Iklan Mudipat Landscape
Iklan Mudipat Mobile

Membangun Atmosfer Akademik

Iklan Landscape Smamda
Membangun Atmosfer Akademik
Ilustrasi Ai
Oleh : Farid Suryanto Mahasiswa Program Doktoral, Lab. PSOC-ITS, dan Dosen Sistem Informasi UAD Yogyakarta

Tom Nichols, melalui bukunya The Death of Expertise, memberikan sinyal tentang perubahan cara masyarakat memandang pengetahuan. Demokratisasi informasi membuka kemungkinan bahwa argumen ilmiah seorang pakar justru kalah oleh pendapat awam yang lebih populer.

Di ruang digital, sebuah argumen dapat dianggap benar karena disebarkan berulang-ulang. Popularitas sering kali menjadi ukuran kebenaran, meskipun sebuah klaim belum melalui pembuktian ilmiah.

Sebaliknya, argumen yang dibangun pakar melalui pengumpulan data, analisis, dan serangkaian pembuktian dapat dicaci karena dianggap tidak populer atau bahkan meresahkan.

Orang yang memiliki popularitas tinggi di ruang digital akhirnya memiliki peluang besar memengaruhi orang lain, bahkan ketika pengaruh itu tidak selalu dibangun dari kepakaran dalam bidang tertentu. Di sinilah ruang akademik menjadi penting.

Hierarki sosial yang didasarkan pada popularitas, kekuasaan, atau usia semestinya tidak menjadi ukuran utama dalam ruang akademik, terutama di laboratorium. Hierarki tradisional itu menjadi cair karena argumen diuji melalui data, metode, dan literatur.

Di laboratorium, seseorang tidak dihargai semata-mata karena siapa dirinya, tetapi karena apa yang dapat ia buktikan.

Membangun Kepakaran

Laboratorium hidup sebagai ruang intelektual. Legitimasi seseorang tidak terutama ditentukan oleh usia, jabatan, atau popularitas, melainkan oleh keabsahan data, logika, dan kepakaran.

Seseorang yang ahli dalam satu bidang dapat menjadi guru bagi orang lain. Namun, pada saat yang sama, ia menjadi murid ketika berhadapan dengan bidang yang belum dikuasainya.

Saya merasakan hal itu selama berada di Laboratorium Power System Operation and Control (PSOC) ITS. Di sana saya belajar bahwa kepakaran tidak harus dibangun secara vertikal. Ia dapat tumbuh secara horizontal dan saling melengkapi.

Robert K. Merton pernah mengemukakan bahwa klaim kebenaran ilmiah harus dinilai secara objektif, terlepas dari subjektivitas yang melekat pada seseorang. Prinsip itu terasa nyata di Lab PSOC.

Professor Robandi, misalnya, mengarahkan saya yang berusia 41 tahun untuk belajar Systematic Literature Review (SLR) kepada Alvan yang berusia 24 tahun.

Mahasiswa doktoral Itmi yang berusia 42 tahun belajar Aliran Daya Listrik kepada Almas, yang telah meraih doktor pada usia sangat muda, 25 tahun.

Bahkan Professor sendiri belajar menggunakan aplikasi web berbasis AI kepada Deyn, mahasiswa S3 bimbingannya yang baru berusia 24 tahun.

Awalnya saya sempat terkejut. Di laboratorium ini banyak anak muda yang sedang menempuh program doktoral. Namun, semakin lama berada di dalamnya, saya justru melihat bahwa usia memang bukan ukuran utama dalam proses belajar.

Yang penting adalah apa yang kita kuasai dan apa yang dapat kita bagikan. Otoritas keilmuan di Lab PSOC dibangun secara cair dan berbasis proyek. Setiap orang memiliki ruang untuk mengembangkan kepakarannya masing-masing. Dinamika di meja laboratorium pun selalu hidup karena kepakaran tidak tersentralisasi pada satu orang.

Suatu hari, ketika diskusi berlangsung hangat, saya memperkenalkan pendekatan SLR menggunakan metode Preferred Reporting Items for Systematic Reviews and Meta-Analyses (PRISMA) berbantuan Agentic AI (AAI).

Saya memang telah lama mempelajari penggunaan Large Language Model (LLM). Belakangan saya juga cukup intensif mempelajari AAI untuk meningkatkan efisiensi beberapa pekerjaan.

Gagasan menggunakan AAI untuk SLR ternyata menjadi sesuatu yang baru bagi rekan-rekan PSOC yang selama ini lebih banyak berfokus pada penelitian sistem tenaga listrik. Di situlah saya melihat bahwa kepakaran dapat bergerak dari satu orang kepada orang lain. Ilmu pengetahuan menjadi bingkai dalam setiap aktivitas di laboratorium.

