Serial Menjelang Muktamar Ke-49 Muhammadiyah Tahun 2027 (3)
Muhammadiyah lahir bukan hanya dari ruang pengajian, tetapi juga dari denyut perdagangan. Di Kauman, Yogyakarta, Kiai Ahmad Dahlan populer sebagai ulama sekaligus pedagang batik. Ia berdakwah sembari membawa kain batik ke berbagai kota, berjumpa dengan banyak kalangan, memperluas pergaulan, dan menyebarkan gagasan pembaruan (Suara Muhammadiyah, 9 Juli 2020; Muhammadiyah.or.id, 11 September 2021).
Aktivitas niaga memberinya kemandirian, mobilitas, dan keberanian membangun gerakan tanpa menggantungkan diri pada kekuasaan.
Dalam dirinya, kesalehan tidak terpisah dari produktivitas; dakwah tidak menjauh dari ikhtiar ekonomi.
Jejak itu berlanjut melalui para saudagar yang menopang Muhammadiyah pada masa awal.
Nama-nama seperti Haji Bilal Atmajoewana dan Haji Hisyam menggambarkan pertautan antara ketekunan berusaha dan pengabdian kepada Persyarikatan.
Haji Bilal dikenal sebagai saudagar batik terkemuka yang mendukung pendanaan dakwah Muhammadiyah. Sementara Haji Hisyam merupakan pengusaha batik sekaligus tokoh yang berperan besar dalam pengembangan pendidikan Muhammadiyah (Suara Muhammadiyah, 9 Juli 2020 dan 7 Mei 2021).
Di Garut, misalnya, para pedagang batik ikut mendirikan sekolah, membiayai mubalig, dan memperluas Muhammadiyah ke berbagai wilayah Priangan.
Mereka tidak hanya memberikan dukungan finansial, tetapi juga menggunakan jaringan sosial dan perdagangannya untuk memperluas gerakan Muhammadiyah (Rusliana, Selamet, dan Daryadi, 2022).
Para saudagar itu bukan sekadar penyandang dana. Mereka menjadi penyambung gagasan, pembuka jaringan, dan penggerak perubahan sosial. Keuntungan usaha mengalir menjadi energi dakwah.
Sejak awal, usaha dan dakwah bukan dua jalan yang berpisah. Keduanya bertemu dalam cita-cita memajukan umat.
Dari Saudagar ke Amal Usaha
Salah satu pencapaian terbesar Muhammadiyah adalah kemampuannya mengubah kedermawanan personal menjadi kekuatan kelembagaan.
Harta tidak berhenti sebagai sedekah sesaat, tetapi menjelma sekolah, rumah sakit, panti sosial, perguruan tinggi, dan pelayanan kemanusiaan yang bertahan lintas generasi.
Muhammadiyah tidak sekadar mengumpulkan orang baik, tetapi membangun sistem agar kebaikan terus bekerja melampaui usia pendirinya. Amal tidak hanya dilakukan, tetapi dilembagakan.
Transformasi tersebut menjadikan Muhammadiyah lebih kuat dikenal melalui sekolah, kampus, dan rumah sakit. Sementara itu, DNA saudagar yang ikut melahirkannya seolah berada di belakang panggung.
Memasuki abad kedua, Muhammadiyah tidak cukup hanya memiliki banyak amal usaha. Muhammadiyah harus menghubungkannya menjadi ekosistem usaha yang produktif, saling menopang, dan mampu bersaing secara global.
Dari Saudagar ke Amal Usaha
Muhammadiyah sesungguhnya memiliki modal yang sangat besar: aset fisik, pasar, sumber daya manusia, pengetahuan, jaringan sosial, reputasi, dan kepercayaan publik.
Di tingkat pusat, PT Madina Mentari Utama hadir sebagai holding Badan Usaha Milik Muhammadiyah. Pada Juli 2026, holding ini telah membawahi sepuluh entitas usaha. Konsolidasi tersebut diarahkan untuk memperkuat tata kelola, menyelaraskan strategi bisnis, dan membuka kolaborasi antaranak perusahaan (Muhammadiyah.or.id, 24 Juli 2026).
