Iklan Mudipat Landscape
Iklan Mudipat Mobile

Warisan yang Tidak Bisa Dibawa ke Bank

Iklan Landscape Smamda
Warisan yang Tidak Bisa Dibawa ke Bank
Ilustrasi: OpenAI
Oleh : Ferry Is Mirza Jurnalis Senior dan Aktivis Muhammadiyah

Seorang ayah pernah berkata kepada anaknya, “Ayah sudah menyiapkan rumah untukmu. Tanah juga ada. Kalau suatu hari Ayah tidak ada, kamu tidak perlu bingung.”

Anaknya mengangguk.

Ia tahu ayahnya bekerja keras. Bertahun-tahun. Menabung sedikit demi sedikit. Membeli sebidang tanah. Membangun rumah. Menyiapkan tabungan pendidikan. Bahkan diam-diam sudah memikirkan apa yang kelak menjadi bagian anak-anaknya.

Semua dipersiapkan. Hanya ada satu hal yang mungkin luput dari pikirannya.

Apakah ia juga sudah menyiapkan iman untuk anaknya?

Pertanyaan itu terasa sederhana. Tetapi jawabannya bisa jauh lebih panjang daripada daftar harta yang ditinggalkan.

Sebab setelah orang tua meninggal, rumah akan tetap berdiri. Tanah masih tercatat atas nama seseorang. Uang bisa berpindah tangan. Kendaraan bisa berganti pemilik.

Tetapi semua itu tidak serta-merta menjadi bekal bagi orang tua di alam akhirat.

Yang dibutuhkan justru sesuatu yang tidak bisa diwariskan melalui sertifikat. Iman.

Banyak orang tua sibuk memikirkan masa depan anak. Mereka khawatir anaknya tidak memiliki rumah. Khawatir tidak punya pekerjaan. Khawatir tidak mampu kuliah. Khawatir kelak hidup kekurangan.

Kekhawatiran itu wajar. Karena itu, mereka bekerja sejak pagi. Menabung. Membeli asuransi. Menyiapkan pendidikan. Bahkan kadang rela menunda kesenangan sendiri demi memastikan anak-anaknya memiliki kehidupan yang lebih baik.

Namun ada pertanyaan yang sesekali perlu diajukan kepada diri sendiri: Bagaimana jika anak memiliki rumah, tetapi tidak memiliki arah hidup? Bagaimana jika ia memiliki gelar, tetapi tidak mengenal Tuhannya?

Bagaimana jika ia memiliki banyak uang, tetapi tidak terbiasa salat? Bagaimana jika ia mewarisi usaha orang tua, tetapi tidak mewarisi iman dan akhlaknya? Di sinilah makna keberhasilan orang tua menjadi lebih luas.

Anak bukan sekadar penerus nama keluarga. Bukan hanya penerima harta. Bukan pula sekadar seseorang yang kelak merawat rumah dan usaha yang ditinggalkan. Anak adalah bagian dari perjalanan amal orang tua.

Rasulullah saw bersabda: “Bukanlah orang mandul itu yang tidak memiliki anak. Akan tetapi, orang mandul adalah orang yang memiliki anak namun tidak ada manfaat dari anaknya setelah ia meninggal.” (HR Muslim No. 2608)

Hadis ini mengajak kita melihat anak dari sisi yang berbeda. Memiliki anak bukan otomatis menjadi keberhasilan. Yang lebih penting adalah apa yang tumbuh dalam diri anak itu.

Seorang anak yang saleh dapat menjadi jalan terus mengalirnya kebaikan bagi orang tua. Doanya menjadi sesuatu yang dinantikan. Istighfarnya menjadi hadiah bagi orang tua yang telah lebih dahulu meninggalkan dunia.

Ketika seorang ayah atau ibu telah berada di dalam kubur, mereka tidak lagi bisa mengajari anak membaca Al-Qur’an.

Tidak bisa lagi mengingatkan, “Nak, sudah salat?”

Tidak bisa lagi menegur ketika anak berbuat salah. Tidak bisa lagi menggandeng tangan anak menuju masjid. Yang tersisa adalah apa yang dahulu mereka tanam.

Karena itu, pendidikan iman tidak seharusnya menjadi pekerjaan sampingan orang tua.

Ada seorang ibu yang setiap malam selalu mengingatkan anaknya salat sebelum tidur.

Anaknya kadang merasa terganggu.

“Sebentar, Bu.”

