Iklan SDM 4 Mudipat 2026

Batik, Identitas yang Tak Lekang oleh Zaman

Iklan Smamda Sidoarjo 2026
Batik, Identitas yang Tak Lekang oleh Zaman
Dok: Gus Luthfi
BANNER RSI AISYIYAH MALANG
Oleh : Gus Luthfi Guru Madrasah Inspiratif Nasional Kementerian Agama RI Tahun 2022/ Ketua KMM PDM Lamongan

Hari ini, 2 Oktober 2026, kita kembali memperingati Hari Batik Nasional. Sebuah tanggal yang mengingatkan kita pada pengakuan dunia terhadap batik sebagai Warisan Budaya Tak Benda milik Indonesia oleh UNESCO pada 2009.

Namun, peringatan ini seharusnya lebih dari sekadar kewajiban memakai kain batik ke kantor atau ke sekolah.

Batik adalah bahasa.

Jika bahasa lisan menggunakan kata, batik menggunakan motif dan warna untuk berbicara. Motif Kawung berbicara tentang keadilan dan kekuasaan. Motif Mega Mendung berbicara tentang keteduhan dan kesabaran. Motif Sidoluhur berbicara tentang keluhuran budi.

Setiap goresan canting adalah pesan moral dari leluhur untuk generasi hari ini.

Di tengah gempuran tren fashion global yang serba cepat dan instan, batik mengajarkan kita tentang filosofi sebaliknya: kesabaran, ketelitian, dan proses yang panjang.

Selembar batik tulis membutuhkan waktu berminggu-minggu, bahkan berbulan-bulan untuk selesai. Itu adalah antitesis dari budaya instan yang sedang melanda anak muda kita.

Batik mengajarkan bahwa sesuatu yang bernilai tidak selalu lahir dari proses yang cepat. Ada ketekunan, ketelitian, dan kesabaran yang menyertai setiap proses penciptaannya.

Tantangan kita hari ini bukan lagi pengakuan, tetapi pelestarian.

Kita sudah diakui dunia, tetapi apakah kita sudah benar-benar menjaga batik di dalam negeri?

Ada dua tantangan besar yang mengancam keberlangsungan batik.

Pertama, regenerasi pembatik. Para pembatik sepuh semakin menua, sementara anak muda enggan melanjutkan karena pekerjaan tersebut dianggap tidak menjanjikan secara ekonomi.

Kedua, banjirnya batik printing murah. Produk massal yang mengatasnamakan batik berpotensi menghilangkan nilai seni, proses, dan filosofi yang melekat pada batik.

Jika ini terus dibiarkan, kita akan menjadi bangsa yang hanya bangga memakai, tetapi lupa cara membuat.

Iklan SMPM 5 Surabaya 2026

Maka, Hari Batik 2026 harus menjadi gerakan, bukan hanya perayaan.

Pertama, jadikan batik sebagai gaya hidup, bukan sekadar seragam.

Pakailah batik bukan karena diwajibkan setiap hari Jumat, tetapi karena bangga dan nyaman. Pakai batik ke acara santai, ke mal, maupun ke kampus.

Kedua, dukung ekonomi pembatik.

Jika mampu, belilah satu batik tulis asli setiap tahun. Itu bukan sekadar membeli kain, tetapi turut membeli kehidupan seorang pengrajin dan keluarganya.

Ketiga, kenalkan batik ke dunia digital.

Anak muda harus menjadi duta batik dengan caranya sendiri. Konten tentang proses membatik, filosofi motif, hingga gaya styling batik modern jauh lebih kuat dampaknya daripada sekadar foto formal berbaju batik.

Batik telah mempersatukan Indonesia jauh sebelum semboyan Bhinneka Tunggal Ika ditulis. Dari Aceh sampai Papua, semua memiliki batik dengan ciri khasnya.

Motifnya boleh berbeda, tetapi jiwanya sama: keindahan dalam keberagaman.

Selamat Hari Batik Nasional 2026.

Mari kita jaga warisan ini, bukan hanya dengan memakainya hari ini, tetapi dengan mencintainya setiap hari.

Karena bangsa yang besar adalah bangsa yang tidak pernah malu dengan jati dirinya sendiri.

SD Kreatif
Adv UMSURA

0 Tanggapan

Empty Comments

Search
Menu