Sikap dan tindakan Fir’aun membuat ibu Musa alaihi sallam pun merasa cemas, khawatir dan takut jika anak bayinya itu, Musa akan dibunuh raja zalim tersebut.
Karena itu dia pun bertindak ekstrim, namun bukan untuk membunuh Musa.. Melainkan dia masukkan bayinya ke dalam kotak dan dihanyutkan di sungai Nil. (QS. Al Qashash:7).
Saat berada di aliran sungai, ibunya tetap berusaha mengawasinya. Dia memerintahkan kakak Musa, hingga masuk ke dalam istana Fir’aun. Bayinya ditemukan oleh Asiyah, istri raja zalim tersebut. (QS. Al Qashash:8-9).
Dialah yang merawat dan melarang suaminya, Fir’aun, membunuhnya, karena sudah dianggap sebagai anak sendiri.
Bahkan Musa sempat menyusu pada ibunya sendiri tanpa ada yang tahu, bahwa dialah yang melahirkan anak laki-laki itu, yang kelak akan menghancurkan Fir’aun. (QS. Al Qashash :10-13).
Setelah Musa alaihi sallam dewasa dan menjadi pemimpin kaumnya, Bani Israil, dirinya semakin kuat, membuat Fir’aun dan bala tentaranya semakin bertambah cemas dan ketakutan. Tindakan merekapun semakin ekstrim, berusaha membunuh Musa dan kaumnya.
Hal ini disebutkan dalam firman Allah Azza Wa Jalla. “Dan pembesar-pembesar kaum Firaun berkata (kepada Firaun), ‘Apakah kamu membiarkan Musa dan kaumnya untuk membuat kerusakan di negeri ini (Mesir) dan meninggalkan kamu serta tuhan-tuhankah?’
Firaun menjawab, ‘Kita akan bunuh anak-anak lelaki mereka dan kita biarkan hidup anak-anak perempuan mereka dan sesungguhnya kita berkuasa penuh atas mereka”. (QS. Al-A’raf: 127).
Cemas Bagian dari Ujian
Cemas dan kecemasannya itu juga tidak terlepas dari ujian dari Allah Subhanahu Wa Ta’ala yang ditimpakan kepada manusia.
Ujian ini telah ditetapkan dan setiap orang akan mengalaminya, dalam bentuk cemas dan kecemasan yang berbeda-beda, apalagi yang mengaku sebagai orang beriman.
Sebagai ujian disebutkan dalam firman Nya “Dan Kami pasti akan menguji kamu dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa, dan buah-buahan…”(QS. Al Baqarah:155).
Cemas dan kecemasan juga dialami oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Ketika beliau didatangi oleh Malaikat Jibril di Gua Hira. Hal ini disebutkan dalam sebuah hadits sebagai berikut.
“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam kembali (pulang) dalam keadaan gemetar hatinya. Beliau menemui Khadijah binti Khuwailid radhiyallahu ‘anha dan berkata:
‘Selimuti aku, selimuti aku!’ Mereka pun menyelimutinya hingga hilang rasa takutnya. Beliau menceritakan kejadian itu kepada Khadijah dan bersabda: ‘Sungguh, aku mencemaskan diriku.’” (HR. Bukhari no 3).
Sahabat Abu Bakar Siddiq radhiyallahu ‘anhu juga pernah merasa cemas pada saat berada di goa berdua dengan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dalam perjalanan hijrah menuju Yastrib (Madinah).
Saat itu Rasulullah menenangkannya, sebagaimana disebutkan dalam firman Allah Azza Wa Jalla, “”Janganlah kamu bersedih, sesungguhnya Allah bersama kita.” (QS.At-Taubah: 40)
Cemas Tingkatkan Keimanan
Orang-orang, yang diuji oleh Allah Subhanahu Wa Ta’ala, termasuk mereka yang mengalami cemas dan kecemasan dalam hidupnya, ternyata dapat meningkatkan keimanan mereka. (QS. Al Ankabut:2, Al Fath:4).
Sebab, mereka telah membuktikan dirinya mampu menghadapi rasa cemas dan kecemasan itu dengan tetap ingat pada Allah Subhanahu Wa Ta’ala dan meneguhkan pendirian mereka.
Maka mereka akan dibantu oleh para Malaikat untuk mengatasi rasa cemas dan kecemasannya tersebut. Sesuai firman Nya,”
Sesungguhnya orang-orang yang berkata, “Tuhan kami adalah Allah” kemudian mereka meneguhkan pendirian mereka, maka malaikat -malaikat akan turun kepada mereka (dengan berkata),
“Janganlah kamu merasa takut dan janganlah kamu bersedih hati; dan bergembiralah kamu dengan (memperoleh) surga yang telah dijanjikan kepadamu.”(QS. Fushilat:30).
Ikhtiar Mengatasi Cemas
Sebagai bagian dari penyakit hati, cemas dan kecemasan dalam Islam ada banyak cara untuk mengobati dan mengatasinya.
Semua cara yang diajarkan oleh Allah Azza Wa Jalla dan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam memerlukan ikhtiar yang ikhlas dan bersungguh-sungguh.
Ikhtiar ini diperlukannya dalam mengatasi dan menyembuhkan rasa cemas dan kecemasan pada diri manusia. Diantaranya sebagai berikut:
Pertama, berdoa kepada Allah
Ternyata rasa cemas memberikan maslahat bagi seorang muslim yang memohon dan berdoa kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala. Doa yang disertai rasa harap dan cemas (raja’ dan khauf) akan lebih mudah dikabulkan dan diterima oleh Nya. (QS. Al Ambiya:90).
Dengan doa itu pula dapat menghilangkan dan menjauhkan rasa cemas dan kecemasan dalam diri manusia. Karena berikhtiarlah untuk mengatasi rasa cemas dan kecemasan dengan senantiasa berdoa kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala. (QS. Thaha:25-26).
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam telah mengajarkan bacaan doa untuk menghilangkan rasa cemas dan kecemasan di bawah ini. “Ya Allah, sesungguhnya aku berlindung kepada-Mu dari rasa cemas (ghamm) dan kesedihan (hamm)…” (HR. Bukhari no. 2893).





0 Tanggapan
Empty Comments