Iklan Mudipat Landscape
Iklan Mudipat Mobile

Menumbuhkan Pohon Kehidupan: Refleksi Andragogi, Model Kurikulum, dan Totalitas Pengabdian dari Fajar hingga Petang

Iklan Landscape Smamda
Menumbuhkan Pohon Kehidupan: Refleksi Andragogi, Model Kurikulum, dan Totalitas Pengabdian dari Fajar hingga Petang
Ilustrasi AI
Oleh : Abu Darda Dosen Fakultas Tarbiyah Unida Gontor

Dua hari lalu, tenggorokan ini terasa tercekat, memancarkan sinyal ngilu yang menjalar hingga ke gigi—sebuah isyarat klasik bahwa daya tahan tubuh sedang menurun. Rasa tidak nyaman itu kian memuncak pagi tadi. Saat terjaga dari tidur, kepala ini didera pening yang luar biasa, sementara kaos tidur basah kuyup oleh keringat malam (night sweats).

Sebagai manusia, sempat terlintas kecemasan di dalam benak: apakah ini sekadar respons tubuh terhadap cuaca panas ekstrem yang belakangan ini melanda, ataukah sebuah alarm biologis yang lebih serius terkait kinerja jantung dan pembuluh darah? Secara klinis, rentetan gejala fisik ini jelas memerlukan pemeriksaan medis yang komprehensif.

Menyadari jasad adalah amanah dari Allah yang harus dijaga, saya memutuskan untuk mengisi energi dengan sepiring pecel—kuliner lokal sederhana yang padat gizi—sebelum meminum kembali Paracetamol.

Namun, di tengah keterbatasan fisik itu, sebuah kesadaran teologis mengambil alih kendali kemudi jiwa. Fajar menyingsing, dan panggilan untuk mengabdi tidak dapat ditunda oleh keluhan jasad.

Langkah pertama pergerakan hari ini dimulai dengan memantapkan hati menjadi imam shalat shubuh di Musholla Putri Pascasarjana. Menatap shaf-shaf yang terisi oleh para mahasiswi penuntut ilmu, rasa sakit di kepala seolah teredam oleh kekhusyukan kepasrahan kepada Sang Pencipta.

Kewajiban spiritual itu tidak berhenti pada salam. Usai shalat, agenda langsung berlanjut pada sesi pelatihan nahwu untuk para mahasiswi. Di fajar yang dingin itu, alih-alih sekadar memberikan ceramah searah, kami langsung menyelami samudera tata bahasa Arab dengan melatih mereka melakukan analisis i’rab pada struktur jumlah ismiyah (klausa nominal) dan jumlah fi’liyah (klausa verbal).

Di sinilah batas antara kecemasan jasad dan keteguhan spiritualitas diuji. Ketika tubuh berbisik tentang keterbatasan, jiwa yang bertawakal kepada Allah memilih untuk terus bergerak menunaikan jihad intelektual sejak matahari belum terbit.

Selepas fajar, amanah besar berikutnya telah menanti di ruang kuliah formal untuk mengampu mata kuliah Pengembangan Kurikulum PAI, yang kemudian berlanjut maraton hingga sore hari menuju forum Kursus Pembina Pramuka Mahir Tingkat Lanjutan (KML).

Memanusiakan Pembelajar Melalui Pendekatan Konstruktivistik

Pengalaman fajar di musholla saat membedah i’rab bersama mahasiswi, yang kemudian berlanjut ke ruang kelas pengembangan kurikulum dan forum KML, menegaskan satu paradigma utama yang saya pegang: penolakan keras terhadap apa yang disebut Paulo Freire sebagai “Banking Concept of Education” (Pendidikan Gaya Bank).

Dalam pola pendidikan pasif tersebut, peserta didik kerap direduksi menjadi seumpama bejana kosong yang tak berdaya. Tugasnya hanya duduk manis menerima kucuran indoktrinasi materi dari pengajar yang merasa serba tahu.

Bagi saya, baik para mahasiswi yang subuh tadi mengurai kedudukan kata dalam kalimat bahasa Arab, para mahasiswi pascasarjana yang membedah kurikulum, maupun para peserta KML, mereka adalah pohon hidup yang telah memiliki akar pengalaman dan potensi bawaan untuk berkembang serta berbuah.

Dalam khazanah psikologi pendidikan, mereka adalah subjek dalam Pendekatan Konstruktivistik (Lev Vygotsky) dan prinsip Andragogi (Pendidikan Orang Dewasa oleh Malcolm Knowles). Mereka bukan lagi anak-anak yang harus dicekoki ilmu secara dogmatis, melainkan orang dewasa yang telah memiliki akumulasi modal pengetahuan awal.

Saat melatih i’rab jumlah ismiyah dan fi’liyah, saya tidak mendikte mereka, melainkan menantang logika sintaksis yang telah mereka pelajari sebelumnya untuk memecahkan teks baru.

Struktur berpikir logis ini terbawa hingga ke ruang kelas saat kami mendiskusikan berbagai model pengembangan kurikulum PAI. Kami membedah pendekatan deduktif-linear dari Ralph Tyler yang berbasis pada penetapan tujuan, disandingkan dengan pendekatan induktif akar rumput (grassroots approach) milik Hilda Taba.

Tidak lupa, kami juga mengkritisi efisiensi model sistematik George Beauchamp serta fleksibilitas model komprehensif Peter Oliva. Mahasiswi tidak saya biarkan menghafal teori-teori ini secara pasif.

