Sebanyak 600 murid dan 30 guru SMP Muhammadiyah 8 Batu mengikuti shalat istisqa’ bertema “Doa Santri untuk Negeri” pada Kamis (22/10/2026), pukul 07.00 WIB, di Lapangan Mudeba. Kegiatan ini menjadi ikhtiar spiritual untuk memohon kepada Allah Swt. agar menurunkan hujan yang membawa rahmat, keberkahan, dan manfaat bagi seluruh makhluk.
Pelaksanaan shalat istisqa’ tersebut merupakan tindak lanjut atas maklumat Pimpinan Pusat Muhammadiyah melalui Majelis Tarjih dan Tajdid serta surat edaran Pemerintah Provinsi Jawa Timur. Kegiatan ini juga menjadi momentum untuk memperkuat keimanan, memperbanyak istigfar, melakukan muhasabah, dan meningkatkan kepedulian terhadap lingkungan di tengah kondisi kemarau dan kekeringan.
Shalat istisqa’ merupakan ibadah yang dilaksanakan untuk memohon turunnya hujan ketika terjadi kemarau. Melalui ibadah berjamaah ini, seluruh warga sekolah diajak menyadari keterbatasan manusia serta pentingnya memohon pertolongan Allah Swt. dengan penuh kerendahan hati, keikhlasan, dan harapan.
Bertindak sebagai imam adalah Ustaz Muhammad Zeydan, S.Sos., pengajar tahfiz SMP Muhammadiyah 8 Batu. Sementara itu, khotbah disampaikan oleh Ustaz Abdul Choliq, S.Pd., Wakil Ketua Pimpinan Daerah Muhammadiyah (PDM) Kota Batu Bidang Kaderisasi.
Merenungi Kebesaran Allah melalui Surah Qaf dan Ar-Rahman
Dalam pelaksanaan shalat, imam membaca Surah Qaf pada rakaat pertama dan Surah Ar-Rahman pada rakaat kedua. Kedua surah tersebut mengingatkan jamaah akan kebesaran Allah Swt., kekuasaan-Nya atas alam semesta, serta beragam nikmat yang dianugerahkan kepada manusia dan seluruh makhluk.
Surah Qaf mengajak manusia merenungkan kekuasaan Allah Swt. dalam penciptaan langit dan bumi, termasuk kemampuan-Nya menghidupkan kembali bumi yang mati. Pesan ini selaras dengan ikhtiar memohon hujan yang diharapkan mampu membasahi tanah kering, menyuburkan tumbuhan, dan menopang kehidupan.
Sementara itu, Surah Ar-Rahman mengingatkan manusia akan luasnya kasih sayang dan nikmat Allah Swt., termasuk air, tumbuh-tumbuhan, dan berbagai sumber kehidupan. Pengulangan ayat “Fabiayyi ālā’i Rabbikumā tukadzdzibān” yang berarti “Maka nikmat Tuhan kamu yang manakah yang kamu dustakan?” menjadi pengingat untuk memperbanyak rasa syukur, melakukan introspeksi diri, dan menyadari ketergantungan seluruh makhluk kepada Sang Pencipta.
Pesan kedua surah tersebut memperkuat makna shalat istisqa’ sebagai momentum untuk memohon hujan sekaligus memperbaiki hubungan dengan Allah Swt. Jamaah diajak tidak hanya berharap turunnya hujan, tetapi juga mensyukuri nikmat yang tersedia dan meningkatkan tanggung jawab dalam menjaga kelestarian alam.
Menanamkan Keimanan dan Kepedulian Lingkungan
Melalui kegiatan ini, SMP Muhammadiyah 8 Batu berupaya menumbuhkan tiga nilai penting. Pertama, ikhtiar spiritual, yakni memohon pertolongan Allah Swt. agar menurunkan hujan yang membawa keberkahan bagi negeri.
Kedua, kepedulian terhadap lingkungan, yaitu memperkuat kesadaran untuk menjaga alam sebagai amanah dari Allah Swt. Ketiga, kebersamaan, yakni menjadikan ibadah sebagai momentum untuk menyatukan doa, menumbuhkan rasa syukur, dan meningkatkan keimanan.
Doa yang dipanjatkan juga mengandung harapan agar hujan yang turun membawa manfaat, bukan mendatangkan bahaya. Harapan ini mencerminkan pentingnya memohon rahmat Allah Swt. sekaligus menyadari bahwa keseimbangan alam dan keberlangsungan kehidupan merupakan nikmat yang harus dijaga bersama.
Seluruh peserta mengikuti kegiatan dengan tertib dan khusyuk. Pelaksanaan shalat istisqa’ di Lapangan Mudeba ini menjadi bagian dari pembelajaran nyata yang mengintegrasikan nilai-nilai keislaman dengan pendidikan karakter.
Bagi SMP Muhammadiyah 8 Batu, shalat istisqa’ bukan sekadar pelaksanaan ibadah, melainkan juga sarana pendidikan untuk menanamkan keimanan, kerendahan hati, rasa syukur, kepedulian sosial, dan tanggung jawab terhadap lingkungan. Murid diajak memahami bahwa doa perlu berjalan beriringan dengan ikhtiar dan tindakan nyata dalam menjaga alam.
Melalui tema “Doa Santri untuk Negeri”, keluarga besar SMP Muhammadiyah 8 Batu berharap dapat membentuk generasi yang tidak hanya kuat dalam keimanan, tetapi juga memiliki kepedulian terhadap sesama dan lingkungan. Kebersamaan dalam doa menjadi pengingat bahwa menghadapi berbagai tantangan membutuhkan keteguhan spiritual, kesadaran diri, dan semangat gotong royong. (*)






0 Tanggapan
Empty Comments