Ada kalanya sebuah nasihat datang bukan dari mimbar masjid. Bukan pula dari buku atau ceramah. Ia bisa datang dari tulisan sederhana di belakang bak truk.
Kemarin, saat berkendara di jalan, perhatian saya tiba-tiba tertuju pada sebuah kalimat yang tertulis di belakang bak truk:
“Jangan tinggalkan Allah, Pemberi rezeki, karena alasan mencari rezeki.”
Saya membacanya sekali. Lalu membacanya lagi.
Kalimat itu sederhana. Tetapi seperti mengetuk sesuatu yang sering kita lupakan.
Kita sering merasa harus mengejar pekerjaan. Mengejar target. Mengejar pelanggan. Mengejar penghasilan. Mengejar kesuksesan.
Saking sibuknya mengejar rezeki, terkadang kita justru meninggalkan Dia yang memberikan rezeki.
Salat pun ditunda.
“Sebentar lagi.”
“Masih ada pekerjaan.”
“Setelah ini saja.”
Padahal, boleh jadi justru di situlah letak persoalannya.
Salat bukan sekadar kewajiban yang harus ditunaikan. Salat juga latihan terbaik untuk mendisiplinkan diri.
Orang yang mampu mengatur salatnya, sesungguhnya sedang belajar mengatur hidupnya.
Lima kali sehari Allah memanggil kita untuk berhenti sejenak dari kesibukan. Meninggalkan pekerjaan. Meletakkan urusan dunia. Kemudian menghadap-Nya.
Di situlah kita belajar bahwa tidak semua yang kita kejar harus selalu didahulukan.
Ada saatnya berhenti. Ada saatnya menunduk. Ada saatnya mengingat bahwa hidup ini bukan hanya tentang apa yang sedang kita kerjakan, tetapi juga kepada siapa kelak semua pekerjaan itu dipertanggungjawabkan.
Orang yang terbiasa menjaga salat tepat waktu akan belajar menjaga amanah. Ia belajar mengatur pekerjaan. Ia belajar menahan hawa nafsu. Ia belajar menempatkan sesuatu sesuai waktunya.
Salat mengajarkan keteraturan. Subuh datang ketika sebagian manusia masih terlelap. Zuhur hadir ketika pekerjaan sedang padat-padatnya. Asar datang ketika aktivitas belum selesai.
Maghrib tiba ketika hari mulai berganti malam. Isya menutup rangkaian kesibukan hari itu. Lima kali sehari kita diingatkan bahwa hidup memiliki jeda.
Dan dalam jeda itulah manusia sering menemukan kembali arah.
Kesuksesan sejati bukan hanya tentang banyaknya rezeki. Bukan pula semata-mata tingginya jabatan, luasnya usaha, atau panjangnya daftar pencapaian.
Ada keberhasilan yang lebih dalam: ketika seseorang tetap mengingat Allah di tengah kesibukannya mencari penghidupan.
Sebab rezeki tidak hanya datang melalui kerja keras. Ada kehendak Allah di balik setiap pintu yang terbuka, setiap kesempatan yang datang, dan setiap kecukupan yang kita rasakan.
Karena itu, jangan sampai kesibukan mencari rezeki membuat kita meninggalkan Pemberi rezeki.
Jangan sampai pekerjaan yang kita lakukan untuk kehidupan justru membuat kita lupa kepada tujuan kehidupan.
Perbaiki salat. Bukan hanya gerakannya. Tetapi juga waktunya. Kesungguhannya. Kekhusyukannya. Dan pengaruhnya terhadap kehidupan setelah kita mengucapkan salam.
Sebab ketika salat mulai tertata, perlahan hidup pun belajar tertata. Hati lebih tenang. Langkah lebih terarah.
Dan yang paling penting, kita tidak hanya berharap kehidupan dunia menjadi lebih baik, tetapi juga berharap perjalanan menuju akhirat berakhir dalam keberuntungan.
Perbaiki salatmu. Semoga Allah memperbaiki hidupmu dan mengaruniakan keberuntungan di akhiratmu. (*)





0 Tanggapan
Empty Comments