Di sebuah warung kecil, dua orang sedang berbincang. Salah satunya bercerita tentang seseorang yang mereka kenal. Kesalahannya dibuka satu per satu.
Kebiasaannya yang buruk disebut. Kekurangannya dibicarakan seolah-olah seluruh hidup orang itu sudah selesai hanya dengan beberapa kesalahan yang mereka ketahui.
Temannya mengangguk. Sesekali ikut menimpali. Tidak ada yang salah dengan membicarakan sebuah kesalahan jika tujuannya untuk mengambil pelajaran.
Tetapi percakapan itu perlahan berubah menjadi penghakiman. Mereka merasa lebih baik. Lebih bersih. Lebih pantas. Padahal, mereka hanya mengetahui apa yang tampak.
Mereka tidak tahu bagaimana orang yang sedang mereka bicarakan menangis dalam sujudnya. Mereka tidak tahu berapa kali ia beristighfar setelah melakukan kesalahan.
Mereka juga tidak tahu bahwa mungkin malam itu, di kamar yang sunyi, ia sedang memohon kepada Allah agar diberi kekuatan untuk meninggalkan dosa yang selama ini membelenggunya.
Manusia memang sering menilai dari halaman yang terbuka, sementara Allah mengetahui seluruh isi buku kehidupan seseorang.
Kita mudah melihat kesalahan orang lain karena kesalahan itu berada di luar diri kita. Sebaliknya, kekurangan diri sendiri sering kali tersembunyi di balik alasan, pembenaran, dan perasaan bahwa kita sudah cukup baik.
Kita hafal kesalahan orang lain, tetapi lupa menghitung dosa sendiri. Kita mudah menyebut seseorang belum berubah, padahal kita sendiri belum tentu istiqamah. Kita kecewa melihat orang lain jatuh, tetapi lupa bahwa kaki kita pun bisa tergelincir kapan saja.
Hari ini seseorang mungkin masih bergulat dengan dosa. Besok, siapa tahu Allah membuka pintu hatinya dan memberinya hidayah. Orang yang kemarin kita pandang sebelah mata bisa saja justru menjadi seseorang yang lebih dekat kepada Allah.
Bukankah kehidupan penuh dengan perubahan?
Ada orang yang dahulu jauh dari masjid, kemudian menjadi orang yang tidak pernah meninggalkan salat berjamaah.
Ada yang pernah hidup dalam banyak kesalahan, kemudian menghabiskan sisa hidupnya untuk memperbaiki diri. Ada pula yang dahulu dikenal baik, tetapi perlahan kehilangan keistiqamahannya.
Hati manusia tidak pernah berada dalam genggaman manusia. Karena itu, jangan terlalu percaya diri dengan keadaan hati kita hari ini.
Kebaikan yang kita lakukan bukan alasan untuk merasa lebih suci. Amal yang kita kerjakan pun bukan jaminan bahwa kita akan tetap berada di jalan yang sama sampai akhir hayat. Kita membutuhkan pertolongan Allah setiap saat.
Barangkali karena itulah muhasabah menjadi penting. Muhasabah bukan sekadar menghitung berapa banyak amal yang telah kita lakukan.
Lebih dalam dari itu, muhasabah adalah keberanian untuk duduk sejenak bersama diri sendiri dan bertanya: apa yang sebenarnya ada di dalam hati kita?
Mengapa kita senang ketika orang lain dipuji lebih sedikit daripada kita? Mengapa kita merasa puas ketika mengetahui kekurangan seseorang? Mengapa kita mudah mengingat kesalahan orang lain, tetapi sulit mengingat kesalahan sendiri?
Pertanyaan-pertanyaan semacam itu mungkin terasa tidak nyaman. Namun, justru dari ketidaknyamanan itulah perbaikan diri bisa dimulai.
Jangan sampai kesalehan membuat kita kehilangan kerendahan hati. Jangan sampai banyaknya ibadah membuat kita merasa memiliki tiket untuk merendahkan orang lain. Jangan sampai pengetahuan agama membuat kita lebih cepat menunjuk daripada bercermin.
Sebab, dosa yang dilakukan orang lain adalah urusan yang harus ia pertanggungjawabkan kepada Allah. Sementara dosa kita sendiri adalah sesuatu yang kelak juga akan kita pertanggungjawabkan.
Maka, daripada sibuk menghitung dosa orang lain, lebih baik kita menghitung kekurangan diri sendiri.
Sudahkah salat kita membuat hati lebih lembut? Sudahkah ilmu membuat kita semakin rendah hati? Sudahkah zikir membuat kita lebih mampu menjaga lisan? Sudahkah kita meminta maaf kepada orang yang pernah kita sakiti?
Pertanyaan-pertanyaan itu jauh lebih penting daripada mengetahui berapa banyak kesalahan orang lain. Pada akhirnya, tidak ada seorang pun yang bisa memastikan bagaimana akhir perjalanan hidupnya.
Hari ini kita mungkin sedang berada dalam kebaikan. Besok kita tidak tahu. Hari ini seseorang mungkin sedang tersesat, tetapi besok bisa saja ia menemukan jalan pulang. Maka, jangan merasa diri paling suci.
Jika melihat orang lain jatuh, doakan agar ia bangkit. Jika mengetahui seseorang berbuat salah, nasihati dengan cara yang membuatnya mampu memperbaiki diri, bukan dengan cara yang membuatnya semakin jauh. Dan jika kita melihat kebaikan pada diri sendiri, bersyukurlah tanpa merasa lebih tinggi.
Sebab yang kita perlukan bukan pengakuan bahwa kita lebih baik daripada orang lain. Yang kita perlukan adalah rahmat Allah agar tetap baik sampai akhir.
Mari memperbanyak istighfar. Memperbaiki amal. Menjaga lisan. Membersihkan hati. Dan terus memohon agar Allah tidak membiarkan hati kita berpaling setelah diberi petunjuk.
Allahumma shalli ‘ala sayyidina Muhammad wa ‘ala ali sayyidina Muhammad.
Ya Allah, Ya Rabb, Ya Rahman, Ya Rahim, ampunilah salah dan dosa kami. Jadikanlah kami hamba yang istiqamah menjalankan perintah-Mu dan menjauhi larangan-Mu. Tetapkanlah hati kami dalam iman dan Islam. Limpahkan kepada kami kesehatan, hidayah, rahmat, dan perlindungan-Mu di dunia dan di akhirat.
Ya Allah, berilah kami ilmu yang bermanfaat, rezeki yang berkah, dan amal yang Engkau terima. Ya Allah, terimalah dan kabulkanlah doa-doa kami. Rabbana atina fid-dunya hasanah, wa fil-akhirati hasanah, wa qina ‘adzaban nar. Aamiin. (*)





0 Tanggapan
Empty Comments