Satu lembar kertas berada di tangan masing-masing peserta. Di atasnya, mereka diminta menuliskan satu sifat buruk yang ingin ditinggalkan.
Tidak ada nama yang perlu dicantumkan. Tidak perlu dibacakan di depan teman-teman. Satu hal yang ditulis itu cukup menjadi percakapan pribadi antara seseorang dengan dirinya sendiri.
Namun, beberapa menit kemudian, seluruh kertas itu akan menghadapi hal yang sama yaitu “api”.
Kamis (17/9/2026), pukul 13.15–14.15 WIB, peserta LDKS PR IPM SMA Muhammadiyah 8 (Smamdela) Gresik periode 2026–2027 mengikuti materi “Kepemimpinan ala Mbah Dahlan”.
Materi tersebut disampaikan oleh Lukman Arif SPdI di Villa Al Husna, Pacet, Mojokerto.
Kenali Kepemimpinan Ahmad Dahlan
Materi tersebut membawa peserta mengenal sosok KH Ahmad Dahlan, pendiri Muhammadiyah, bukan hanya sebagai tokoh sejarah. Tetapi sebagai figur yang berani berpikir dan mengambil langkah pembaruan pada zamannya.
Pada masa itu, sejumlah gagasan dan praktik yang diperkenalkan Ahmad Dahlan tidak selalu mudah diterima. Ia menghadapi penolakan dan tuduhan dari sebagian kalangan ketika memperkenalkan cara-cara baru dalam pendidikan dan kehidupan keagamaan.
Di antara pembaruan yang dikenang adalah pendidikan di langgar yang menggunakan pendekatan pembelajaran seperti sekolah modern, termasuk penggunaan bangku dan kursi.
Ia juga mengajarkan ilmu pengetahuan dan membuka ruang bagi metode pendidikan yang saat itu dianggap berbeda dari tradisi yang telah berjalan.
Dalam kegiatan pembelajarannya, Ahmad Dahlan bahkan memperkenalkan biola kepada murid-muridnya. Alat musik yang pada masa kolonial lekat dengan lingkungan masyarakat Eropa itu digunakan dalam konteks pendidikan dan pengembangan diri.
Dalam urusan ibadah, Ahmad Dahlan juga dikenal berani mengoreksi arah kiblat Masjid Besar Kauman berdasarkan perhitungan ilmu falak. Gagasan tersebut memunculkan perdebatan dan penolakan dari sebagian masyarakat pada zamannya.
Di tengah situasi seperti itulah, keberanian untuk berpikir menjadi bagian penting dari teladan kepemimpinan yang dibahas dalam materi.
Peserta kemudian diajak membawa semangat tersebut ke dalam dirinya sendiri.
Jika Ahmad Dahlan berani menghadapi kebiasaan dan pandangan yang menurutnya perlu diperbaiki, para peserta diajak melihat sesuatu yang lebih dekat tentang “apa yang ada dalam diri mereka sendiri yang perlu diperbaiki?”
Jawabannya dituangkan dalam selembar kertas. “Satu sifat buruk”.
Setelah semua peserta selesai menulis, kertas-kertas tersebut dikumpulkan dan dibakar bersama. Api perlahan menghabiskan tulisan yang sebelumnya masih terbaca. Sifat-sifat yang ingin ditinggalkan seolah ikut dilepaskan dalam kepulan asap.
Lepas Kekurangan
Bagi Geo Evradana, peserta kelas X, pengalaman tersebut terasa lebih dari sekadar aktivitas dalam sebuah materi.
“Rasanya sifat itu juga ikut lenyap ketika kertas yang kami tulis dibakar” ujar Geo.
Kalimat itu sederhana, tetapi menggambarkan pengalaman reflektif yang ingin dibangun melalui aktivitas tersebut. Ada sesuatu yang mereka akui sebagai kekurangan, kemudian secara simbolis mereka lepaskan bersama-sama.
Dari kisah Ahmad Dahlan, peserta diajak melihat bahwa kepemimpinan tidak selalu dimulai dengan berdiri di depan banyak orang.
Kadang, ia dimulai dari keberanian untuk mempertanyakan sesuatu, mengakui kekurangan, dan mengambil keputusan untuk berubah.
Satu per satu kertas akhirnya berubah menjadi abu.
Namun, seperti pesan yang dibawa dari kisah Mbah Dahlan, perubahan tidak berhenti ketika api padam. Tantangan sesungguhnya justru dimulai setelahnya: apakah sifat yang telah dituliskan dan dibakar itu benar-benar akan ditinggalkan dalam kehidupan sehari-hari?
Karena kepemimpinan, pada akhirnya, bukan hanya keberanian mengubah keadaan di luar diri. Ia juga membutuhkan keberanian untuk mengubah diri sendiri.





0 Tanggapan
Empty Comments