Sejarah tidak selalu harus ditemukan di dalam buku teks. Lingkungan sekitar siswa juga menyimpan orang, tempat, memori, dokumen, hingga praktik kehidupan yang dapat menjadi sumber belajar sejarah.
Gagasan tersebut disampaikan Sejarawan Muhammadiyah Jawa Timur Arya Wanda Wirayuda, S.Hum., M.A., saat mengisi seminar yang digelar Musyawarah Guru Mata Pelajaran (MGMP) Sejarah Kabupaten Sidoarjo, Rabu (30/9/2026).
Arya menjelaskan, sejarah yang dipelajari siswa dapat diperluas melalui pendekatan public history. Menurutnya, konsep tersebut menghadirkan sejarah dalam konteks yang lebih dekat dengan kehidupan masyarakat.
“Publik History merupakan sejarah yang konteksnya di luar sejarah akademis,” tuturnya.
Ia mengatakan, sejarah publik memiliki pembahasan dan karakter yang berbeda dengan sejarah akademis. Sejarah akademis, kata dia, cenderung memiliki pendekatan yang lebih formal dan serius.
“Jika kita membicarakan sejarah akademis, kita pasti menemui sejarah yang kaku, monoton, dan serius. Berbeda dengan sejarah publik yang bisa lebih mengena pada masyarakat,” ungkap Arya.
Bawa Sejarah Lokal ke Kelas
Menurut Arya, pendekatan sejarah publik dapat menjadi pintu masuk untuk memperkaya pembelajaran sejarah di sekolah. Guru tidak harus selalu menjadikan buku sebagai satu-satunya sumber belajar.
Ia mendorong guru sejarah mulai membawa sejarah lokal yang berada di sekitar kehidupan siswa ke ruang kelas. Dengan begitu, siswa dapat melihat bahwa sejarah bukan sekadar peristiwa masa lalu, melainkan sesuatu yang masih memiliki hubungan dengan kehidupan mereka.
Salah satu pendekatan yang dapat digunakan adalah community-based history learning. Melalui pendekatan ini, siswa diajak menemukan dan mengkaji berbagai sumber sejarah yang ada di lingkungan komunitasnya.
“Untuk prosesnya, siswa bisa diajak untuk melakukan community-based history learning,” jelasnya.
Dalam proses tersebut, siswa melakukan discovery dengan mencari, mengidentifikasi, dan menganalisis berbagai sumber. Sumber itu dapat berupa orang, tempat, memori, dokumen, maupun praktik kehidupan masyarakat yang memiliki nilai sejarah.
Pendekatan tersebut membuat siswa tidak hanya menerima informasi sejarah, tetapi juga belajar menemukan dan menganalisisnya secara langsung.
Dengan demikian, pembelajaran sejarah dapat menjadi lebih kontekstual. Siswa tidak hanya mengenal sejarah yang tercantum dalam buku, tetapi juga memahami sejarah yang tumbuh di lingkungan mereka sendiri. (*)





0 Tanggapan
Empty Comments