Cemas (qaliqa atau jazi’a) adalah perasaan khawatir, gelisah dan takut terhadap sesuatu yang belum terjadi atau belum jelas.
Setiap insan pasti mengalami rasa cemas dan kecemasan dalam hidupnya. Berbagai masalah yang dihadapi di dunia ini tentu menimbulkan rasa cemas, baik kecemasan yang ringan dan atau berat.
Perasaan cemas yang berat diwujudkan dalam bentuk khawatir dan kekhawatiran. Cemas yang ringan berkaitan dengan rasa takut dan ketakutan.
Khawatir adalah perasaan yang muncul pada hal-hal yang belum terjadi dan bisa berkepanjangan. Adapun perasaan takut merupakan respon langsung terhadap sesuatu yang sedang terjadi.
Dampak Cemas pada Tubuh
Dalam Al-Qur’an, cemas dan kecemasan dipahami sebagai bagian dari sifat dasar manusia yang diekspresikan melalui istilah khauf (takut atau khawatir), khasyah (takut), huzn (sedih), halu’a (gelisah), dan dhayq (merasa sempit).
Dengan demikian cemas termasuk penyakit hati yang berpengaruh pada perilaku orang yang mengalaminya. Orang yang cemas akan resah dan gelisah. Mereka tampak tidak tenang dan berdiam diri. Ada saja perilaku yang menunjukkan kecemasannya.
Cemas dan kecemasan yang berdampak pada tubuh, raga dan jasmani tampak pada Nabi Yakub alaihi sallam setelah kehilangan Yusuf alaihi sallam dan adiknya, Bunyamin, anak yang disayanginya. Sebagaimana disebutkan dalam firman Allah Azza Wa Jalla ini.
“Dan Yakub berpaling dari mereka (anak- anaknya) seraya berkata: “Aduhai duka citaku terhadap Yusuf”, dan kedua matanya menjadi putih karena kesedihan dan dia adalah seorang yang menahan amarahnya (terhadap anak-anaknya”. (QS. Yusuf:84).
Namun setelah cemasnya hilang, saat dikirim gamis Yusuf alaihi sallam yang diusapkan ke matanya, dan diberi tahu bahwa Yusuf alaihi sallam, anak kesayangannya telah menjadi raja.
Matanya yang buta akhirnya sembuh. Nabi Yakub alaihi sallam bersama keluarga besarnya diboyong ke istana Yusuf alaihi sallam di Mesir. (QS. Yusuf:93, 96).
Cemas Bisa Berbuat Ekstrim
Ternyata cemas dan kecemasan dapat melahirkan sikap dan tindakan ekstrim pada subjek. Seseorang yang merasa cemas apa yang akan menimpa dirinya dapat melakukan tindakan ekstrim, seperti yang dilakukan oleh para penguasa. (QS. Al Qashash:4).
Namrud cemas dengan kehadiran Nabi Ibrahim alaihi sallam, karena bukan hanya mempermalukan dirinya karena kalah berdebat dengannya. (QS. Al Baqarah:258).
Melainkan juga Ibrahim alaihi sallam telah merusak kepercayaan diri dan kaumnya sebagai penyembah berhala. (QS Al-Anbiya:57-66, As-Saffat:88-93).
Karena itulah dia memerintahkan Ibrahim alaihi sallam supaya dibakar hidup-hidup. Sesuai firman Allah Azza Wa Jalla. “Mereka berkata, “Bakarlah dia dan bantulah tuhan-tuhan kamu,jika kamu benar-benar hendak berbuat.” (QS Ankabut :24, Al Anbiya :68).
Demikian pula Fir’aun merasa sangat cemas, sebab kekuasaannya akan hancur setelah dia bermimpi melihat api yang datang dari Baitul Maqdis dan membakar rumah-rumah kaum Qibthi (bangsa Fir’aun), tetapi membiarkan kaum Bani Israil.
Para peramal saat itu menafsirkan bahwa akan lahir seorang anak laki-laki dari Bani Israil yang kelak akan menghancurkan kekuasaannya.
Karena itulah Fir’aun merasa cemas, khawatir dan takut akan terjadi, sehingga dia memerintahkan agar setiap anak-anak termasuk bayi laki-laki yang lahir dibunuh hidup -hidup. Dan membiarkan hidup anak-anak perempuan. (QS. Al Qashash:4, Al Baqarah:49).
Rasa cemas dan kecemasan Fir’aun termasuk bala tentaranya disebutkan dalam firman Allah Subhanahu Wa Ta’ala,
“Dan Kami perlihatkan kepada Fir’aun dan Haman beserta bala tentaranya apa yang selalu mereka khawatirkan/cemaskan dari mereka (Bani Israil)” (QS. Al Qashash:6).





0 Tanggapan
Empty Comments