Seorang pegawai bekerja bertahun-tahun di sebuah perusahaan. Ia datang tepat waktu, menyelesaikan tugas dengan baik, dan tak pernah mengambil sesuatu yang bukan haknya.
Ketika promosi jabatan tiba, namanya justru tak disebut. Posisi itu diberikan kepada orang lain yang lebih pandai mengambil hati atasan.
Ia pulang membawa kecewa. Bukan karena kehilangan pekerjaan, melainkan karena merasa kesungguhannya tak dihargai.
Di tempat lain, seorang pedagang kecil menolak menjual barang dengan kualitas buruk meskipun pembelinya tak akan mengetahui perbedaan itu.
Keuntungan yang diperolehnya memang tak seberapa. Namun, ketika malam tiba, ia bisa tidur dengan tenang. Tak ada kebohongan yang harus ditutupi. Tak ada hak orang lain yang harus dikembalikan.
Dua Orang, Dua Keadaan, Dua Ukuran Keberhasilan
Yang pertama kehilangan kesempatan memperoleh kedudukan. Yang kedua mungkin kehilangan peluang mendapatkan keuntungan lebih besar. Namun, apakah keduanya benar-benar kehilangan sesuatu yang paling berharga dalam hidup?
Rasulullah saw memberikan tuntunan yang menarik tentang perkara ini. Ada hal-hal yang membuat seseorang tetap kaya, bahkan ketika banyak kenikmatan dunia luput dari genggamannya.
Dalam sebuah hadis yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad dan Al-Bazzar, Rasulullah saw. bersabda: “Empat perkara, jika semuanya ada pada dirimu, maka tidak mengapa bagimu apa yang terlewatkan darimu dari dunia.”
Empat perkara itu ialah shidqul-hadits (jujur dalam berbicara), hifzhul-amanah (menjaga amanah), husnul-khuluq (berakhlak mulia), dan ‘iffatu math‘am (menjaga makanan atau rezeki yang halal).
Hadis ini dinilai sahih oleh Syekh Al-Albani dalam Shahih Al-Jami’ nomor 873.
Pesannya terasa sederhana, tetapi dalam maknanya. Dunia memang menawarkan banyak hal yang ingin kita miliki. Jabatan, kekayaan, penghormatan, dan pengakuan manusia sering menjadi ukuran keberhasilan.
Kita bekerja keras untuk mendapatkannya, bahkan terkadang mengorbankan waktu, tenaga, dan ketenangan.
Namun, Rasulullah saw. mengingatkan bahwa ada empat perkara yang nilainya jauh melampaui apa yang bisa kita kumpulkan.
Jujur, Meski Kebohongan Tampak Lebih Menguntungkan
Kejujuran tidak selalu membawa seseorang ke tempat yang paling tinggi. Ada kalanya orang jujur justru tersisih karena menolak mengikuti permainan yang tidak benar. Ia mungkin kehilangan kesempatan, tetapi tidak kehilangan kehormatan dirinya.
Bayangkan seorang karyawan yang menemukan kekeliruan dalam laporan keuangan. Ia bisa saja diam agar persoalan itu tidak mengganggu kariernya. Atau, ia mengakui kesalahan tersebut meskipun harus menerima teguran.
Pilihan kedua memang lebih berat. Akan tetapi, ia sedang menjaga sesuatu yang tak tercantum dalam daftar kekayaan: integritas.
Kejujuran membuat seseorang tidak perlu menghabiskan hidupnya untuk mengingat kebohongan apa yang pernah ia sampaikan. Ia tidak perlu menyusun cerita baru demi menutupi cerita lama.
Bukankah ada ketenangan tersendiri ketika lisan dan kenyataan berjalan beriringan?
Menjaga Amanah, Meski Tak Seorang pun Mengawasi
Amanah sering kali diuji justru ketika kita mempunyai kesempatan untuk mengkhianatinya.
Seorang bendahara menerima kepercayaan mengelola uang organisasi. Ia tahu tidak semua transaksi akan diperiksa satu per satu.
