Kedua, Perkuat iman
Mengatasi cemas dan kecemasan dalam diri seorang muslim dapat dilakukan pula dengan cara memperkuat iman.
Sebab iman itulah yang dapat mengendalikan hati yang selalu berubah- ubah. Hal inilah yang disebutkan dalam firman Allah Azza Wa Jalla ini.
“Dan janganlah kamu (merasa) lemah, dan jangan (pula) bersedih hati, sebab kamu paling tinggi (derajatnya), jika kamu orang beriman.” (QS. Ali Imran:139).
Para Nabi dan Rasul sekalipun ada yang pernah merasa cemas seperti Nabi Yakub alaihi sallam. Namun karena memiliki iman yang kuat, telah membuat mereka tenang dan tidak cemas selamanya, karena dirinya selalu bersama dan dekat dengan Allah Subhanahu Wa Ta’ala. (QS. Yusuf:86, Ar Ra’d:28).
Dalam ikhtiar dan usaha menenangkan dan menghilangkan rasa cemas dan kecemasan yang dialami oleh Abu Bakar Siddiq radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi menenangkan dan menguatkan iman sahabatnya. (QS. At Taubah :40).
Ketenangan hati sehingga tidak merasa cemas dan kecemasan itu langsung diberikan oleh Allah Azza Wa Jalla, sesuai firman Nya.
“Dialah yang telah menurunkan ketenangan ke dalam hati orang-orang mukmin supaya keimanan mereka bertambah di samping keimanan mereka yang telah ada.” (QS. Al Fath:4).
Ketiga, Shalat dan berdzikir
Rasa cemas dan kecemasan bisa dihilangkan pula dengan mendirikan shalat dan berdzikir kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala. Sebab dengan shalat dan dzikrullah hati menjadi tenteram. (QS. Thaha:14, Ar Ra’d:26).
Tenteram dan ketenteraman hati seseorang muslim menunjukkan tak ada keluh kesah, rasa cemas dan mengalami kecemasan. (QS. Al Baqarah:277, Al Ma’arij: 29-23).
Selain itu orang yang shalatnya khusyuk, konsentrasi fikirannya dan tenang hatinya tentu tidak akan merasa cemas dan mengalami kecemasan.
Khusyuk karena orang yang shalat sedang berjumpa dengan Allah Azza Wa Jalla dan akan kembali kepada Nya. (QS. Al Baqarah :45-46).
Shalat termasuk ibadah yang besar pengaruhnya dalam menghilangkan penyakit hati, termasuk rasa cemas dan kecemasan. Allah Azza Wa Jalla langsung yang menghilangkan semua rasa cemas dan kecemasan hamba Nya. (QS. Yunus: 62أَ),
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sendiri melakukan ikhtiar menghilangkan rasa cemas dan kecemasan dengan shalat. Sesuai sabdanya, “Apabila Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam menemui suatu masalah (atau suatu kesedihan/kecemasan), beliau segera mendirikan shalat”. (HR. Abu Dawud).
Keempat, Baca Al Qur’an
Rasa cemas dan kecemasan dapat pula diatasi, diobati dan disembuhkan dengan ikhtiar membaca ayat-ayat Al Qur’an. Sebab kitab suci ini diturunkan oleh Allah Subhanahu Wa Ta’ala sebagai obat (syifa) dan rahmat bagi hati manusia. (QS. Al Isra:82, Al A’raf:204).
Semua sakit manusia, baik tubuh atau hatinya dapat disembuhkan oleh Al Qur’an. Gunung saja diturunkan Al Qur’an kepadanya hancur lebur. (QS . Al Hasyr:21) Apalagi penyakit yang ada dalam tubuh dan hati manusia, termasuk rasa cemas dan kecemasan.
Al Qur’an apabila dibaca dan dipelajari ayatnya dapat memberikan kesembuhan penyakit hati termasuk rasa cemas dan. kecemasan yang timbul dalam diri manusia. (QS. Yunus:57).
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda tentang Al Qur’an dapat mengobati hati, termasuk rasa cemas dan kecemasan. Sebagai berikut:
Ibn ‘Abbas r.a meriwayatkan bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Jika kamu merasa was-was (ragu dan cemas), bacalah ayat: Dialah Yang Mahaawal dan Yang Mahaakhir, Yang Mahazahir dan Yang Mahabatin, dan Dia Maha Mengetahui segala sesuatu (QS Al-Hadid: 3)” (HR Abu Dawud).
Kelima, Beristighfar
Rasa cemas dan kecemasan juga bisa diatasi dengan ikhtiar memperbanyak istighfar, memohon ampun kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala. Hal ini sesuai dengan sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam.
“Barangsiapa yang istiqomah (senantiasa) beristighfar, niscaya Allah menjadikan baginya jalan keluar dari setiap kesempitan, kelapangan dari segala kegundahan (cemas/sedih)…”. (HR. Ahmad, Abu Dawud, dan Ibnu Majah).
Dengan demikian rasa cemas dan kecemasan pada diri seseorang akan hilang jika dia sendiri berikhtiar dan berusaha menghilangkan dari hatinya.
Di antaranya dengan berdoa, memperkuat iman, shalat dan berdzikir, membaca Al Qur’an dan beristighfar kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala. (MK 27.9.26).





0 Tanggapan
Empty Comments