“Nanti saja.”

“Masih ada yang dikerjakan.”

Kalimat itu berulang hampir setiap hari. Sampai suatu ketika sang ibu meninggal.

SMPM 5 Pucang SBY

Rumah mendadak terasa berbeda. Tidak ada lagi suara dari kamar yang mengingatkan salat. Tidak ada lagi ketukan pintu. Tidak ada lagi pesan pendek yang sederhana, tetapi dahulu terasa biasa saja.

Beberapa hari setelah pemakaman, anak itu berdiri sendiri di tempat wudu.  Ia teringat ibunya. Bukan rumah yang dibangun ibunya yang pertama kali ia ingat. Bukan pula uang yang pernah diberikan.

Ia justru teringat suara yang dulu sering dianggap mengganggu itu.

“Sudah salat?”

Kalimat pendek. Tetapi bertahun-tahun kemudian, kalimat itu justru menjadi warisan yang paling mahal.

Begitulah iman. Ia tidak selalu diwariskan melalui ceramah panjang. Kadang melalui teladan. Melalui ayah yang berhenti bekerja ketika azan berkumandang.

Melalui ibu yang membuka Al-Qur’an setelah salat. Melalui orang tua yang meminta maaf ketika berbuat salah.

Melalui keluarga yang membiasakan anak mengucapkan basmalah sebelum makan dan bersyukur setelah menerima nikmat.

Anak-anak mungkin lupa banyak nasihat. Tetapi mereka sering mengingat apa yang setiap hari mereka lihat.

Karena itu, mendidik anak bukan hanya memasukkan pengetahuan agama ke dalam kepala mereka. Lebih dari itu, menanamkan iman ke dalam kehidupan mereka.

Allah berfirman: “Dan orang-orang yang beriman, dan anak cucu mereka mengikuti mereka dalam keimanan, Kami hubungkan anak cucu mereka dengan mereka.” (QS ath-Thur: 21)

Ayat ini memberikan harapan yang indah tentang keluarga orang beriman. Ada ikatan yang tidak berhenti ketika kehidupan dunia selesai.

Ikatan itu bukan semata-mata hubungan darah. Ia terhubung oleh iman. Maka jangan hanya sibuk meninggalkan rumah untuk anak. Tinggalkan juga kebiasaan salat. Jangan hanya meninggalkan tabungan.

Tinggalkan kecintaan kepada Al-Qur’an. Jangan hanya menyiapkan pendidikan agar mereka mendapatkan pekerjaan.

Ajarkan pula kepada mereka untuk mengenal Allah, menjaga amanah, menghormati sesama, dan hidup dengan akhlak yang baik.

Sebab rumah bisa dijual. Tanah bisa berpindah tangan. Uang bisa habis. Jabatan bisa berakhir. Nama bisa dilupakan.

Tetapi kebaikan seorang anak yang tumbuh dalam iman dapat menjadi bekal yang terus mengalir ketika orang tuanya sudah tidak mampu menambah satu amal pun. Mungkin itulah warisan yang sering terlupakan.

Kita terlalu sibuk bertanya, “Apa yang akan saya tinggalkan untuk anak-anak?”

Padahal ada pertanyaan yang lebih dalam:

“Anak seperti apa yang akan saya tinggalkan setelah saya tidak ada?”

Sebab pada akhirnya, ukuran warisan bukan hanya berapa banyak yang berpindah kepada anak. Tetapi juga apa yang tetap hidup melalui mereka.

Jika kelak anak berdiri dalam salat, mungkin di sana ada jejak pendidikan orang tuanya. Jika ia membuka Al-Qur’an, mungkin ada doa orang tua yang terus menemukan jalannya.

Jika ia menolong orang lain, mungkin ada kebaikan yang dahulu ditanamkan di rumah. Dan jika suatu hari ia menengadahkan tangan setelah orang tuanya tiada lalu berkata, “Ya Allah, ampunilah ayah dan ibuku,” barangkali itulah salah satu warisan paling berharga yang tidak pernah bisa dibeli dengan uang.

Karena harta hanya bisa menemani anak menjalani kehidupan. Tetapi imanlah yang menuntun mereka melewati kehidupan menuju kehidupan sesudahnya. (*)

Revisi Oleh:
  • Agus Wahyudi - 30/09/2026 12:29
SD Kreatif

Baca Lainnya

Adv UMSURA

0 Tanggapan

Empty Comments

Search
Menu