Ada peluang untuk mengambil sedikit, meminjam sebentar, atau menggunakan dana itu untuk kepentingan pribadi dengan alasan akan menggantinya kemudian.
Namun, ia memilih menjaga setiap rupiah yang dititipkan kepadanya.
Baginya, uang itu bukan sekadar angka dalam buku kas. Di dalamnya ada kepercayaan banyak orang. Ada hak yang harus disampaikan kepada pemiliknya.
Amanah mengajarkan bahwa tidak semua yang berada dalam kekuasaan kita boleh menjadi milik kita.
Kita boleh menduduki jabatan, tetapi jabatan bukan milik pribadi. Kita boleh mengelola harta, tetapi tidak semua harta yang kita kelola menjadi hak kita.
Kita boleh menerima kepercayaan, tetapi kepercayaan itu harus dipertanggungjawabkan.
Ketika jabatan berakhir dan kekuasaan berpindah tangan, amanah yang terjaga akan tetap menjadi bagian dari kehormatan seseorang.
Berakhlak Mulia, Meski Dunia Mengajarkan Persaingan
Tidak semua pertengkaran harus dimenangkan. Tidak setiap penghinaan perlu dibalas. Tidak semua perbedaan harus berakhir dengan permusuhan.
Kita mengenal orang yang memiliki kedudukan tinggi, tetapi membuat orang-orang di sekitarnya merasa kecil. Sebaliknya, ada orang biasa yang kehadirannya membuat orang lain merasa dihargai.
Seorang atasan, misalnya, bisa menegur bawahannya di depan banyak orang untuk menunjukkan kekuasaan.
Namun, ia juga bisa memanggilnya secara pribadi, menjelaskan kesalahan dengan tegas, lalu memberinya kesempatan memperbaiki diri.
Keduanya mungkin menghasilkan perubahan yang sama. Namun, cara yang kedua tetap menjaga martabat manusia.
Akhlak mulia bukan berarti selalu mengalah atau membiarkan kesalahan. Ada saatnya kita harus bersikap tegas.
Ada saatnya kita perlu mengatakan tidak. Namun, ketegasan tidak harus melahirkan penghinaan, sebagaimana perbedaan pendapat tidak harus merusak persaudaraan.
Dunia mungkin memberikan tepuk tangan kepada mereka yang berhasil mengalahkan orang lain. Akan tetapi, dalam kehidupan sehari-hari, orang yang mampu menjaga akhlaknya sering meninggalkan sesuatu yang lebih lama dikenang: rasa hormat dan kepercayaan.
Menjaga Rezeki yang Halal, Meski Hasilnya Tidak Berlimpah
Di sebuah rumah sederhana, seorang ayah pulang membawa uang hasil bekerja seharian. Jumlahnya tidak banyak. Ia tahu uang itu belum cukup untuk memenuhi semua keinginan keluarganya.
Ada kebutuhan sekolah anak yang belum terpenuhi. Ada bagian rumah yang harus diperbaiki. Ada keinginan-keinginan yang terpaksa ditunda.
Namun, ia membawa pulang sesuatu yang tak kalah penting: rezeki yang diperoleh dengan cara yang benar.
Ia tidak mengambil hak orang lain. Ia tidak memalsukan timbangan. Ia tidak menipu pelanggan. Ia tidak menjadikan kesulitan hidup sebagai alasan untuk menghalalkan segala cara.
Mungkin keluarganya belum bisa menikmati banyak kemewahan. Namun, ia berusaha memastikan bahwa makanan yang tersaji di meja berasal dari jalan yang halal.
Inilah ujian yang tidak ringan. Sebab, kebutuhan hidup terus bertambah, sementara penghasilan tidak selalu mengikuti harapan. Kita melihat orang lain hidup berkecukupan, membeli berbagai barang, dan menikmati fasilitas yang belum mampu kita miliki.
Perbandingan semacam itu mudah menumbuhkan kegelisahan. Kita mulai bertanya mengapa hidup orang lain tampak lebih mudah. Kita lupa bahwa setiap orang mempunyai jalan dan ujian masing-masing.
