Malam itu, saya sedang duduk di dalam mobil bersama Dahlan Iskan. Di luar kaca, lampu-lampu kota bergerak seperti garis panjang. Percakapan kami berpindah-pindah. Dari pengalaman jurnalistik sampai membangun bisnis.
Hingga kemudian dia bercerita tentang satu hal yang jarang dilihat orang: perjalanan panjang sebelum seseorang sampai pada titik yang tampak dari luar. Banyak orang, katanya, mengenalnya seperti Dahlan Iskan yang sekarang.
Orang yang pernah memimpin Jawa Pos Group. Membangun bisnis. Mencapai berbagai hal yang kemudian diketahui publik. Tetapi tidak banyak yang tahu cerita sebelumnya. Tentang jatuh bangun.
Tentang kesulitan membangun usaha. Tentang orang yang pernah menipunya. Tentang berbagai persoalan yang harus dihadapi sebelum sampai pada posisi itu.
Saya masih mengingat percakapan tersebut. Sebab ada satu gagasan sederhana yang kemudian sering saya pikirkan: orang biasanya melihat hasil, bukan perjalanan.
Kita melihat seseorang sudah memiliki rumah. Tidak tahu berapa lama ia menabung. Kita melihat usahanya berkembang. Tidak tahu berapa kali ia hampir menyerah.
Kita melihat seseorang mendapatkan jabatan. Tidak tahu berapa banyak kegagalan yang pernah mendahuluinya.
Kita melihat foto liburannya. Tidak tahu berapa lama ia menyiapkan uang dan waktu untuk perjalanan itu. Kita melihat foto yang sudah jadi. Tidak melihat cerita sebelum kamera dibuka.
Saya teringat percakapan itu ketika melihat media sosial. Setiap hari kita disuguhi potongan kehidupan orang lain. Teman membeli rumah. Teman lama naik jabatan. Anak seseorang mendapat beasiswa. Teman sekolah membuka bisnis.
Orang yang kita kenal menikah di gedung mewah. Ada yang sedang menikmati liburan ke luar negeri. Ada yang membeli mobil baru. Ada pula yang memperlihatkan penghargaan yang baru diterima.
Tidak ada yang salah dengan semua itu. Orang berhak membagikan kegembiraannya.Masalahnya muncul ketika kita membandingkan kehidupan orang lain yang sudah tampak selesai dengan kehidupan kita yang masih berjalan.
Kita sedang berada di tengah cerita sendiri. Tetapi membandingkannya dengan halaman terakhir cerita orang lain.
Di situlah hidup yang sebenarnya baik-baik saja tiba-tiba terasa kurang. Ponsel memang kecil. Tetapi dari layar sekecil itu kita bisa melihat kehidupan ribuan orang.
Dulu, ketika seseorang membeli rumah, mungkin yang tahu hanya tetangga, saudara, dan teman dekat. Sekarang satu foto bisa sampai kepada orang yang bahkan tidak kita kenal.
Dulu, pembanding kita hanya beberapa orang di sekitar. Sekarang bisa ratusan, bahkan ribuan. Dan hampir semuanya datang dalam versi terbaik.
Kita melihat rumahnya. Bukan cicilannya. Melihat liburannya. Bukan hari-hari ketika ia bekerja keras mengumpulkan uang. Melihat anaknya menerima penghargaan. Bukan malam-malam ketika orang tuanya menemani belajar.
Melihat bisnisnya tumbuh. Bukan saat ia pernah rugi. Melihat senyumnya. Bukan kegelisahannya.
Media sosial memang tidak selalu berbohong. Tetapi ia hampir selalu memilih bagian tertentu dari sebuah kehidupan untuk ditampilkan. Kita sering lupa bahwa yang ditampilkan itu hanya sebagian.
***
Dahlan Iskan pernah mengatakan kepada saya sesuatu yang cukup ekstrem. Dia pernah mengusulkan agar dibuat seminar tentang kegagalan.
Saya sempat berpikir, lho? Kok seminar kegagalan?
Biasanya orang membuat seminar tentang kesuksesan. Bagaimana menjadi pengusaha sukses. Bagaimana membangun bisnis. Bagaimana mencapai target. Bagaimana menjadi pemimpin. Bagaimana memperbesar perusahaan.
Tetapi Dahlan berpikir orang juga perlu belajar menghadapi kegagalan. Rintangan. Tantangan. Bahkan tipuan. Sebab ketika seseorang membangun sesuatu, ia tidak hanya bertemu peluang.
