin banyak orang tahu, semakin luas pula manfaat informasi yang disampaikan.
Namun, jawabannya di luar dugaan.
“Biar yang lain saja yang men-share.”
Saya bertanya-tanya. Mengapa bukan dirinya sendiri? Bukankah ia pelaku kegiatan itu? Bukankah berita tersebut bukan berita buruk yang harus disembunyikan?
Ternyata ada pengalaman yang membuatnya berhati-hati. Ia takut dinyinyiri teman-temannya sendiri.
Bukan sekali dua kali ia merasakan hal itu. Berkali-kali. Setiap kali ada kegiatan yang dianggap layak dipublikasikan, ada saja komentar miring yang membuatnya tidak nyaman.
Seolah-olah membagikan berita tentang pekerjaan sendiri merupakan tindakan mencari pujian. Seolah-olah memperlihatkan hasil kerja adalah kesombongan.
Seolah-olah orang yang bekerja dengan baik harus meminta maaf lebih dahulu kepada mereka yang tidak melakukan hal serupa.
Akhirnya, ia memilih diam. Bukan karena tidak bangga terhadap pekerjaannya. Bukan pula karena tidak ingin masyarakat mengetahui kegiatan yang bermanfaat.
Ia hanya lelah menghadapi suara-suara yang tidak membangun apa-apa, kecuali rasa tidak nyaman.
Saya justru merasa prihatin. Bayangkan, seseorang sudah bekerja belasan tahun. Ia menjalankan tugasnya, melayani masyarakat, dan melakukan sesuatu yang pantas diketahui publik.
Namun, untuk membagikan berita tentang pekerjaannya sendiri saja, ia harus mempertimbangkan kemungkinan menjadi bahan gunjingan.
Yang membuatnya takut bukan aturan kantor. Bukan teguran atasan. Bukan pula kesalahan dalam bekerja. Ia takut kepada komentar teman sendiri.
Di titik ini, persoalannya bukan lagi soal media sosial. Bukan pula soal siapa yang paling rajin membagikan berita. Persoalannya adalah budaya nyinyir yang perlahan-lahan bisa membuat orang baik memilih bersembunyi.





0 Tanggapan
Empty Comments