Iklan SDM 4 Mudipat 2026

Dari Satu Informasi Menjadi Banyak Konten, Belajar Mengolah Artikel untuk Media Sosial

Iklan Smamda Sidoarjo 2026
Dari Satu Informasi Menjadi Banyak Konten, Belajar Mengolah Artikel untuk Media Sosial
Hanif Indhie Pratama menjelaskan pentingnya memahami audiens dan menentukan sudut pandang dalam sesi “Dari Satu Informasi, Jadi Banyak Konten” (Farah/PWMU.CO)
pwmu.co -

Satu artikel dapat dikembangkan menjadi beragam konten media sosial. Kuncinya bukan sekadar menemukan informasi baru, melainkan memahami isu, menentukan sudut pandang, dan mengemas pesan agar relevan bagi audiens.

Hal ini menjadi fokus sesi “Dari Satu Informasi, Jadi Banyak Konten” bersama Hanif Indhie Pratama dalam pelatihan media FRAME. CREATE. SPEAK “See It. Create It. Say It” yang diselenggarakan Eco Bhinneka Muhammadiyah di Aula Lantai 6 Kantor PP Muhammadiyah, Jakarta, pada Selasa (20/10/2026).

Hanif, Social Media Specialist di Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah, membagikan pengalamannya mengolah artikel berita dan tulisan ilmiah menjadi konten Instagram maupun TikTok. Berbekal pengalaman bekerja di sebuah agensi di Yogyakarta, ia mengajak peserta melihat informasi dari berbagai sudut pandang sebelum menentukan bentuk konten yang sesuai.

Salah satu pertanyaan yang mengawali proses kreatif adalah, “Konten apa yang membuat kita berhenti menggulir layar?”

Menurut Hanif, jawabannya bisa berbeda bagi setiap orang. Algoritma media sosial membentuk pengalaman pengguna berdasarkan preferensi masing-masing. Bahkan, dua akun Instagram milik orang yang sama dapat menampilkan rekomendasi konten yang berbeda.

“Pembuat konten perlu memahami siapa audiensnya dan apa yang penting bagi mereka. Satu informasi bisa dikembangkan menjadi berbagai konten dengan sudut pandang yang berbeda. Karena itu, kita perlu memahami apa yang terjadi, siapa yang terdampak, dan apa artinya bagi audiens,” jelas Hanif.

Ia mencontohkan, konten tentang memancing tidak harus berhenti pada rekomendasi lokasi atau peralatan. Pembuat konten perlu menggali hal-hal yang benar-benar menarik dan penting bagi komunitas pemancing. Begitu pula dalam menyampaikan informasi tentang revitalisasi sekolah, yang dapat diangkat melalui perubahan konkret yang dirasakan siswa, seperti tersedianya toilet yang sebelumnya tidak ada.

Dalam mengolah informasi, peserta diajak mencari sumber tepercaya, menentukan sudut pandang, membuat hook yang menarik perhatian, serta menyederhanakan pesan agar mudah dipahami melalui video atau carousel. Penggunaan bahasa yang akrab bagi audiens juga penting, termasuk menghindari singkatan atau istilah yang tidak mereka pahami.

Dari Artikel ke Carousel

Materi dilanjutkan dengan praktik “Dari Artikel ke Carousel”. Sebanyak enam kelompok, masing-masing terdiri atas lima peserta, diminta mencari artikel tentang kebakaran hutan dan lahan (karhutla) dengan konteks lokal. Peserta kemudian berlatih menyusun naskah carousel sepanjang tiga hingga lima halaman, mendesainnya menggunakan aplikasi yang familiar, lalu mengunggah hasilnya ke Instagram dengan menandai dan mengundang kolaborasi akun @ecobhinneka.

Iklan SMPM 5 Surabaya 2026

Bagi Syam, perwakilan Hizbul Wathan (HW), pelatihan ini menjadi pengalaman edukatif yang menarik. Sementara itu, Nisa, perwakilan Majelis Pembinaan Kesejahteraan Sosial (MPKS), menilai materi yang diberikan relevan dengan kebutuhan pengelolaan media sosial, khususnya saat menjalankan kampanye.

“Materi seperti ini sangat dibutuhkan, terutama ketika ada kampanye. Saya jadi lebih memahami proses membuat konten, mulai dari menyusun artikel, membuat ringkasan, hingga mendesainnya agar menarik untuk dibagikan,” ungkap Nisa.

Sesi ini dipandu oleh Sukowati Utami, Editor in Chief Hukamanews.com sekaligus Konsultan Media Program 1000 Cahaya Eco Bhinneka Muhammadiyah. Ia menekankan bahwa pemahaman terhadap isu tetap menjadi tanggung jawab pembuat konten, meskipun teknologi kecerdasan buatan dapat membantu proses produksi.

“AI dapat membantu proses produksi konten, tetapi pemahaman terhadap isu tidak bisa sepenuhnya diserahkan kepada teknologi. Kreator tetap perlu memahami isu yang diangkat, menentukan pesan yang ingin disampaikan, dan menghadirkan perspektifnya sendiri. Di situlah ruh sebuah konten,” ujar Sukowati.

Pelatihan media FRAME. CREATE. SPEAK yang berlangsung pada 20–21 Oktober 2026 ini merupakan bagian dari program SMILE (Strengthening Youth Multifaith Leader Initiative on Climate Justice through Ecofeminism), yang dijalankan Eco Bhinneka Muhammadiyah untuk memperkuat kapasitas pengelolaan media dan komunikasi di lingkungan Persyarikatan Muhammadiyah.

Kegiatan ini diikuti 40 peserta, terdiri atas 34 peserta luring dan enam peserta daring melalui Zoom. Peserta berasal dari majelis, lembaga, organisasi otonom Muhammadiyah, Himpunan Difabel Muhammadiyah, serta pengelola program Eco Bhinneka Muhammadiyah di tingkat nasional dan berbagai region.

Melalui sesi ini, peserta diharapkan semakin terampil mengolah informasi menjadi konten yang menarik dan bermakna, dengan memperhatikan pemahaman isu, kebutuhan audiens, dan kreativitas dalam menyampaikan pesan. (*)

Revisi Oleh:
  • Amanat Solikah - 20/10/2026 20:17
SD Kreatif
Adv UMSURA

0 Tanggapan

Empty Comments

Search
Menu