Ada kesalahan. Ada keputusan yang keliru. Ada orang yang mengecewakan. Ada orang yang menipu. Ada usaha yang gagal. Ada rencana yang berantakan. Ada masa ketika seseorang harus memulai lagi dari tempat yang tidak pernah ia bayangkan.
Mungkin justru bagian-bagian itulah yang membentuk seseorang. Sayangnya, bagian itu sering tidak terlihat. Yang terlihat biasanya ketika ia sudah berhasil.
Gagasan tentang seminar kegagalan terasa relevan dengan kehidupan sekarang. Kita terlalu sering belajar dari keberhasilan yang sudah jadi. Kita membaca kisah orang sukses. Lalu mencari resepnya. Tetapi jarang bertanya bagaimana ia bertahan ketika resep itu tidak bekerja.
Kita ingin tahu bagaimana seseorang mencapai puncak. Jarang ingin tahu bagaimana ia bangkit setelah jatuh. Padahal hidup tidak selalu menguji manusia ketika semuanya berjalan sesuai rencana.
Justru ketika rencana berantakan, seseorang belajar mengenal dirinya. Ketika bisnis gagal, ia belajar tentang kerugian. Ketika ditipu, ia belajar tentang kepercayaan. Ketika ditolak, ia belajar tentang ketekunan. Ketika kehilangan, ia belajar menerima.
Kegagalan bukan bagian yang harus dihapus dari sebuah cerita. Ia bagian dari sejarah cerita itu.
Sayangnya, media sosial kadang membuat kita lupa pada proses. Kita mulai menginginkan hasil tanpa ingin melihat perjalanan. Kita ingin rumah seperti milik orang lain. Tetapi tidak melihat bagaimana ia bekerja untuk mendapatkannya.
Kita ingin usaha seperti milik orang lain. Tetapi tidak siap menghadapi ketidakpastian yang menyertainya. Kita ingin anak berprestasi. Tetapi lupa bahwa setiap anak memiliki waktunya sendiri.
Kita ingin hidup terlihat berhasil. Bahkan ketika hati sendiri belum tentu merasa tenang.
Di titik tertentu, pertanyaannya berubah. Bukan lagi: “Apakah saya bahagia?”
Melainkan: “Apakah hidup saya terlihat berhasil?”
Keduanya berbeda. Sangat berbeda. Sesuatu bisa terlihat berhasil dari luar. Tetapi belum tentu terasa baik ketika dijalani.
Sebaliknya, sesuatu yang tampak biasa bisa menjadi kehidupan yang sangat berharga bagi orang yang menjalaninya.
***
Saya sering memikirkan kehidupan yang tidak masuk media sosial. Seorang ayah pulang kerja lalu makan malam bersama anaknya. Seorang ibu menunggu anaknya pulang sekolah.
Suami dan istri berbincang di teras setelah anak-anak tidur. Seseorang masih bisa mengajak orang tuanya bercanda. Seorang pekerja pulang dengan tubuh lelah. Tetapi hatinya lega karena pekerjaan hari itu selesai.
Ada orang yang tidak punya mobil mewah. Tetapi setiap akhir pekan masih bisa mengajak keluarganya berjalan-jalan. Ada orang yang tidak pernah mendapat penghargaan. Tetapi bertahun-tahun mengerjakan pekerjaannya dengan jujur.
Ada orang yang tidak pernah viral. Tetapi setiap hari menjadi alasan keluarganya tetap bertahan. Semua itu tidak spektakuler. Tidak selalu layak menjadi konten. Tidak menghasilkan banyak tanda suka. Tetapi bukan berarti tidak bernilai.
Mungkin sebagian besar kehidupan manusia memang seperti itu. Biasa. Berulang. Tidak banyak sorotan. Namun di situlah kehidupan benar-benar berlangsung.
Karena itu, kita perlu berhati-hati dengan kata tertinggal. Tertinggal dari siapa? Dengan ukuran siapa? Pada usia berapa seseorang harus memiliki rumah? Kapan seseorang harus menjadi manajer? Kapan anak harus berprestasi? Pada umur berapa seseorang harus memiliki bisnis?
Siapa yang menentukan bahwa kehidupan yang baik harus mengikuti urutan tertentu?
Setiap orang memiliki titik berangkat yang berbeda. Ada yang mendapat kesempatan lebih dahulu. Ada yang harus bekerja sambil belajar. Ada yang harus membantu keluarga.
