Saya sering berpikir, pertumbuhan media ternyata menyimpan pekerjaan rumah yang tidak sedikit. Ketika pembaca bertambah, jangkauan berita meluas, dan teknologi semakin canggih, ada tanggung jawab yang ikut membesar. Sayangnya, tanggung jawab itu tidak selalu tumbuh secepat perkembangan medianya.
Pengalaman mengelola PWMU.CO membuat saya semakin menyadari hal tersebut. PWMU.CO lahir dari semangat media komunitas. Kami ingin menghadirkan cerita tentang Muhammadiyah yang tidak selalu mendapatkan tempat di media arus utama.
Juga dengan banyaknya kiprah warga, dinamika persyarikatan, kegiatan amal usaha, dan berbagai gerakan di tingkat akar rumput menjadi bahan pemberitaan yang ingin kami dokumentasikan.
Pada mulanya, yang terpenting bagi kami adalah bagaimana cerita-cerita itu sampai kepada pembaca. Ada banyak hal menarik di lingkungan Muhammadiyah yang layak diketahui masyarakat.
Ada orang-orang yang bekerja dalam senyap, ada gerakan yang tumbuh dari bawah, dan ada ikhtiar yang pantas mendapatkan ruang pemberitaan.
Jurnalistik menjadi jalan untuk mempertemukan cerita-cerita itu dengan pembaca.
Namun, perjalanan media tidak berhenti di sana. Teknologi digital mengubah cara kami bekerja sekaligus cara orang menemukan berita.
Informasi yang kami tulis di Surabaya dapat dibaca masyarakat di berbagai daerah, bahkan menjangkau pembaca di luar negeri. Berita tidak lagi dibatasi oleh jarak dan waktu penerbitan.
Saya melihat perubahan itu sebagai peluang besar. Tetapi, semakin jauh sebuah berita menjangkau pembacanya, semakin besar pula tanggung jawab yang menyertainya.
Satu berita bisa dibagikan berkali-kali. Sebuah kalimat dapat dikutip tanpa konteks. Informasi yang keliru bisa menyebar jauh sebelum redaksi menyadari kekeliruannya.
Dari situ saya mulai melihat transformasi media dengan cara yang berbeda. Perubahan bukan hanya soal teknologi, jumlah pembaca, atau kemampuan mendistribusikan konten.
Ada hal yang lebih mendasar, yakni apakah profesionalisme dan kesadaran hukum kita ikut bertumbuh?
Pertanyaan itu penting bagi media mana pun. Bagi media yang tumbuh dari komunitas seperti PWMU.CO, pertanyaan tersebut memiliki makna tersendiri.
Kedekatan yang Menguji Profesionalisme
Tumbuh di lingkungan Muhammadiyah memberikan PWMU.CO kedekatan dengan sumber berita. Kami mengenal dinamika persyarikatan, memahami konteks organisasi, dan mengikuti kiprah banyak pelakunya. Kedekatan itu membantu kami menemukan cerita yang mungkin luput dari perhatian media lain.
Namun, saya semakin memahami bahwa kedekatan tidak boleh membuat kerja jurnalistik kehilangan jarak kritisnya.
Mengenal narasumber bukan berarti seluruh keterangannya dapat diterima begitu saja. Memahami sebuah organisasi tidak berarti setiap informasi tentangnya bebas dari pemeriksaan. Bahkan, ketika sebuah berita mengangkat kiprah yang membanggakan, prinsip verifikasi tetap harus dijalankan.
Di sinilah media komunitas menghadapi tantangan yang tidak sederhana. Semangat mendukung gerakan dapat menjadi energi untuk bekerja.
Akan tetapi, semangat itu tidak boleh menggantikan kewajiban memeriksa fakta. Kedekatan sosial tidak boleh membuat redaksi mengabaikan pertanyaan yang semestinya diajukan.
Saya percaya, jurnalisme dan keberpihakan pada nilai-nilai yang diyakini tidak harus saling meniadakan.
Media boleh memiliki identitas, sejarah, dan lingkungan pengabdian. Yang tidak boleh hilang adalah tanggung jawab kepada kebenaran dan kepentingan publik.
Karena itu, kritik tidak semestinya selalu dipandang sebagai permusuhan. Sebaliknya, pemberitaan positif pun tidak otomatis menjadi berita yang baik jika disusun tanpa verifikasi yang memadai.
Bagi saya, profesionalisme justru diuji ketika kita memberitakan lingkungan yang dekat dengan diri sendiri. Lebih mudah menjaga jarak dengan orang yang tidak kita kenal. Tantangannya adalah tetap kritis kepada lingkungan yang kita cintai.
Kedekatan seharusnya membantu kita memahami persoalan secara lebih utuh, bukan membuat kita berhenti bertanya.
Salah satu bagian penting dalam perjalanan PWMU.CO adalah proses verifikasi faktual oleh Dewan Pers yang kami jalani.
Saya memandang proses tersebut bukan sekadar urusan administratif atau upaya memperoleh pengakuan formal.
Ada kesempatan untuk memeriksa kembali cara kami mengelola media: bagaimana tata kelola perusahaan pers dibangun, bagaimana fungsi redaksi dijalankan, dan sejauh mana standar profesionalisme diterapkan.
Sebuah proses verifikasi mengajak kita melihat ke dalam. Bukan hanya apa yang sudah dicapai, melainkan juga apa yang masih perlu dibenahi.
Sebab, memenuhi persyaratan formal tidak otomatis membuat sebuah media selesai dengan pekerjaan rumahnya. Profesionalisme bukan status yang sekali diperoleh lalu dapat ditinggalkan. Ia harus hadir dalam keputusan-keputusan kecil setiap hari.
Ketika wartawan memeriksa ulang sebuah nama. Ketika editor memastikan angka dalam berita tidak keliru. Ketika redaksi meminta konfirmasi kepada pihak yang diberitakan.
Ketika sebuah judul diubah karena dinilai terlalu jauh dari fakta. Atau ketika media bersedia memperbaiki informasi yang terbukti tidak tepat.
Pekerjaan seperti itu mungkin tidak terlihat oleh pembaca. Namun, justru di sanalah kepercayaan dibangun.
Saya semakin yakin bahwa kualitas media tidak hanya ditentukan oleh berita yang akhirnya diterbitkan. Kualitas itu juga ditentukan oleh pertimbangan yang berlangsung sebelum berita sampai kepada pembaca.
Apakah informasi ini sudah terverifikasi? Apakah pihak yang relevan telah mendapatkan kesempatan untuk memberikan keterangan? Apakah judulnya sesuai dengan isi? Adakah hak seseorang yang berpotensi terlanggar?
Pertanyaan-pertanyaan tersebut seharusnya menjadi kebiasaan di ruang redaksi, bukan baru muncul ketika seseorang mengajukan keberatan.






0 Tanggapan
Empty Comments