Iklan SDM 4 Mudipat 2026

Bukan Sekadar Viral, Bayu Firdaus Dorong Media Sosial Lazismu Jadi Penggerak Kebaikan

Iklan Smamda Sidoarjo 2026
Bukan Sekadar Viral, Bayu Firdaus Dorong Media Sosial Lazismu Jadi Penggerak Kebaikan
Bukan Sekadar Viral, Bayu Firdaus Dorong Media Sosial Lazismu Jadi Penggerak Kebaikan. (Darwis/PWMU.CO)
pwmu.co -

Di tengah derasnya arus informasi digital, tantangan pegiat media sosial bukan lagi sekadar membuat konten agar dilihat banyak orang. Tantangan sesungguhnya adalah bagaimana mengubah perhatian menjadi kepedulian, membangun kepercayaan, dan menggerakkan masyarakat untuk mengambil bagian dalam kebaikan

Pesan tersebut menjadi salah satu gagasan utama yang disampaikan Bayu Firdaus dalam kegiatan Kopdar Media dan Workshop Jurnalistik Filantropi Lazismu Jawa Timur, Selasa (20/10/2026), di Kedai Kopi Limasan, Candi, Sidoarjo. Kegiatan yang berlangsung pukul 08.00–15.00 WIB ini diikuti sekitar 40 peserta dari perwakilan Kantor Layanan Lazismu kabupaten dan kota di Jawa Timur.

Bayu dihadirkan bukan semata-mata untuk berbicara tentang tren digital, melainkan untuk berbagi pengalaman praktis mengelola media sosial berbasis pelayanan dan kegiatan sosial kemasjidan. Sebagai marbot Masjid Ar-Royyan Muhammadiyah Buduran, yang dikenal luas melalui program Masjid Ramah Musafir, Bayu bersama tim media mengembangkan pendekatan konten yang mengangkat cerita kemanusiaan, pelayanan kepada musafir, dan berbagai kegiatan sosial masjid.

Pendekatan tersebut menghasilkan sejumlah konten yang menjangkau audiens dalam jumlah besar, bahkan mencapai jutaan penayangan. Pengelolaan media sosial itu juga diarahkan untuk memperluas jangkauan program dan mendorong partisipasi masyarakat, termasuk melalui infak untuk kegiatan sosial kemasjidan.

Pengalaman inilah yang menjadi relevansi penting bagi tim media Lazismu: bagaimana cerita tentang kebaikan tidak berhenti sebagai dokumentasi, tetapi dapat mengundang keterlibatan publik.

Rekam jejak Bayu bersama timnya juga tercermin dalam capaian di tingkat nasional. Dalam kurun sekitar satu tahun pengelolaan media sosial Masjid Ramah Musafir, tim tersebut berhasil meraih penghargaan dalam ajang lomba konten **LPCRPM Award 2025**, yang diselenggarakan LPCR PM Pimpinan Pusat Muhammadiyah di Banjarmasin. Dalam periode yang sama, akun media sosial masjid juga berhasil membangun basis audiens hingga puluhan ribu pengikut.

Capaian tersebut memperlihatkan bahwa pengelolaan media sosial berbasis komunitas dapat berkembang ketika memiliki arah komunikasi yang jelas, konsistensi produksi, dan kedekatan dengan kebutuhan masyarakat. Bagi Bayu, kreativitas digital bukan semata-mata urusan visual yang menarik, tetapi juga kemampuan menemukan cerita yang relevan, menyampaikan pesan secara tepat, dan menghubungkan audiens dengan manfaat nyata sebuah program.

Dalam materinya bertajuk Content That Moves People: Strategi Storytelling, Creative Content, dan Digital Fundraising, Bayu menekankan pentingnya transformasi strategi komunikasi digital lembaga filantropi.

Menurutnya, konten tidak cukup hanya menampilkan kegiatan penyaluran bantuan atau angka capaian program. Konten harus mampu menghadirkan cerita manusiawi, menjelaskan persoalan yang dihadapi masyarakat, serta menunjukkan dampak yang dapat dipertanggungjawabkan.

“Lembaga filantropi tidak cukup hanya hadir di media sosial untuk melaporkan kegiatan dan menampilkan jumlah bantuan yang telah disalurkan. Konten harus mampu menghadirkan cerita yang manusiawi, membangun empati, serta menunjukkan dampak nyata dari setiap program. Tantangannya bukan sekadar bagaimana membuat konten dilihat banyak orang, tetapi bagaimana mengubah perhatian publik menjadi kepercayaan dan partisipasi dalam gerakan kebaikan,” ujar Bayu.