Ada yang baru menemukan jalannya setelah beberapa kali tersesat. Ada yang cepat menemukan keberhasilan. Ada pula yang baru memetiknya ketika usia tidak lagi muda.
Karena itu, kehidupan tidak bisa selalu diperlakukan seperti lomba lari dengan garis finis yang sama. Kita masing-masing membawa sejarah sendiri. Mungkin kita tidak perlu berhenti melihat keberhasilan orang lain. Kita tetap bisa belajar. Tetap bisa terinspirasi. Tetap boleh punya cita-cita.
Tetapi jangan menjadikan kehidupan orang lain sebagai alat untuk menghukum kehidupan sendiri.
Kagumi rumah orang lain. Jangan remehkan rumah tempat kita pulang. Kagumi keberhasilan orang lain. Jangan anggap perjalanan sendiri tidak berarti.
Belajar dari orang yang lebih maju. Tetapi jangan lupa bahwa mereka pun pernah berada di titik yang sekarang sedang kita jalani.
Yang paling penting, jangan membandingkan keseluruhan hidup kita dengan potongan hidup orang lain.
Sebab perbandingan itu sejak awal sudah tidak seimbang.
***
Malam itu, bertahun-tahun lalu, saya tidak menyangka percakapan di dalam mobil bersama Dahlan Iskan akan terus teringat. Tentang seseorang yang dilihat dari hasil akhirnya.
Tentang sejarah yang tidak banyak diketahui. Tentang jatuh bangun. Tentang orang yang pernah menipu. Tentang gagasan membuat seminar kegagalan agar orang belajar menghadapi rintangan, tantangan, dan tipuan.
Kini, saya melihat gagasan itu dengan cara berbeda. Barangkali kita memang perlu lebih banyak mendengar cerita tentang kegagalan.Bukan untuk memuja kegagalan. Tetapi supaya kita tidak terlalu mudah mengagumi hasil. Supaya kita tahu bahwa di balik rumah yang indah bisa ada perjuangan panjang.
Di balik bisnis yang besar bisa ada kerugian. Di balik seseorang yang tampak tenang bisa ada perjalanan panjang untuk belajar menerima kehidupan.
Dan di balik keberhasilan yang kita lihat hari ini, mungkin ada bagian cerita yang tidak pernah masuk media sosial.
Jadi, kalau suatu malam kita membuka ponsel dan mendapati kehidupan orang lain tampak jauh lebih baik, mungkin kita tidak perlu buru-buru merasa kurang.
Tutup sebentar layarnya. Lihat kembali kehidupan sendiri. Ada keluarga yang masih menunggu. Ada pekerjaan yang masih bisa dikerjakan. Ada teman yang masih bisa diajak berbicara.
Ada orang tua yang masih bisa ditelepon. Ada kegagalan yang ternyata berhasil kita lewati. Ada luka yang perlahan sembuh. Ada banyak hal yang dulu pernah kita doakan.
Kini, justru kita anggap biasa. Mungkin selama ini kita terlalu sibuk menghitung apa yang belum kita punya. Sampai lupa menghitung apa yang sudah Tuhan titipkan.
Kita melihat kehidupan orang lain dari jendelanya. Sementara kehidupan sendiri kita lihat dari dalam dapur. Lengkap dengan piring kotor. Tagihan. Masalah. Pekerjaan. Dan segala kerepotannya.
Tentu saja terlihat kalah indah. Tetapi memang begitulah kehidupan. Ia bukan panggung. Ia rumah. Di dalamnya ada tawa. Ada lelah.Ada gagal. Ada bangkit. Ada kecewa. Ada syukur. Ada banyak hal kecil yang tidak pernah menjadi berita.
Mungkin kita tidak membutuhkan kehidupan yang lebih gemerlap. Kita hanya membutuhkan mata yang lebih jernih. Untuk melihat kehidupan yang sudah kita miliki.
Sebab bisa jadi, hidup kita tidak sedang kurang. Kita hanya terlalu lama membandingkan halaman kita dengan halaman terakhir milik orang lain.
Dan ketika buku itu kita tutup, lalu menoleh kepada orang-orang yang masih duduk bersama kita, mungkin baru terasa: ternyata kehidupan yang selama ini kita cari ke mana-mana, sedang diam-diam menunggu kita pulang. (*)





0 Tanggapan
Empty Comments