Pimpinan Wilayah Kerja (Wilker) IV Pimpinan Daerah ‘Aisyiyah (PDA) Kabupaten Lamongan memperkuat kapasitas kader dakwah melalui Pelatihan Muballighot.
Kegiatan tersebut berlangsung di Aula SMA Muhammadiyah 9 Sedayulawas, Kecamatan Brondong, Lamongan, Ahad (27/9/2026). Sebanyak kurang lebih 103 peserta mengikuti kegiatan yang menjadi bagian dari agenda penguatan kader ‘Aisyiyah di wilayah kerja tersebut.
Wilker IV meliputi enam cabang, yakni ‘Aisyiyah Cabang Solokuro, Laren, Brondong, Paciran, Pangkatrejo, dan Sekaran. Kegiatan ini merupakan hasil rapat bersama para Ketua Pimpinan Cabang ‘Aisyiyah (PCA) se-Wilker IV.
Wilker IV dikoordinatori Hj. Yuli Widiyati, S.Pd., M.M.Pd. dan Hj. Mardheyah, M.Pd., bersama Ketua Wilker IV Siti Mukholifah, S.Ag.
Perkuat Peran Muballighot
Pelatihan Muballighot dipandu langsung oleh Siti Mukholifah. Ia menekankan pentingnya peningkatan kapasitas kader agar mampu menjalankan peran strategis sebagai pilar dakwah ‘Aisyiyah.
Melalui pelatihan ini, para peserta diarahkan untuk mampu merumuskan strategi dakwah yang solutif, kreatif, dan berorientasi pada aksi nyata. Selain itu, kegiatan diharapkan memperkuat sinergi antar-enam cabang dalam mengembangkan dakwah Islam yang berkemajuan.
Materi utama disampaikan Dra. Hj. Mutholiah, M.Ag. Dalam pemaparannya, ia memberikan sejumlah penguatan yang berkaitan dengan kesiapan pribadi kader, kehidupan keluarga, kepedulian sosial, hingga strategi dakwah di tengah masyarakat.
Pokok pertama yang ditekankan adalah pengokohan diri dan akidah. Peserta diajak mempersiapkan diri menghadapi Ramadhan secara menyeluruh, baik dari sisi pemahaman, fisik, harta, maupun jiwa.
Selain itu, kader juga diingatkan untuk menjaga kemurnian akidah dengan berpegang pada Al-Qur’an dan As-Sunnah serta menjauhi taqlid, bid’ah, dan khurafat.
Pokok kedua berkaitan dengan akhlak dan kebiasaan hidup sehat. Keikhlasan dalam beramal menjadi salah satu landasan utama seorang muballighot. Peserta juga mendapatkan penguatan mengenai pola hidup sehat, menjaga diri dari berbagai kemaksiatan dan penyakit sosial, serta membiasakan dzikir pagi dan petang.
Dari Keluarga hingga Kepedulian Sosial
Mutholiah juga menekankan pentingnya penguatan keluarga dan kepedulian sosial. Menurutnya, pendidikan agama tidak hanya menjadi tanggung jawab lembaga pendidikan, tetapi juga harus dimulai dari lingkungan keluarga.
Kader ‘Aisyiyah didorong memiliki kepekaan terhadap persoalan sosial, antara lain melalui kepedulian kepada anak yatim dan masyarakat miskin. Sikap egoisme juga perlu dikikis agar kader mampu menempatkan kepentingan umat sebagai bagian dari perjuangan dakwah.
Selanjutnya, peserta mendapatkan penguatan tentang dakwah dan benteng umat. Islam perlu dijalankan secara kaffah, sementara dakwah harus dilakukan secara terorganisasi, berjamaah, dan istiqamah.
Para muballighot juga diingatkan agar memiliki kepedulian terhadap berbagai persoalan yang dapat memecah persatuan umat. Karena itu, dakwah tidak cukup hanya disampaikan melalui ceramah, tetapi perlu diwujudkan dalam gerakan yang nyata dan berkelanjutan.
Pokok terakhir adalah pedoman dan amalan utama. Peserta diajak menjadikan Al-Qur’an sebagai pedoman hidup, menjaga kebersihan, menghidupkan malam dengan qiyamullail dan i’tikaf, serta ikut mengambil peran dalam mengatasi kemiskinan dan kedzaliman melalui zakat, infak, dan sedekah.
Melalui Pelatihan Muballighot ini, kader ‘Aisyiyah diharapkan tidak berhenti pada peningkatan pemahaman keagamaan. Lebih dari itu, mereka mampu menerjemahkan nilai-nilai Islam dalam dakwah yang kreatif, solutif, dan memberikan manfaat nyata bagi masyarakat.
Kegiatan tersebut sekaligus menjadi ikhtiar Wilker IV dalam memperkuat kapasitas kader dan membangun sinergi enam cabang ‘Aisyiyah untuk menghadirkan dakwah Islam yang berkemajuan di tengah masyarakat. (*)





0 Tanggapan
Empty Comments