Iklan Mudipat Landscape
Iklan Mudipat Mobile

Mendidik Manusia Utuh

Iklan Landscape Smamda
Mendidik Manusia Utuh
Oleh : Prof. Abu Darda Dosen Fakultas Tarbiyah Unida Gontor

Pendidikan Agama Islam hari ini kerap terjebak pada dua kutub yang sama-sama bermasalah. Di satu sisi, agama diajarkan sebatas hafalan hukum yang kaku dan terpisah dari realitas.

Di sisi lain, agama sekadar dijadikan pelengkap moral yang tunduk pada sistem berpikir sekuler. Akibatnya, sekolah memisahkan antara ilmu dunia dan ilmu agama.

Kebuntuan ini tidak bisa diselesaikan hanya dengan menambah jam pelajaran atau mengubah tata tertib. Kita perlu merombak cara berpikir dari fondasinya. Pendidikan agama harus dikembalikan sebagai kacamata utama dalam melihat dan mengelola kehidupan.

Langkah awal perubahan ini dimulai dari pelurusan cara berpikir berbasis Tauhid. Tauhid bukan sekadar hafalan dogma, melainkan kompas yang menjiwai seluruh cabang ilmu.

Melalui prinsip ini, sains, teknologi, dan ekonomi dipelajari dalam satu tarikan napas sebagai wujud pengabdian dan tata kelola bumi. Pendidikan agama tidak lagi berdiri di pojok kelas, melainkan menjadi ruh dari seluruh aktivitas pembelajaran.

Namun, gagasan ideal ini harus tetap diuji dengan realitas sosial. Belajar dari pemikiran Jasser Auda dan Imam al-Syatibi, hukum Islam tidak boleh berhenti pada formalisme aturan, tetapi harus menyasar pada tujuan besarnya, yaitu menjaga keadilan, akal, dan keselamatan masyarakat.

Murid dilatih untuk memperhitungkan dampak dari setiap tindakan agar pemahaman agamanya tidak melahirkan sikap kaku yang justru memicu keretakan sosial.

Dalam masyarakat yang beragam, gagasan Jürgen Habermas tentang kemampuan penerjemahan publik menjadi sangat relevan.

Nilai-nilai Islam perlu disampaikan dalam bahasa keadilan universal dan kejujuran yang dapat diterima oleh semua orang, termasuk warga non-Muslim.

Prinsip ini berakar kuat pada nilai historis Piagam Madinah yang terbukti berhasil mengelola ruang publik secara adil tanpa mengorbankan keyakinan masing-masing kelompok.

SMPM 5 Pucang SBY

Selain itu, kita harus menghindari angan-angan perubahan instan. Sebagaimana diingatkan Charles Lindblom, perubahan yang berdaya tahan justru lahir dari langkah-langkah nyata yang bertahap.

Model pendidikan yang mandiri dan berakar kuat ini sebenarnya telah dibuktikan oleh pengalaman Pondok Modern Darussalam Gontor.

Melalui motto berbudi tinggi, berbadan sehat, berpengetahuan luas, berpikiran bebas, dan berjiwa besar, pendidikan diarahkan untuk membentuk manusia yang seimbang.

Seluruh interaksi di dalamnya diikat oleh Panca Jiwa, yaitu keikhlasan, kesederhanaan, kemandirian, ukhuwwah Islamiyah, dan kebebasan.

Kemandirian ini diperkuat oleh lima pilar pengelolaan lembaga (Panca Jangka) yang menjamin keberlanjutan pendidikan, kaderisasi, pendanaan, sarana dan prasarana, serta kesejahteraan para pengabdi tanpa bergantung pada dikte pihak luar.

Seluruh arah baru ini diukur melalui sistem penilaian yang menyeluruh, bukan sekadar nilai di atas kertas.

Penilaian difokuskan pada empat dimensi utama: kekuatan cara pandang Tauhid, keluhuran adab dan etika di ruang publik, ketajaman berpikir dalam memecahkan masalah masyarakat, serta karya nyata dan kepemimpinan di lapangan.

Mengubah pendidikan agama bukanlah soal bersolek pada permukaan. Ini adalah kerja kebudayaan untuk membangun kembali manusia yang utuh—pribadi yang berakar kuat secara spiritual, luas dalam wawasan, mandiri dalam bersikap, dan hadir membawa manfaat nyata bagi sesama. (*)

Revisi Oleh:
  • Agus Wahyudi - 12/09/2026 11:23
SD Kreatif

Baca Lainnya

Adv UMSURA

0 Tanggapan

Empty Comments

Search
Menu