Menjaga kehalalan rezeki berarti menyadari bahwa hasil tidak boleh dipisahkan dari cara memperolehnya. Banyaknya harta bukan satu-satunya ukuran keberhasilan. Ada batas-batas yang harus tetap dijaga, bahkan ketika melanggarnya tampak menjanjikan keuntungan.
Sebab, apa artinya meja makan penuh jika cara mengisinya melukai hak orang lain?
Syekh Sulaiman ar-Ruhayli menjelaskan makna hadis tersebut: siapa yang menjaga kejujuran lisannya, menunaikan amanah, menghiasi diri dengan akhlak mulia, dan memperhatikan kehalalan makanan atau rezekinya, maka ia benar-benar kaya.
Kenikmatan dunia yang luput darinya, baik berupa harta maupun kedudukan di mata manusia, tidak akan membahayakannya dalam perkara yang dimaksud oleh hadis tersebut.
Tentu, ini bukan berarti kita dilarang mengejar kemajuan. Islam tidak mengajarkan kita untuk bermalas-malasan, mengabaikan tanggung jawab, atau menyerah pada keadaan.
Kita tetap perlu bekerja keras, meningkatkan kemampuan, memperbaiki kehidupan keluarga, dan memberikan manfaat bagi sesama.
Namun, ada perbedaan antara berusaha mendapatkan dunia dan mempertaruhkan segala-galanya demi dunia.
Kita boleh bercita-cita memiliki rumah yang layak, tetapi jangan sampai harus menggadaikan kejujuran untuk mendapatkannya.
Kita boleh menginginkan jabatan, tetapi jangan sampai mengkhianati amanah demi mendudukinya.
Kita boleh berharap dihormati, tetapi jangan sampai merendahkan orang lain untuk meninggikan diri sendiri.
Sebab, tidak semua yang luput dari tangan kita merupakan kerugian. Ada jabatan yang tidak kita peroleh, tetapi justru menyelamatkan kita dari godaan penyalahgunaan kekuasaan.
Ada keuntungan yang tidak jadi kita dapatkan, tetapi membuat kita terhindar dari rezeki yang tidak halal. Ada pertengkaran yang tidak kita menangkan, tetapi menyelamatkan persaudaraan.
Kita memang tidak selalu bisa memilih apa yang datang dan pergi dalam kehidupan. Namun, kita masih bisa memilih bagaimana bersikap ketika sesuatu yang kita inginkan tidak menjadi milik kita.
Di situlah empat perkara ini menemukan maknanya.
Kejujuran menjaga lisan kita. Amanah menjaga tangan kita. Akhlak mulia menjaga hubungan kita dengan sesama.
Rezeki yang halal menjaga apa yang masuk ke dalam tubuh dan menjadi bagian dari kehidupan kita.
Keempatnya menjadi semacam kekayaan batin yang tidak mudah dirampas oleh perubahan keadaan.
Pada akhirnya, barangkali kita perlu sesekali bertanya kepada diri sendiri: jika hari ini ada kesempatan yang hilang, jabatan yang gagal diraih, atau harta yang belum berhasil dikumpulkan, apakah kita juga kehilangan sesuatu yang jauh lebih penting?
Selama kita masih bisa berkata jujur, menjaga amanah, berbuat baik, dan mencari rezeki yang halal, masih ada kekayaan yang patut disyukuri.
Dunia boleh tidak memberikan semua yang kita inginkan. Manusia boleh tidak mengakui semua kebaikan yang kita lakukan.
Namun, jangan sampai demi mengejar apa yang belum kita miliki, kita kehilangan nilai-nilai yang seharusnya kita jaga.
Sebab, hidup bukan hanya tentang seberapa banyak yang berhasil kita genggam. Hidup juga tentang apa yang tetap kita pertahankan ketika harus melepaskan sesuatu.
Dan mungkin, di situlah letak kecukupan yang sesungguhnya: ketika kita tidak memiliki segalanya, tetapi tetap tidak kehilangan diri sendiri. (*)






0 Tanggapan
Empty Comments