Di berbagai daerah dan perguruan tinggi tumbuh pula hotel, ritel modern, SPBU, lembaga keuangan mikro, media, pariwisata, serta beragam perusahaan yang dikelola secara profesional. Namun, tidak seluruh badan usaha tersebut berada langsung di bawah PT Madina Mentari Utama.
Sebagiannya dimiliki dan dikelola oleh perguruan tinggi, organisasi tingkat wilayah atau daerah, dan entitas Persyarikatan lainnya.
Kehadiran Mentarimart menunjukkan ikhtiar Muhammadiyah memasuki sektor ritel dan distribusi. Bisnis ritel ini diluncurkan dalam Rakornas Ekonomi Muhammadiyah di Universitas Muhammadiyah Malang pada Februari 2025.
Gerai pertamanya kemudian dikembangkan sebagai laboratorium untuk menguji dan memperbaiki model bisnis sebelum diperluas ke daerah lain (Muhammadiyah.or.id, 27 Februari dan 29 Maret 2025).
Jaringan Baitut Tamwil Muhammadiyah memberikan akses pembiayaan bagi pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah.
Kehadiran BTM sekaligus menjadi bagian dari upaya Muhammadiyah membangun ekosistem keuangan inklusif yang dapat dijangkau oleh kelompok usaha yang selama ini kesulitan memperoleh pembiayaan dari perbankan besar (Muhammadiyah.or.id, 13 Desember 2024).
Perguruan tinggi Muhammadiyah-‘Aisyiyah menyimpan ribuan ahli, peneliti, laboratorium, dan talenta muda. Rumah sakit, sekolah, kampus, serta kantor Persyarikatan juga membentuk pasar internal yang luas.
Muhammadiyah tidak memulai perjalanan ekonomi dari halaman kosong. Persyarikatan telah memiliki banyak huruf, kata, bahkan kalimat. Tantangannya ialah menyusunnya menjadi sebuah cerita besar yang utuh.
Pabrik Infus, Embrio Ekosistem
Pembangunan pabrik cairan infus PT Suryavena Farma Indonesia di Malang dapat dibaca sebagai embrio ekosistem usaha Muhammadiyah.
Dengan investasi sekitar Rp800 miliar di luar nilai tanah, pabrik itu dibangun di atas lahan milik Universitas Muhammadiyah Malang dan melibatkan rumah sakit Muhammadiyah dalam kepemilikan saham.
Model ini mempertemukan beberapa kekuatan sekaligus. Perguruan tinggi menyediakan aset, pengetahuan, dan talenta. Industri menghasilkan produk. Jaringan rumah sakit dan klinik menjadi pasar awal sekaligus penjaga mutu.
Holding dan majelis terkait mengonsolidasikan tata kelola serta arah bisnisnya. Jika pola tersebut diperluas, berbagai kebutuhan internal, dari alat kesehatan, farmasi, teknologi pembelajaran, pangan, energi, hingga layanan digital, dapat dikembangkan melalui kolaborasi antarlembaga.
Namun, pasar internal tidak boleh berubah menjadi zona nyaman. Ia harus menjadi laboratorium untuk menguji kualitas, menurunkan biaya, memperbaiki produk, dan membangun skala.
Produk yang teruji di dalam Muhammadiyah harus berani bertanding di pasar nasional dan global.
SUMU dan Saudagar Berkemajuan
Ekosistem tidak hanya membutuhkan perusahaan. Ia memerlukan manusia yang berani mengambil risiko, mampu membaca peluang, dan beretika dalam mengelola kekayaan.
Di sinilah Serikat Usaha Muhammadiyah (SUMU) memperoleh tempat penting. SUMU bukan badan usaha atau amal usaha. Ia merupakan ruang kolaborasi, pendampingan, inkubasi, dan akselerasi bagi para pengusaha.
Kehadirannya dapat menjembatani pengusaha senior, pelaku UMKM, perusahaan rintisan, investor, mentor, dan pasar Muhammadiyah. SUMU lahir pada 2023 dan berada di bawah koordinasi Lembaga Pengembang UMKM Pimpinan Pusat Muhammadiyah.
Visi agar 30 persen dari jajaran 100 orang terkaya di Indonesia pada 2045 berasal dari anggota SUMU memang sangat ambisius (Muhammadiyah.or.id, 21 September 2024).
