Pendidikan karakter santri tidak cukup mengandalkan pembelajaran di sekolah. Keluarga dan lembaga pendidikan harus bersinergi membentuk generasi religius, jujur, dan amanah.
Pesan tersebut disampaikan Ketua Majelis Pendidikan dan Pengkaderan Wilayah (MPW) PP Muhammadiyah, Dr. Amirsyah Tambunan, saat memberikan tausiyah dan motivasi kepada santri serta orang tua Muhammadiyah Boarding School (MBS) Ki Bagus Hadikusumo Jampang, Bogor.
Kegiatan berlangsung di Kompleks Muhammadiyah Jampang, Bogor. Acara tersebut menjadi bagian dari syiar Milad Muhammadiyah ke-114 dan Tanwir Muhammadiyah di Palu, 13–15 November 2026.
Dalam tausiyahnya, Buya Amirsyah menjelaskan bahwa pendidikan karakter membutuhkan sinergi keluarga dan sekolah. Keluarga menjadi laboratorium pertama pembentukan karakter anak. Sementara itu, sekolah memperkuat dan mengaktualisasikan nilai-nilai adab dalam kehidupan sehari-hari.
Menurutnya, pendidikan tidak hanya bertujuan meningkatkan kemampuan akademik. Pendidikan juga harus membentuk sikap hormat kepada guru, orang tua, dan sesama.
Tiga Karakter Utama yang Harus Ditanamkan
Buya Amirsyah menekankan tiga karakter utama yang perlu ditanamkan kepada santri. Ketiganya meliputi religius, jujur, dan amanah.
Pertama, karakter religius harus tumbuh melalui pembiasaan ibadah. Orang tua dan sekolah perlu membiasakan shalat berjamaah, berdoa, dan menjalankan ibadah rutin. Pembiasaan tersebut diharapkan menumbuhkan kecintaan serta ketaatan kepada Allah SWT.
Kedua, karakter jujur dan amanah harus menjadi bagian kehidupan santri. Buya Amirsyah mencontohkan keteladanan Rasulullah SAW dalam menjalankan aktivitas perdagangan.
Nabi Muhammad SAW dikenal sebagai pribadi terpercaya atau Al-Amin. Kepercayaan tersebut juga menjadi modal penting ketika beliau menjalankan perdagangan bersama Khadijah binti Khuwailid.
Khadijah merupakan istri pertama Rasulullah SAW sekaligus saudagar terkemuka di Makkah. Masyarakat mengenalnya sebagai sosok terhormat dan dermawan dengan gelar Ath-Thahirah.
Melalui keteladanan Rasulullah, Buya Amirsyah mengingatkan pentingnya membangun kepercayaan dalam kehidupan. Kejujuran dan amanah harus menjadi karakter yang melekat pada setiap santri.
Selain memberikan motivasi kepada santri, Buya Amirsyah menyampaikan pesan khusus kepada para orang tua.
Menurutnya, pendidikan karakter tidak akan berhasil tanpa keteladanan di rumah. Orang tua harus menunjukkan perilaku nyata yang dapat ditiru anak.
Ia mengingatkan orang tua agar mencegah ketergantungan anak terhadap gawai atau telepon seluler. Orang tua juga perlu menunjukkan sikap jujur, santun, dan tenang ketika menghadapi persoalan.
Dalam mendidik anak, orang tua harus bersikap tegas sekaligus penuh kasih sayang.
“Bedakan antara kebutuhan dan keinginan anak. Jangan memanjakan secara berlebihan. Berikan apresiasi saat anak berbuat baik dan ingatkan saat anak berbuat salah,” pesan Buya Amirsyah.
Ia menegaskan bahwa keluarga memiliki tanggung jawab besar dalam membangun fondasi kepribadian anak. Karena itu, pendidikan di sekolah harus berjalan searah dengan pembiasaan di rumah.
Belajar dari Tokoh Dunia dan Jenderal Sudirman
Dalam kesempatan tersebut, Buya Amirsyah juga mengajak santri mengambil inspirasi dari tokoh-tokoh dunia. Ia menyebut Nelson Mandela, Lee Kuan Yew, dan Jenderal Besar Sudirman sebagai figur yang memiliki keteguhan prinsip dan perjuangan.
Pertama, Nelson Mandela merupakan simbol perjuangan melawan ketidakadilan. Mantan Presiden Afrika Selatan tersebut mengabdikan hidupnya untuk memperjuangkan kesetaraan dan kemanusiaan. Mandela wafat pada 5 Desember 2013.
Kedua, Lee Kuan Yew merupakan Perdana Menteri pertama Singapura. Ia memimpin negara tersebut pada 1959–1990. Kepemimpinannya dikenal dalam proses transformasi Singapura menjadi pusat ekonomi dan keuangan di Asia Tenggara.
Ketiga, Jenderal Besar Sudirman menjadi teladan perjuangan bangsa Indonesia. Tokoh yang memiliki kedekatan dengan Muhammadiyah tersebut berperan penting dalam mempertahankan kemerdekaan Indonesia.
Sudirman menjadi Panglima Besar TNI pada usia relatif muda. Meski menderita penyakit paru-paru, ia tetap memimpin perjuangan gerilya melawan Belanda.
Melalui ketiga tokoh tersebut, Buya Amirsyah mengingatkan pentingnya motivasi, keberanian, dan keteguhan prinsip dalam menjalani kehidupan.
“Motivasi yang kuat, teguh pada prinsip dan keyakinan, serta selalu mengedepankan kepentingan masyarakat dan bangsa di atas kepentingan pribadi, adalah kunci kebangkitan,” tegasnya.
Ia berharap para santri MBS Jampang memiliki semangat perjuangan seperti tokoh-tokoh tersebut. Santri harus tumbuh menjadi generasi yang memiliki integritas, keberanian, dan kepedulian sosial.
MBS Jampang Menyiapkan Generasi Berkemajuan
MBS Ki Bagus Hadikusumo Jampang berdiri di atas tanah wakaf dari Marsekal Sugiri. Nazhir Persyarikatan mengelola tanah tersebut di bawah Pimpinan Wilayah Muhammadiyah (PWM) DKI Jakarta.
PWM DKI Jakarta meluncurkan MBS pada 5 Mei 2016. Lembaga pendidikan tersebut kemudian menerima santri angkatan pertama pada 2017.
Saat ini, MBS Jampang berada di bawah kepemimpinan Dewan Mudir Dr. Endang Mintarja, Dr. Nur Acmad, dan Drs. Ahsin Abdul Wahab.
Melalui penguatan pendidikan karakter dan keteladanan, MBS Jampang diharapkan melahirkan generasi unggul. Para santri diharapkan tumbuh dengan kepribadian Islami, berintegritas, dan memiliki semangat pengabdian.
Lebih jauh, lembaga ini diharapkan mampu melahirkan alumni dengan semangat perjuangan Jenderal Besar Sudirman. Mereka tidak hanya memiliki kecerdasan intelektual dan spiritual, tetapi juga keberanian memperjuangkan kepentingan umat dan bangsa.






0 Tanggapan
Empty Comments