Melalui bimbingan bertahap (scaffolding), mereka diarahkan untuk menata kembali pengetahuan kurikulum tersebut agar adaptif dan aplikatif ketika diterapkan dalam lembaga pendidikan Islam modern.

Konsep andragogi ini menemukan bentuknya yang lebih taktis sore nanti di forum KML Pramuka. Para peserta KML sejatinya adalah para pembina yang telah aktif mengabdi di gugusdepan masing-masing.

Tugas saya sore nanti adalah memfasilitasi materi krusial mengenai penyusunan program gugusdepan (gudep) dan dinamika pembinaan Pramuka Penegak, secara khusus berkaca pada potret sukses tata kelola kepanduan di Gontor Putri.

Di sana, saya hadir bukan untuk menggurui, melainkan membersamai mereka mengevaluasi dan merapikan kembali keterampilan manajemen kepramukaan yang sudah mereka lakukan sehari-hari.

SMPM 5 Pucang SBY

Kehadiran saya adalah untuk memastikan pengetahuan, keterampilan taktis, serta sikap afektif mereka sebagai hamba Allah dapat tertata dengan lebih matang. Kita bergerak bersama mengonversi mentalitas pembina senior yang awalnya mungkin ingin “didengar dan dilayani”, menjadi sosok pelayan umat yang membina dengan ketulusan nurani, searah dengan Sistem Among Ki Hadjar Dewantara.

Sintesis Nilai Gontor dan Nilai Survivalitas Tunas Kelapa

Komitmen untuk tetap tegak berdiri memberikan dedikasi terbaik dari subuh hingga petang di tengah ujian rasa sakit ini bukanlah sebuah heroisme yang dipaksakan hingga berujung burnout, melainkan manifestasi nyata dari internalisasi nilai yang panjang.

Di Pondok Modern Darussalam Gontor, kepramukaan diletakkan sebagai bagian integral dari garis perjuangan hidup, bukan sekadar pelengkap ijazah atau hiburan akhir pekan.

Lembaga ini menanamkan falsafah pergerakan yang amat menghujam ke dalam keinsafan tiap kadernya: “Bondo, Bahu, Pikir lek perlu nyowo pisan” (Harta, tenaga, pikiran, kalau perlu nyawa sekalipun diserahkan demi perjuangan).

Falsafah kepesantrenan yang total ini berkelindan secara harmonis dengan lambang Gerakan Pramuka, yaitu Tunas Kelapa. Pohon kelapa dipilih karena ia adalah simbol kemandirian dan survivalitas mutlak—ia bisa tumbuh di tanah gersang pantai sekalipun, kokoh menerjang badai topan, dan setiap jengkal bagian tubuhnya dari akar hingga janur membawa maslahat bagi lingkungan sekitarnya.

Karakteristik ini sejalan dengan didikan Gontor yang mencetak kadernya agar menjadi seperti “jarum” yang merajut persatuan di tengah robekan sosial, selalu siap ditempatkan di masyarakat dalam kondisi geografis dan sosiologis apa pun.

Model pembinaan Penegak di Gontor Putri yang menekankan kemandirian organisasi, kedisiplinan, dan kreativitas tanpa batas adalah pengejawantahan riil dari filosofi tunas kelapa ini.

Bahkan, tantangan hawa panas yang membakar tubuh saya hari ini merupakan refleksi nyata atas tantangan lingkungan global saat ini. Seorang pembina Pramuka yang memegang teguh Darma kedua—Cinta Alam dan Kasih Sayang Sesama Manusia—tidak boleh abai terhadap isu perubahan iklim.

Rasa panas tubuh dan lingkungan ini harus dikonversi menjadi energi kolektif di ruang kursus KML untuk melahirkan program-program kepramukaan yang berbasis pada pelestarian alam dan penyelamatan bumi, membuktikan bahwa Pramuka senantiasa adaptif terhadap zaman.

Menjadikan Ilmu sebagai Amal

Mengabdi melalui jalur pendidikan, keagamaan, dan kepanduan adalah manifestasi tertinggi dari rasa syukur seorang hamba atas limpahan potensi yang telah Allah titipkan.

Pada akhirnya, esensi nama penulis yang saya sematkan dalam tulisan ini senantiasa mengingatkan kita pada pesan luhur sang sahabat Nabi: bahwa ilmu tidak akan pernah mencapai derajat kematangan tertinggi sebelum ia mewujud dalam amal nyata yang menyentuh dan memperbaiki masyarakat.

Rasa sakit di tubuh fisik adalah pengingat kodrati bahwa kita hanyalah makhluk yang lemah dan fana. Namun, semangat untuk terus belajar sejak subuh menyingsing, menata pengetahuan kurikulum, hingga membina kader penegak di sore hari adalah bukti nyata bahwa jiwa kita digerakkan oleh rida-Nya.

Tetaplah menjadi pohon yang rimbun, yang akarnya menghujam ke bumi keimanan, dan buah kemanfaatannya senantiasa dinikmati oleh umat manusia.

Wallahu a’lam bish-shawab.

Walhamdulillah Rabb al-‘alamin

Unida Gontor Putri, 21 Rabi’ul Akhir 1448 / 3 Oktober 2026

Revisi Oleh:
  • Satria - 03/10/2026 11:46
SD Kreatif

Baca Lainnya

Adv UMSURA

0 Tanggapan

Empty Comments

Search
Menu