Iklan SDM 4 Mudipat 2026

Mengapa Melihat Teman Berhasil Saja Kita Takut?

Iklan Smamda Sidoarjo 2026
Mengapa Melihat Teman Berhasil Saja Kita Takut?
Ilusrasi: OpenAI
BANNER RSI AISYIYAH MALANG

***

Al-Qur’an memberikan peringatan tegas dalam Surah Al-Hujurat ayat 11. Allah melarang suatu kaum merendahkan kaum yang lain karena boleh jadi mereka yang direndahkan justru lebih baik daripada mereka yang merendahkan.

Ayat ini semestinya membuat kita berhati-hati sebelum mengomentari kehidupan orang lain.

Jangan-jangan, orang yang kita anggap sedang mencari pujian justru sedang bekerja dengan sungguh-sungguh.

Jangan-jangan, orang yang kita sindir karena terlalu aktif justru telah melakukan sesuatu yang selama ini kita abaikan.

Dan jangan-jangan, masalah sebenarnya bukan pada orang yang kita komentari, melainkan pada diri kita sendiri yang enggan bercermin.

Rasulullah saw. juga bersabda: “Barang siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah ia berkata baik atau diam.” (Hadis riwayat Bukhari dan Muslim).

Hadis ini tidak melarang kita menyampaikan kritik. Namun, ia mengajarkan tanggung jawab atas setiap perkataan.

Tidak semua yang terlintas di pikiran harus diucapkan. Tidak semua yang bisa dikomentari harus dikomentari.

Sebelum menyindir orang lain, ada baiknya kita bertanya: apakah ucapan ini benar? Apakah bermanfaat?

Apakah membantu memperbaiki keadaan? Atau justru hanya memuaskan keinginan untuk merendahkan?

Jika tidak membawa kebaikan, diam mungkin jauh lebih terhormat. Jangan sampai orang baik memilih diam

Saya kembali teringat kepada ASN yang saya temui itu. Lebih dari 15 tahun ia bekerja. Ia punya pengalaman, menjalankan tugas, dan bersentuhan langsung dengan masyarakat.

Namun, pengalaman menghadapi nyinyiran membuatnya berpikir berkali-kali hanya untuk membagikan berita tentang kegiatan yang ia lakukan.

Saya tidak tahu apakah teman-temannya menyadari dampak dari komentar-komentar mereka.

Mungkin bagi mereka, nyinyir hanya gurauan. Sekadar seloroh di grup percakapan. Candaan di ruang kerja. Atau komentar singkat di media sosial yang setelah itu dilupakan.

Tetapi, bagi orang yang menerimanya, dampaknya bisa jauh lebih panjang. Satu sindiran mungkin dianggap sepele oleh yang mengucapkan. Namun, jika berulang kali diterima, ia bisa menjadi alasan seseorang menarik diri.

Ia mulai enggan berbicara, malas menunjukkan hasil kerja, bahkan takut melakukan sesuatu yang sebenarnya bermanfaat.

Orang yang gemar nyinyir mungkin tidak merasa telah merusak apa-apa. Padahal, ia bisa saja sedang memadamkan keberanian orang lain.

Ini bukan berarti setiap orang harus memamerkan pekerjaannya. Bukan pula berarti semua aktivitas layak diberitakan dan setiap publikasi harus dipuji.

Kerendahan hati tetap penting. Kritik tetap diperlukan. Sikap kritis justru dibutuhkan agar kita tidak mudah menganggap setiap kegiatan sebagai prestasi.

Namun, kita juga perlu membedakan kerendahan hati dari ketakutan terhadap penilaian orang lain.

Tidak mencari pujian adalah sikap baik. Tetapi, membuat orang lain takut memperlihatkan pekerjaan yang bermanfaat bukanlah tanda kerendahan hati.

Ada pekerjaan yang memang perlu diketahui publik. Ada praktik baik yang perlu disebarluaskan.

Iklan SMPM 5 Surabaya 2026

Ada pengalaman yang bisa menginspirasi orang lain. Jika semua itu disembunyikan hanya karena takut menjadi bahan nyinyiran, masyarakat kehilangan kesempatan untuk belajar.

Dalam lingkungan kerja, semestinya keberhasilan seorang teman menjadi kabar baik bagi semua orang.

Jika satu orang menemukan cara baru untuk melayani masyarakat, orang lain bisa belajar.

Jika satu kegiatan menghasilkan manfaat, unit kerja lain bisa menirunya. Jika seseorang mendapat apresiasi karena bekerja dengan baik, yang lain bisa menjadikannya motivasi.

Kita tidak harus selalu menjadi orang yang paling terlihat. Tetapi, kita juga tidak perlu berusaha membuat orang lain tidak terlihat.

Rasulullah saw bersabda bahwa seseorang belum sempurna imannya sampai ia mencintai bagi saudaranya apa yang ia cintai bagi dirinya sendiri. Hadis ini diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim.

Coba kita balik pertanyaannya. Jika kita ingin pekerjaan kita dihargai, mengapa sulit menghargai pekerjaan orang lain?

Jika kita senang ketika keberhasilan kita disambut dengan ucapan selamat, mengapa kita justru menyambut keberhasilan teman dengan sindiran?

Kita ingin didukung, tetapi enggan mendukung. Kita ingin dipuji atas kerja keras sendiri, tetapi merasa terganggu ketika orang lain mendapat apresiasi.

Bukankah itu pertanda ada sesuatu yang perlu dibenahi dalam diri kita?

Pada akhirnya, nyinyir bukan sekadar persoalan sopan santun. Ia bisa menjadi cermin dari cara kita memandang orang lain, menyikapi keberhasilan, dan menilai diri sendiri.

Kita boleh berbeda pendapat. Kita boleh mengkritik. Kita boleh mengingatkan jika ada yang keliru. Namun, jangan sampai ketidakmampuan kita menghargai orang lain berubah menjadi kebiasaan merendahkan mereka.

Sebab, dunia kerja sudah cukup melelahkan tanpa harus ditambah rasa takut kepada teman sendiri.

Dan hidup bermasyarakat sudah cukup rumit tanpa kita memperkeruhnya dengan kedengkian.

Saya berharap ASN yang saya temui itu tetap bekerja dengan baik. Tetap melayani masyarakat.

Tetap melakukan hal-hal yang bermanfaat. Bukan demi berita, bukan demi pujian, melainkan karena memang itulah tugas dan pengabdiannya.

Jika pekerjaannya layak diketahui publik, biarlah berita itu menyebar. Jika ada yang ingin mengkritik, silakan dengan cara yang baik dan alasan yang jelas.

Sementara itu, bagi kita yang melihat keberhasilan orang lain, sesekali cobalah menahan jari sebelum mengetik komentar.

Mungkin, orang yang sedang kita nyinyiri hari ini justru sedang melakukan sesuatu yang belum sanggup kita kerjakan.

Dan kalaupun ia belum sempurna, bukankah kita juga demikian?

Jangan sampai kita begitu sibuk mencari kekurangan orang lain hingga lupa memperbaiki diri sendiri. (*)

Revisi Oleh:
  • Agus Wahyudi - 22/10/2026 08:47
SD Kreatif
Adv UMSURA

0 Tanggapan

Empty Comments

Search
Menu