Professor Robandi, dalam perspektif saya, sengaja tidak membangun kepakaran yang tersentral dan melekat hanya kepada dirinya. Pola itu justru memberikan ruang luas bagi anggota laboratorium untuk bereksplorasi. Professor membangun arah.

Dalam rekayasa perangkat lunak, arah itu seperti rancang bangun tingkat tinggi yang menentukan pola desain yang lebih operasional. Ia seperti peta dan kompas untuk menelusuri setiap jengkal hutan ilmu pengetahuan.

Bagi saya yang masih “buta” dalam bidang sistem tenaga listrik, arah itu adalah hal paling berharga. Ia memberikan keyakinan bahwa suatu saat saya akan sampai ke tujuan.

Memantik Dinamika

Dalam satu tahun, Lab PSOC setidaknya mengerjakan 16 proyek penelitian. Semuanya mengacu pada road map yang telah dibangun Prof. Imam.

Proyek penelitian menjadi bahan bakar yang menggerakkan dinamika atmosfer akademik.

Setiap proyek memiliki target luaran yang definitif. Calon doktor ditargetkan mencapai jurnal Q1, sedangkan mahasiswa master dapat menargetkan jurnal Q2 atau Q3 atau satu presentasi internasional.

Professor Robandi membagi proyek-proyek tersebut ke dalam sejumlah tim. Setiap tim memiliki penanggung jawab.

Menariknya, seseorang yang menjadi penanggung jawab dalam satu proyek dapat menjadi anggota dalam proyek yang lain. Dengan pola itu, setiap orang memiliki kesempatan menjadi pemimpin sekaligus anggota.

“Kamu di sini harus mengerjakan proyek,” kata Prof. Imam. “Tanpa proyek, kamu akan menjadi doktor-doktoran.”

Kalimat itu sederhana, tetapi mengandung pesan penting. Gelar akademik tidak cukup. Seseorang harus memiliki pengalaman menyelesaikan persoalan nyata melalui proses penelitian.

Topik proyek penelitian dan anggaran telah disediakan. Namun, untuk mendapatkannya tetap diperlukan kompetisi yang ketat.

Belajar di laboratorium akhirnya bukan sekadar belajar teori. Ia adalah belajar menyelesaikan masalah secara akademis sekaligus praktis. Proyek juga memaksa seseorang menyelesaikan pekerjaan dalam rentang waktu tertentu.

Yu Kai Chou, dalam bukunya Gamification, menjelaskan tujuh pendorong utama yang dapat memicu seseorang melakukan sebuah aksi. Salah satunya adalah kelangkaan.

Sumber daya selalu terbatas, sementara kebutuhan manusia tidak terbatas. Kondisi itu dirasakan setiap tim di Lab PSOC. Waktu terbatas. Target luaran harus dipenuhi. Justru dari keterbatasan itu muncul dinamika.

Proyek penelitian pada akhirnya tidak hanya menghasilkan publikasi. Ia juga menciptakan pengalaman.

Solusi terpecahkan. Dinamika tumbuh. Mahasiswa memperoleh kesempatan berhadapan dengan persoalan akademik yang nyata.

Publikasi memang penting karena membuat gagasan dapat dibaca oleh orang di berbagai belahan dunia. Namun, ada dampak lain yang tidak kalah penting: kemampuan dan pengalaman mahasiswa ikut tumbuh.

Tentu dengan satu catatan: mahasiswa benar-benar dilibatkan dalam proyek tersebut. Itulah yang saya rasakan di Lab PSOC.

SMPM 5 Pucang SBY

Melatih Kompleksitas

Orang yang sangat pintar di sekolah belum tentu mampu bertahan menghadapi kompleksitas kehidupan.

Professor Robandi tidak hanya mendidik anggota laboratorium agar pandai menulis jurnal ilmiah. Kami juga dilatih menghadapi berbagai situasi yang mungkin ditemui di kehidupan sebenarnya.

Saya melihatnya mirip dengan algoritma Multi Agent Reinforcement Learning (MARL).

Agen tidak hanya dilatih dalam kondisi ideal. Ia juga berhadapan dengan berbagai kemungkinan sehingga dapat mengambil keputusan yang lebih tepat ketika menghadapi situasi berikutnya.

Ketika saya mengambil program master pada 2015, Yose dan Darmansah yang sedang menempuh program doktoral diminta Profesor mengikuti konferensi di Jepang.

Menulis manuskrip untuk konferensi ilmiah adalah satu kerumitan. Pergi ke Jepang adalah kerumitan yang lain.

Namun, perjalanan itu bukan sekadar perjalanan akademik. Ada kapasitas personal yang ikut dibangun.

Pergi ke Jepang dengan segala kompleksitasnya seperti melatih agen dalam MARL agar memiliki informasi lebih banyak tentang rintangan kehidupan.

Manfaatnya mungkin tidak terasa saat itu juga. Tetapi pengalaman semacam itu dapat menentukan kemampuan seseorang ketika harus mengambil keputusan pada masa berikutnya.