Ia juga mengingatkan bahwa tingginya jumlah unggahan, pengikut, maupun penayangan bukan satu-satunya ukuran keberhasilan komunikasi digital. Konten perlu dirancang agar audiens memahami program, percaya pada lembaga, dan mengetahui langkah konkret untuk berpartisipasi. Karena itu, storytelling perlu berjalan beriringan dengan transparansi, validitas informasi, dan kemudahan akses terhadap kanal layanan maupun donasi resmi.

Iklan SMPM 5 Surabaya 2026

Diskusi berlangsung dinamis ketika peserta menyampaikan berbagai tantangan yang mereka hadapi dalam mengelola media sosial Lazismu di daerah. Anggun, peserta dari Pasuruan, menceritakan bahwa sejumlah ide konten kerap tidak dapat dieksekusi karena perbedaan sudut pandang di dalam tim.

Sementara itu, Safi’ dari Lamongan menyoroti persoalan berbeda: banyaknya ide justru membuat tim terlalu lama berdiskusi, sehingga gagasan yang muncul tidak kunjung diwujudkan menjadi konten.

Pengalaman tersebut menunjukkan bahwa tantangan pengelolaan media sosial tidak hanya berkaitan dengan keterampilan teknis, tetapi juga menyangkut koordinasi, pengambilan keputusan, dan konsistensi eksekusi. Tim membutuhkan kesepakatan arah komunikasi, pembagian peran, prioritas produksi, serta evaluasi berkala agar kreativitas tidak berhenti pada diskusi.

Menanggapi hal tersebut, Bayu mendorong tim media untuk menentukan tujuan yang jelas bagi setiap konten, menyederhanakan alur kerja, dan berani menguji gagasan melalui produksi nyata. Menurutnya, konten yang telah dipublikasikan dan dievaluasi akan memberikan pelajaran yang lebih konkret daripada ide yang terus dibahas tanpa realisasi.

“Keberhasilan komunikasi digital lembaga filantropi tidak semata-mata ditentukan oleh banyaknya unggahan atau jumlah pengikut, melainkan oleh seberapa jauh pesan yang disampaikan mampu menggerakkan masyarakat untuk terlibat dalam kebaikan. Lazismu perlu memadukan kredibilitas kelembagaan dengan pendekatan komunikasi yang hangat, solutif, dan dekat dengan kehidupan masyarakat,” tegasnya.

Meski cuaca terik menyengat sepanjang kegiatan, peserta tetap menunjukkan antusiasme dalam mengikuti materi dan diskusi. Kedekatan generasi muda dengan media sosial menjadi modal yang potensial, tetapi perlu diimbangi dengan strategi komunikasi, pemahaman audiens, kepekaan sosial, serta tanggung jawab dalam menyampaikan informasi.

Di tengah ruang digital yang dipenuhi beragam informasi, termasuk konten negatif dan kurang bermanfaat, Bayu menilai para pegiat media memiliki tanggung jawab untuk memperbanyak konten yang menghadirkan harapan, menumbuhkan empati, dan mendorong kepedulian. Konten kebaikan perlu diproduksi secara kreatif dan konsisten agar pesan positif tidak sekadar hadir, tetapi juga mampu menjangkau dan menggerakkan masyarakat.

Melalui kegiatan tersebut, pengalaman pengelolaan media sosial Masjid Ramah Musafir menjadi salah satu contoh praktik yang dapat dipelajari dan dikembangkan sesuai kebutuhan lembaga filantropi. Bagi Bayu Firdaus, tujuan akhirnya bukan sekadar menjadikan sebuah akun populer, melainkan membangun komunikasi digital yang dapat dipercaya dan memberi manfaat.

Sebab, di era ketika perhatian menjadi sesuatu yang diperebutkan, nilai sebuah konten tidak hanya terletak pada seberapa banyak orang yang melihatnya, tetapi juga pada seberapa jauh konten itu mampu menggerakkan kebaikan nyata. (*)

Revisi Oleh:
  • Agus Wahyudi - 21/10/2026 02:20
  • Nadjib Hamid - 20/10/2026 19:45
SD Kreatif
Adv UMSURA

0 Tanggapan

Empty Comments

Search
Menu