Iklan SDM 4 Mudipat 2026

Empat Tingkatan Hidayah dalam Kehidupan

Iklan Smamda Sidoarjo 2026
Empat Tingkatan Hidayah dalam Kehidupan
Foto: naseeha.org
BANNER RSI AISYIYAH MALANG

Hidayah sering dipahami sebagai petunjuk yang mengantarkan seseorang mengenal dan memeluk agama Islam. Padahal, hidayah memiliki makna yang lebih luas. Setiap muslim tetap menarik sepanjang hayat agar selalu berada di jalan kebenaran dan mampu menjalankan ketaatan kepada Allah SWT.

Pesan tersebut disampaikan dosen Kedokteran dan Ilmu Kesehatan (FKIK) Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY), Ustadz Miftahulhaq, SHI, MSI Fakultas, dalam khutbah Jumat di Masjid Ahmad Dahlan UMY, Jumat (6/11). Mengacu pada Tafsir At-Tanwir terbitan Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah, ia menguraikan hakikat hidayah serta empat tingkatan petunjuk yang dikaruniakan Allah kepada manusia.

Dalam penjelasannya, hidayah tidak hanya berarti petunjuk bagi seseorang yang belum mengenal Islam.

Lebih dari itu, hidayah merupakan bimbingan dan tutunan Allah agar manusia mampu membedakan kebenaran dan kebatilan, kebaikan dan keburukan, serta menentukan langkah yang tepat dalam menjalani kehidupan.

“Seorang muslim tidak boleh merasa cukup dengan hidayah yang telah diperolehnya. Petunjuk Allah perlu terus dimohonkan dan diperjuangkan melalui kesungguhan dalam beribadah serta berbuat kebaikan” ungkapnya.

Pesan tersebut sejalan dengan firman Allah dalam Surat Al-‘Ankabut ayat 69 yang menjelaskan bahwa orang-orang yang bersungguh-sungguh berjuang di jalan Allah akan diberikan petunjuk menuju jalan-jalan-Nya.

Ayat ini menegaskan bahwa usaha manusia dalam mencari keridaan Allah menjadi bagian penting dalam perjalanan memperoleh hidayah.

Mengacu pada Tafsir At-Tanwir, terdapat empat tingkatan hidayah yang perlu dipahami manusia. Keempatnya merupakan karunia Allah yang saling melengkapi dan membantu manusia menjalani kehidupan.

Pertama, Hidayah Naluri dan Fitrah (Hidayatul Wijdan Ath-Thabi’i)

Tingkatan pertama merupakan petunjuk alamiah yang telah diberikan Allah kepada manusia sejak lahir. Hidayah ini menjadi bekal dasar untuk mempertahankan kehidupan, tumbuh, dan berkembang.

Dorongan alamiah tersebut memungkinkan manusia mengenali kebutuhan dasar serta melakukan berbagai tindakan untuk menjaga kelangsungan hidupnya.

Prinsip ini berkaitan dengan hadis tentang setiap anak yang dilahirkan dalam keadaan fitrah. Fitrah menjadi potensi dasar yang dimiliki manusia sejak awal kehidupannya.

Kedua, Hidayah Pancaindra (Hidayatul Hawass)

Allah juga membekali manusia dengan lima indra, yakni penglihatan, pendengaran, penciuman, pengecap, dan peraba. Melalui pancaindra, manusia dapat mengenali lingkungan, memahami berbagai objek, serta membedakan ciri-ciri benda di sekitarnya.

“Pancaindra juga menjadi salah satu instrumen penting dalam pengembangan ilmu pengetahuan. Karena melalui observasi dan eksperimen, manusia dapat mengumpulkan fakta sebagai dasar untuk memahami berbagai fenomena” jelasnya.

Meski begitu, kemampuan pancaindra memiliki keterbatasan. Tidak semua hal yang ditangkap oleh Indra dapat menggambarkan kenyataan secara utuh.

Iklan SMPM 5 Surabaya 2026

Oleh karena itu, manusia memerlukan kemampuan lain untuk mengolah dan memahami informasi yang diterimanya.

Ketiga, Hidayah Akal (Hidayatul ‘Aql)

Akal memberikan kemampuan kepada manusia untuk berpikir, menganalisis, mempertimbangkan keputusan, serta memahami berbagai hal yang tidak dapat dijangkau langsung oleh pancaindra.

Melalui akalnya, manusia mampu mengembangkan ilmu pengetahuan, teknologi, dan berbagai inovasi untuk menunjang kehidupan.

Akal juga berperan dalam membedakan informasi yang benar dan salah, memahami hubungan sebab-akibat, serta menentukan tindakan berdasarkan pertimbangan tertentu.

Namun, akal tetap memiliki keterbatasan. Kemampuan berpikir manusia tidak selalu menghasilkan keputusan yang benar, terutama bila tidak diarahkan oleh nilai-nilai kebaikan. Rasionalitas semata juga tidak cukup untuk menjamin tercapainya kemaslahatan apabila terlepas dari tutunan wahyu.

Keempat, Hidayah Agama dan Syariat (Hidayatud Din Was-Syari’ah)

Inilah tingkatan hidayah yang menyempurnakan petunjuk-petunjuk sebelumnya. Melalui agama dan syariat, manusia memperoleh pedoman untuk mengarahkan potensi fitrah, pancaindra, dan akalnya agar digunakan sesuai dengan kehendak Allah SWT.

Agama hidayah membimbing manusia dalam menentukan nilai dan tujuan hidup. Dengan berlandaskan Al-Qur’an, sunah, dan keimanan kepada Allah, manusia diharapkan mampu menggunakan kemampuan yang dimilikinya untuk menghasilkan kemaslahatan, bukan justru menimbulkan kerusakan.

Hidayah ini juga menuntut kesungguhan dan tanggung jawab manusia untuk terus belajar, memperbaiki diri, serta menjaga perilaku agar selalu berada dalam koridor ajaran Islam.

Melalui pemahaman empat tingkatan tersebut, jamaah diajak menyadari bahwa Allah telah memberikan berbagai bekal bagi manusia untuk menjalani kehidupan.

Namun, seluruh potensi tersebut perlu diarahkan oleh petunjuk agama agar tidak kehilangan tujuan dan menyimpang dari kebenaran.

Hidayah dengan demikian, bukan hanya sesuatu yang dimohonkan dalam doa, tetapi juga perlu diupayakan melalui kesungguhan dalam menjalankan perintah Allah dan menjauhi larangan-Nya.

Dengan terus memohon petunjuk serta mengoptimalkan karunia yang telah diberikan, seorang muslim diharapkan mampu menjalani kehidupan yang lebih bermakna dan meraih kebahagiaan di dunia maupun akhirat. (*)

Revisi Oleh:
  • Agus Wahyudi - 07/11/2026 21:47
SD Kreatif
Adv UMSURA

0 Tanggapan

Empty Comments

Search
Menu