Namun, ukurannya tidak boleh berhenti pada lahirnya orang-orang kaya. Kekayaan harus diterjemahkan menjadi kapasitas menciptakan pekerjaan, menggerakkan inovasi, memperluas kepemilikan, dan menghadirkan manfaat sosial.
Muhammadiyah tidak semata-mata membutuhkan orang kaya. Muhammadiyah membutuhkan saudagar berkemajuan: tangguh dalam usaha, bersih tata kelolanya, jernih etikanya, dan luas kemanfaatannya.
Menghubungkan Pulau-Pulau Kekuatan
Masalah utama Muhammadiyah bukan kekurangan aset, pasar, talenta, ataupun pengusaha. Persoalannya, kekuatan tersebut masih menyerupai pulau-pulau yang belum sepenuhnya dihubungkan oleh jembatan ekonomi.
Perguruan tinggi mungkin menghasilkan riset unggul, tetapi tidak bertemu investor. Rumah sakit memiliki kebutuhan besar, tetapi belum seluruhnya terhubung dengan produsen di lingkungan sendiri.
UMKM memiliki produk, tetapi kesulitan memasuki rantai pasok amal usaha. Pengusaha memiliki modal, tetapi belum memperoleh peta peluang yang jelas.
Kekuatan besar yang tidak terhubung hanya akan menjadi kumpulan aset. Ia baru menjadi ekosistem ketika setiap bagian saling menciptakan nilai.
Karena itu, konsolidasi membutuhkan satu data potensi usaha, peta kebutuhan amal usaha, sistem pengadaan yang transparan, pembiayaan pertumbuhan, penguatan riset, serta platform distribusi yang mempertemukan produsen dengan pasar.
Holding, SUMU, jaringan pembiayaan, perguruan tinggi, dan amal usaha harus menjadi bagian dari satu arsitektur besar.
Menuju Daya Saing Global
Daya saing global tidak lahir hanya karena sebuah produk membawa nama Muhammadiyah. Pasar dunia tidak membeli sentimen organisasi.
Pasar membeli mutu, harga, inovasi, keandalan pasokan, kekuatan merek, dan kepercayaan.
Semangat “membeli produk sendiri” harus ditingkatkan menjadi keberanian “membuat produk sendiri yang layak dibeli siapa pun”.
Loyalitas warga penting sebagai landasan pertumbuhan, tetapi profesionalisme merupakan syarat memenangkan persaingan.
Muhammadiyah memiliki perguruan tinggi, diaspora, Pimpinan Cabang Istimewa di berbagai negara, serta jaringan kemanusiaan dan pendidikan internasional.
Semuanya dapat menjadi pintu bagi riset pasar, kemitraan produksi, pertukaran teknologi, promosi merek, dan distribusi. Ekspansi global dapat dimulai dari produk halal, pendidikan, teknologi kesehatan, industri kreatif, atau platform digital yang menjawab kebutuhan di negara lain.
Muktamar 2027 perlu menegaskan peta jalan ekonomi Persyarikatan: membangun satu data ekonomi; mengintegrasikan rantai pasok di antara amal usaha; memperkuat holding sebagai penggerak investasi; menyiapkan pembiayaan bagi usaha yang siap naik kelas; menjadikan kampus sebagai pusat inovasi; serta memanfaatkan jaringan internasional sebagai gerbang pasar global.
Tentu saja, semua itu harus tetap berjalan di atas nilai Al-Ma’un. Keuntungan tidak boleh lahir dari eksploitasi. Pertumbuhan tidak boleh merusak lingkungan. Profesionalisme tidak boleh kehilangan kemanusiaan.
Kompetisi tidak boleh mematikan yang kecil. Kekayaan harus berputar menjadi kemaslahatan.
Dari Kauman, Muhammadiyah pernah menggerakkan perubahan melalui keberanian para saudagar.
Kini sejarah memanggil Muhammadiyah melakukan lompatan berikutnya: menghubungkan amal usaha, badan usaha, kampus, komunitas pengusaha, teknologi, pembiayaan, dan jaringan global dalam satu ekosistem.
Dari ekosistem usaha yang terintegrasi itulah Muhammadiyah dapat melangkah, bukan hanya menuju kemandirian, tetapi menuju daya saing global.***





0 Tanggapan
Empty Comments