Iklan SDM 4 Mudipat 2026

Kita Menolong, Mereka Melupakan. Lalu untuk Apa Berbuat Baik?

Iklan Smamda Sidoarjo 2026
Kita Menolong, Mereka Melupakan. Lalu untuk Apa Berbuat Baik?
Ilustrasi: OpenAI
BANNER RSI AISYIYAH MALANG
Oleh : Ferry Is Mirza Jurnalis Senior dan Aktivis Muhammadiyah

Jangan Salah Mengharap Balasan

Barangkali sumber kekecewaan kita bukan semata-mata karena orang lain tidak tahu berterima kasih. Bisa jadi, ada yang perlu diperiksa dari niat kita sendiri.

Kita berbuat baik, tetapi diam-diam berharap orang lain akan membalasnya.

Kita membantu tetangga dengan harapan kelak tetangga itu juga membantu kita. Kita menyayangi anak dengan harapan kelak mereka akan membalas seluruh pengorbanan kita. Kita bersedekah, tetapi berharap mendapatkan pujian dan penghargaan.

Tidak ada yang salah dengan berharap mendapatkan perlakuan baik. Namun, ketika harapan itu menjadi alasan utama kita berbuat baik, kekecewaan mudah sekali datang.

Sebab, kita sedang menggantungkan kebahagiaan pada sesuatu yang tidak sepenuhnya berada dalam kendali kita: sikap manusia.

Maka, luruskan kembali orientasi kebaikan.

Kita membantu tetangga karena Allah menyukai orang yang menolong sesamanya.

Kita menyayangi anak karena mereka adalah amanah Allah yang harus dijaga, bukan investasi yang kelak harus mengembalikan seluruh pengorbanan kita.

Kita bersedekah bukan agar dipuji, melainkan karena mengharap rida Allah.

Dengan begitu, manusia bukan lagi tujuan akhir dari kebaikan kita. Mereka hanyalah jalan bagi kita untuk mendekat kepada Allah.

Allah SWT berfirman:

وَمَا تُقَدِّمُوا لِأَنْفُسِكُمْ مِنْ خَيْرٍ تَجِدُوهُ عِنْدَ اللَّهِ

“Dan kebaikan apa saja yang kamu usahakan untuk dirimu, tentu kamu akan mendapat pahalanya di sisi Allah.” (QS Al-Baqarah: 110).

Inilah yang seharusnya membuat hati kita tenang.

Manusia mungkin melupakan bantuan yang pernah kita berikan. Orang yang pernah kita tolong mungkin tidak lagi mengingat nama kita. Bahkan, orang yang kita sayangi bisa saja tidak memahami besarnya pengorbanan kita.

Tetapi, tidak ada satu pun kebaikan yang luput dari pengetahuan Allah.

Apa yang dilakukan dengan ikhlas tidak pernah sia-sia di hadapan-Nya.

Tiga Cara Menjaga Hati agar Tidak Lelah Berbuat Baik

Lalu, bagaimana agar kita tetap bisa berbuat baik tanpa terus-menerus terluka oleh harapan yang tidak terpenuhi?

Ada tiga hal yang layak kita renungkan.

Pertama, berbuat baiklah, lalu lepaskan harapan untuk dipuji dan dibalas.

Seorang petani menanam benih padi. Setelah benih ditanam, ia merawat sawahnya, mengairi, dan membersihkan rumput pengganggu. Ia tidak setiap hari membongkar tanah untuk memastikan apakah benihnya sudah tumbuh.

Iklan SMPM 5 Surabaya 2026

Ia percaya bahwa ada proses yang harus dijalani sebelum panen tiba.

Begitu pula kebaikan.

Lakukan apa yang bisa kita lakukan. Bantu orang yang membutuhkan. Ringankan beban sesama. Berikan perhatian kepada keluarga. Setelah itu, lepaskan kebaikan tersebut dari tuntutan untuk mendapatkan balasan.

Bukan berarti kita tidak boleh mengingat kebaikan dan menjaga hubungan baik. Namun, jangan biarkan kebaikan berubah menjadi tagihan yang terus kita sodorkan kepada orang lain.

Berbuat baiklah karena itu memang sesuatu yang benar untuk dilakukan.

Kedua, jangan biarkan keburukan orang lain merampas pahala kesabaran kita.

Ketika kebaikan dibalas dengan keburukan, kita tentu boleh merasa sedih. Kita juga boleh mengambil jarak dari orang yang terus-menerus menyakiti.

Tetapi, jangan membalas keburukan dengan keburukan yang sama.

Rasulullah saw. bersabda bahwa tidaklah seorang Muslim tertimpa kelelahan, penyakit, kesedihan, kesusahan, gangguan, maupun kegundahan, bahkan tertusuk duri sekalipun, melainkan Allah akan menghapus sebagian kesalahannya karena hal itu. (HR Bukhari dan Muslim).

Hadis ini mengajarkan bahwa penderitaan seorang mukmin tidak harus berakhir sebagai kesia-siaan. Ada kesempatan penghapusan dosa di balik kesulitan yang dihadapinya.

Maka, ketika kita disakiti setelah berbuat baik, jangan biarkan luka itu menjadikan kita ikut berbuat zalim.

Kita boleh menjaga jarak. Kita boleh menolak ketika dimanfaatkan. Kita boleh menegakkan batas agar tidak terus-menerus disakiti.

Namun, jangan kehilangan hati yang baik.

Ketiga, jangan menentukan dari siapa Allah harus mengirimkan balasan.

Kita sering membayangkan bahwa orang yang pernah kita bantu harus menjadi orang yang kelak membantu kita.

Padahal, Allah tidak pernah dibatasi oleh cara berpikir manusia.

Boleh jadi, kita pernah membantu seseorang bertahun-tahun lalu. Kita bahkan sudah lupa bahwa pernah melakukan kebaikan itu. Namun, suatu hari ketika anak kita menghadapi kesulitan, ada orang lain yang datang memberikan pertolongan.

Boleh jadi, kita pernah mengulurkan tangan kepada seseorang yang sedang terpuruk. Ketika kita sendiri berada dalam kesulitan, Allah membukakan jalan melalui orang yang sama sekali tidak kita kenal.

Bentuk balasan Allah tidak selalu sama dengan bentuk kebaikan yang kita berikan. Waktunya pun tidak selalu sesuai dengan keinginan kita.

Karena itu, jangan terlalu sibuk menentukan siapa yang harus membalas kebaikan kita. Serahkan urusan balasan kepada Allah.

Revisi Oleh:
  • Agus Wahyudi - 01/11/2026 05:45
SD Kreatif
Adv UMSURA

0 Tanggapan

Empty Comments

Search
Menu