Pernahkah kita merasa kecewa setelah berbuat baik kepada seseorang?
Kita pernah membantu tetangga yang kesulitan. Ketika kita sedang membutuhkan bantuan, justru orang itu yang menjelek-jelekkan kita.
Kita membesarkan anak dengan penuh pengorbanan. Siang malam bekerja, menahan keinginan, bahkan mengorbankan banyak hal agar anak bisa hidup lebih baik. Namun, ketika usia mulai senja, perhatian yang diharapkan tak kunjung datang.
Kita pernah meminjamkan uang kepada teman yang sedang kesusahan. Ketika tiba waktunya mengembalikan, bukan uang yang diterima, melainkan kemarahan dan permusuhan.
Kita berusaha menjaga hubungan baik. Mengalah ketika berbeda pendapat. Menolong tanpa banyak bertanya. Tetapi, kebaikan itu justru dibalas dengan perlakuan yang menyakitkan.
Pada saat seperti itu, muncul suara kecil dalam hati.
“Untuk apa berbuat baik kalau akhirnya begini?”
“Kapok! Lebih baik tidak usah peduli kepada siapa pun.”
Perasaan kecewa itu manusiawi. Kita bukan malaikat yang tidak punya perasaan. Ada saatnya hati lelah, bahkan terluka oleh orang-orang yang pernah kita perlakukan dengan penuh kasih sayang.
Namun, jangan sampai perlakuan buruk seseorang membuat kita kehilangan keinginan untuk menjadi orang baik.
Sebab, ada sesuatu yang perlu kita luruskan: kebaikan tidak selalu harus dibalas oleh orang yang menerima kebaikan itu.
Dunia Memang Tidak Selalu Membalas Kebaikan
Allah SWT tidak pernah menjanjikan bahwa setiap kebaikan kita akan dibalas dengan kebaikan oleh manusia.
Manusia punya keterbatasan. Ada yang mudah lupa. Ada yang tidak pandai berterima kasih. Bahkan, ada yang membalas kebaikan dengan keburukan.
Al-Qur’an telah mengingatkan:
وَقَلِيلٌ مِّنْ عِبَادِيَ الشَّكُورُ
“Dan sedikit sekali dari hamba-hamba-Ku yang bersyukur.” (QS Saba’: 13).
Ayat ini mengingatkan bahwa rasa syukur bukanlah sifat yang selalu mudah ditemukan. Tidak semua orang mampu menghargai kebaikan yang diterimanya.
Bahkan, para nabi yang merupakan manusia pilihan Allah pun mengalami hal serupa.
Rasulullah saw mengajak manusia kepada kebaikan, tetapi justru mendapatkan penolakan, hinaan, dan penganiayaan.
Di Thaif, beliau dilempari batu hingga terluka. Dalam dakwahnya, beliau juga menghadapi ancaman pembunuhan dari kaum yang menolak risalah Islam.
Nabi Nuh AS berdakwah selama 950 tahun. Namun, panjangnya perjuangan itu tidak membuat seluruh kaumnya menerima seruan beliau. Sebagian besar justru tetap berada dalam kekufuran.
Jika para nabi saja mengalami penolakan dan perlakuan buruk, mengapa kita harus merasa bahwa setiap orang yang tidak menghargai kebaikan kita merupakan sesuatu yang luar biasa?
Kita perlu memahami bahwa dunia memang bukan tempat semua kebaikan mendapatkan balasan yang setimpal.
Karena itu, jangan buru-buru berhenti berbuat baik hanya karena seseorang gagal menghargai kebaikan kita.






0 Tanggapan
Empty Comments