Iklan SDM 4 Mudipat 2026

Mengapa Melihat Teman Berhasil Saja Kita Takut?

Iklan Smamda Sidoarjo 2026
Mengapa Melihat Teman Berhasil Saja Kita Takut?
Ilusrasi: OpenAI
BANNER RSI AISYIYAH MALANG

***

Mengapa seseorang merasa terganggu melihat keberhasilan orang lain? Mengapa kabar baik tentang teman justru memancing komentar sinis?

Setidaknya ada tiga kemungkinan yang patut kita renungkan. Pertama, iri terhadap sesuatu yang tidak dimiliki.

Orang lain mendapat apresiasi. Namanya disebut. Pekerjaannya diberitakan. Orang-orang mulai mengetahui apa yang telah dilakukannya.

Bagi orang yang memiliki rasa iri, pemandangan itu bisa terasa menyakitkan. Bukan karena keberhasilan tersebut merugikan dirinya, melainkan karena keberhasilan orang lain mengingatkannya pada sesuatu yang belum ia capai.

Alih-alih menjadikan prestasi teman sebagai inspirasi, ia justru mencari-cari kekurangan. Jika tidak menemukan kesalahan dalam pekerjaannya, ia menyerang motifnya.

“Paling ingin dipuji.”

“Cari perhatian.”

“Biar kelihatan bekerja.”

Kalimat-kalimat seperti itu mudah diucapkan. Tidak perlu data. Tidak perlu bukti. Cukup dengan prasangka.

Padahal, orang yang membagikan berita tentang pekerjaannya belum tentu sedang membanggakan diri.

Bisa jadi ia ingin menyampaikan informasi. Bisa jadi ia ingin mengajak orang lain melakukan hal serupa. Bisa jadi ia hanya menjalankan tugas komunikasi publik.

Namun, bagi orang yang telanjur iri, niat baik pun bisa dibaca secara buruk.

Al-Qur’an mengingatkan kita agar tidak memelihara kedengkian terhadap karunia yang diberikan Allah kepada orang lain.

Allah berfirman dalam Surah An-Nisa ayat 32: “Dan janganlah kamu iri hati terhadap karunia yang telah dilebihkan Allah kepada sebagian kamu atas sebagian yang lain.”

Pesan ayat ini bukan sekadar larangan merasa iri. Lebih jauh, kita diajak menerima bahwa setiap orang memiliki kesempatan, karunia, dan jalan pengabdian masing-masing. Keberhasilan orang lain tidak mengurangi jatah kebaikan kita.

Jika teman mendapat apresiasi, kita tidak kehilangan kehormatan. Jika pekerjaan orang lain diberitakan, nama kita tidak otomatis menjadi lebih kecil. Jika orang lain berprestasi, kesempatan kita untuk berbuat baik tetap terbuka.

Lalu, mengapa harus gelisah?

Kedua, merasa terancam oleh prestasi orang lain. Ada orang yang merasa nyaman ketika semua orang berada pada posisi yang kurang lebih sama. Ketika tidak ada yang terlalu menonjol, ia merasa aman.

Tetapi, begitu seorang teman mulai menunjukkan kinerja yang baik, rasa aman itu terganggu. Apalagi jika pekerjaan teman tersebut mendapat perhatian pimpinan atau diketahui masyarakat luas.

Iklan SMPM 5 Surabaya 2026

Ia mulai membandingkan diri. Mengapa bukan saya? Mengapa dia yang diberitakan? Apa istimewanya pekerjaan itu?

Perbandingan yang semula bisa menjadi bahan evaluasi berubah menjadi persaingan yang tidak sehat.

Di sinilah nyinyir menjadi semacam mekanisme pertahanan diri. Ketika tidak mampu menandingi prestasi orang lain, seseorang berusaha mengecilkan prestasi tersebut.

Jika tidak bisa mengungguli, ia mencoba menjatuhkan. Jika tidak mampu membuktikan bahwa dirinya lebih baik, ia mencari cara agar orang lain terlihat tidak sebaik yang diperkirakan.

Akibatnya, yang diserang bukan lagi kualitas pekerjaan, melainkan pribadi orang yang mengerjakannya.

Budaya seperti ini berbahaya bagi lingkungan kerja. Orang yang berinisiatif bisa kehilangan semangat.

Mereka yang ingin melakukan sesuatu di luar rutinitas memilih bermain aman. Pegawai yang sebenarnya memiliki gagasan baik akhirnya belajar satu hal: jangan terlalu terlihat.

Padahal, organisasi membutuhkan orang-orang yang berani berinisiatif. Masyarakat membutuhkan orang yang mau bekerja lebih dari sekadar memenuhi kewajiban.

Dan pelayanan publik membutuhkan pegawai yang tidak takut menunjukkan hasil kerjanya secara proporsional.

Jika setiap prestasi disambut sinisme, jangan heran jika orang lebih memilih tidak melakukan apa-apa.

Bukan karena tidak mampu. Melainkan karena tidak ingin menjadi sasaran.

Ketiga, merasa lebih mudah mengkritik daripada memperbaiki diri. Bekerja butuh tenaga. Berinisiatif membutuhkan keberanian. Menghasilkan sesuatu membutuhkan proses, ketekunan, dan kesediaan menghadapi risiko.

Nyinyir tidak membutuhkan semua itu. Cukup duduk, melihat unggahan orang lain, lalu menuliskan komentar miring.

Dalam hitungan detik, seseorang merasa telah menemukan kesalahan orang lain, meskipun ia sendiri belum tentu pernah melakukan pekerjaan serupa.

Tentu, kritik tetap diperlukan. Tidak semua kegiatan harus dipuji. Tidak semua publikasi berarti prestasi.

Ada pekerjaan yang memang perlu dikoreksi, ada klaim yang harus diperiksa, dan ada pencitraan yang patut dipertanyakan.

Namun, kritik berbeda dengan nyinyir. Kritik membicarakan persoalan, menunjukkan bukti, dan menawarkan perbaikan. Nyinyir sering kali berhenti pada sindiran, prasangka, dan upaya mempermalukan.

Kritik ingin keadaan menjadi lebih baik. Nyinyir kerap hanya ingin orang lain terlihat buruk. Perbedaannya terletak pada niat, cara, dan manfaat yang dihasilkan.

Revisi Oleh:
  • Agus Wahyudi - 22/10/2026 08:47
SD Kreatif
Adv UMSURA

0 Tanggapan

Empty Comments

Search
Menu