Pengalaman serupa terjadi ketika saya dan Alif, teman satu angkatan di program magister, diajak Profesor ke Purwokerto.

Kami menghadiri konferensi, tetapi ada agenda lain yang tidak berkaitan langsung dengan seminar ilmiah: pengajian untuk para guru di Purwokerto.

Kami dikenalkan kepada peserta yang sebagian besar merupakan guru sekolah Muhammadiyah.

Dari pengalaman itu saya mulai memahami bahwa Profesor tidak hanya menyiapkan anggota laboratorium agar siap secara akademik. Kami juga disiapkan untuk hidup di tengah masyarakat.

Secara personal, saya banyak belajar dari Profesor Robandi tentang kapan harus menggunakan kemampuan akademik dan kapan harus menggunakan kemampuan berelasi dengan manusia.

Belakangan saya memahami bahwa pelajaran tersebut sangat relevan dengan gagasan dalam buku Practical Wisdom karya Barry Schwartz, psikolog Amerika.

Pengetahuan memang penting. Tetapi pengetahuan saja tidak selalu cukup. Ada saat ketika seseorang harus tahu bagaimana menggunakan pengetahuannya dalam situasi yang nyata.

Memperluas Tradisi

Ilmu pengetahuan pada dasarnya lahir dari persoalan yang ada di masyarakat. Akademisi menyelesaikan persoalan itu secara sistematis. Metodenya kemudian didokumentasikan agar dapat dipelajari dan ditiru oleh orang lain.

Semakin banyak orang menggunakan sebuah metode, semakin metode itu menyatu dengan kehidupan masyarakat.

Pada titik tertentu, metode itu bahkan tidak lagi harus diajarkan secara formal oleh akademisi. Ia telah berubah menjadi tradisi. Pengetahuan diwariskan dari satu generasi kepada generasi berikutnya. Di situlah ilmu pengetahuan menemukan bentuk kebermanfaatannya yang paling nyata.

Akademisi tidak perlu lagi mengajarkan masyarakat Jepara bagaimana membuat ukiran kayu karena keterampilan itu telah menjadi bagian dari kehidupan masyarakat dan diwariskan dari generasi ke generasi.

Orang-orang di Songgom, Brebes, Jawa Tengah, juga tidak perlu diajari lagi metode membuat tali tambang karena pengetahuan tersebut telah menjadi bagian dari kehidupan mereka.

Sebuah masyarakat akan menjadi semakin beradab ketika pengetahuan tidak berhenti di ruang kuliah dan laboratorium.

Bayangkan jika perbincangan di pos ronda tidak hanya tentang harga kebutuhan pokok atau pertandingan sepak bola, tetapi juga tentang buku, persamaan matematika, atau sejarah Yunani Kuno.

Itu bukan utopia yang terlalu jauh. Itulah arah yang semestinya dituju oleh ruang akademik kita.

Saat ini, menurut saya, ilmu pengetahuan masih relatif eksklusif. Banyak pengetahuan hanya berputar di antara komunitas akademik di kampus.

Karena itu, inklusivitas ilmu pengetahuan perlu terus digerakkan agar kualitas masyarakat ikut meningkat.

Saya melihat upaya itu telah dilakukan Profesor Robandi melalui Iro-Society yang dibangun sejak 2016.

Iro-Society membentuk komunitas belajar dari berbagai lapisan masyarakat. Mereka konsisten belajar dan berkarya.

Sejak 2020, komunitas ini secara konsisten menyelenggarakan webinar setiap Jumat malam. Enam tahun bukan waktu yang singkat untuk menjaga sebuah tradisi belajar tetap hidup.

Yang menarik, siapa pun yang telah mencapai fase tertentu dalam proses belajarnya dapat menjadi narasumber. Kepakaran tidak dibangun dari popularitas. Kepakaran dibangun dari karya.

Tradisi kehidupan akademik di laboratorium akhirnya dapat merembet ke masyarakat. Tidak harus menunggu program pengabdian masyarakat dengan anggaran yang besar. Tidak harus menunggu seseorang diberi jabatan. Tidak harus menunggu seseorang menjadi terkenal.

Cukup mulai dari satu hal: menciptakan ruang tempat orang mau belajar, berbagi, menguji gagasan, dan kembali belajar dari orang lain.

Mungkin itulah atmosfer akademika yang sebenarnya. Bukan ruangan yang penuh orang pintar. Melainkan ruang yang membuat setiap orang memiliki kesempatan untuk menjadi murid, menjadi guru, dan terus bergerak dari satu pengetahuan menuju pengetahuan yang lain. (*)

Revisi Oleh:
  • Agus Wahyudi - 03/10/2026 15:14
SD Kreatif

Baca Lainnya

Adv UMSURA

0 Tanggapan

Empty Comments

Search
Menu