Iklan Mudipat Landscape
Iklan Mudipat Mobile

Rizky Ridho, dari Kampus Umsura hingga Ambang Sejarah

Iklan Landscape Smamda
Rizky Ridho, dari Kampus Umsura hingga Ambang Sejarah
Pemian Timnas Indonesia Rizky Ridho. Foto: Bola.com

Ada pemain yang tumbuh karena bakat. Ada yang tumbuh karena kesempatan. Ada pula yang tumbuh karena berkali-kali diuji.

Rizky Ridho agaknya masuk kelompok terakhir. Ia lahir di Surabaya, 21 November 2001. Ia juga mahasiswa Universitas Muhammadiyah Surabaya (Umsura), Program Studi Manajemen, Fakultas Ekonomi dan Bisnis. Dari kota itu pula perjalanan sepak bolanya dimulai.

Ridho pernah berlatih di SSB Sumo Putro. Kemudian bergabung dengan El Faza, sebelum masuk akademi Persebaya pada 2018.

Di Persebaya U-20, Ridho menjadi bagian dari tim yang menjuarai Elite Pro Academy U-20 2019. Prestasi itu membuka pintu menuju tim senior. Dia dipromosikan pada 2020.

Debutnya bersama Persebaya terjadi dalam laga uji coba melawan Persis Solo, 11 Januari 2020. Debut liganya datang dua bulan kemudian, melawan Persipura Jayapura.

Kariernya kemudian bergerak cepat. Dari lapangan kecil. Ke Persebaya. Lalu ke Timnas Indonesia. Kemudian Persija Jakarta.

Dan kini menjadi salah satu bek yang bertahan cukup lama di tengah perubahan generasi dan pergantian pelatih Timnas Indonesia.

Di Persija, Ridho bergabung pada 2023. Dia menandatangani kontrak tiga tahun. Pada musim 2024/2025, dia dipercaya menjadi kapten. Data I.League mencatat, hingga musim 2025/2026, dia telah menjalani puluhan pertandingan untuk Persija setelah sebelumnya membela Persebaya.

Namun cerita Ridho yang lebih menarik justru ada di Timnas. Dia melewati banyak pintu. Mulai dari kelompok umur. Timnas U-19. Timnas U-23. Kemudian senior.

Pada 2019, dia memperkuat Timnas U-19. Ridho juga menjadi kapten ketika menghadapi Bulgaria U-19 pada 5 September 2020.

Lalu datang Shin Tae-yong (STY). Mei 2021. Ridho dipanggil ke tim senior. Usianya baru 19 tahun. Pada 29 Mei 2021, dia menjalani debut melawan Oman. Ia bermain penuh 90 menit.

STY bukan sekadar pelatih dalam perjalanan Ridho. Bagi Ridho, STY pernah disebut sebagai mentor, teman, panutan, bahkan seperti orang tua.

Di bawah STY, dia mendapat banyak kepercayaan. Bukan hanya karena ia pemain lokal. Tetapi karena ia mampu bertahan di tengah persaingan yang semakin berat.

Satu per satu bek keturunan datang. Bermain di Eropa. Memiliki pengalaman dari berbagai kompetisi. Tetapi nama Rizky Ridho tetap muncul. Dia tetap dipanggil. Tetap dimainkan. Tetap dipercaya.

Itulah bagian menarik dari perjalanan seorang pemain. Bukan tentang siapa yang datang. Tetapi tentang siapa yang tetap bertahan.

Kemudian STY pergi. Patrick Kluivert datang. Pergantian pelatih biasanya berarti pergantian selera. Pemain yang kemarin menjadi pilihan utama belum tentu masuk rencana pelatih baru. Ridho kembali menghadapi ujian. Tetapi dia tidak hilang.

***

Pada Maret 2025, ketika Indonesia menghadapi Bahrain dalam Kualifikasi Piala Dunia 2026, Kluivert justru memuji penampilan Ridho.

Ridho bermain penuh. Kluivert menyebut penampilannya impresif dan mengatakan ia melakukan pekerjaannya dengan baik. Artinya sederhana. Ridho tidak hidup dari reputasi masa lalu. Dia harus membuktikan diri lagi.

Setiap pelatih datang dengan ukuran sendiri. Setiap pertandingan menjadi ruang ujian baru.

Lalu datang John Herdman. Pelatih baru lagi. Cerita baru lagi. Dan Ridho masih ada. Namanya masuk dalam daftar 23 pemain Indonesia untuk FIFA ASEAN Cup 2026 yang diumumkan 19 September. Ia berada di antara para pemain yang berkompetisi di dalam dan luar negeri.

Ada satu hal yang menarik. Sebelum daftar itu diumumkan, nama Ridho sempat dikabarkan dicoret. Isu itu ramai.

Bagi seorang pemain, kabar seperti itu tentu tidak ringan. Tetapi PSSI kemudian menegaskan bahwa kabar tersebut hoaks. Saat isu beredar, daftar resmi bahkan belum diserahkan Herdman kepada PSSI.

Ridho akhirnya bukan hanya masuk skuad. Dia bermain. Bahkan menjadi starter ketika Indonesia menghadapi Bangladesh pada 1 Oktober. Dan di pertandingan itu, ia mencetak gol. Menit ke-32. Tendangan keras. Bola meluncur ke gawang Bangladesh. Indonesia menang 9-2.

Gol Ridho menjadi gol ketiga Indonesia malam itu. FIFA mencatatnya sebagai salah satu pencetak gol dalam pesta sembilan gol Garuda.

Begitulah sepak bola. Pagi hari seseorang bisa diberitakan akan dicoret. Malam harinya ia berada di lapangan. Lalu mencetak gol. Tidak perlu banyak bicara. Lapangan yang menjawab.

SMPM 5 Pucang SBY

Tetapi ada satu bagian dari perjalanan Ridho yang menurut saya jauh lebih penting daripada gol. Mental.

Setelah Indonesia gagal melaju ke semifinal Piala AFF 2026, Ridho meminta maaf kepada masyarakat Indonesia.

Dia tidak mencari kambing hitam. Tidak menyalahkan teman. Tidak menyalahkan pelatih. Dia mengakui tim tampil mengecewakan.

“Maaf jika kami terlalu mengecewakan,” katanya setelah Indonesia bermain imbang 1-1 dengan Singapura.

Kalimat itu pendek. Tetapi tidak mudah mengucapkannya. Terutama bagi seorang pemain yang baru saja gagal. Lebih-lebih seorang kapten.

Di sinilah mental seorang pemain profesional sebenarnya terlihat. Bukan hanya ketika menang. Justru ketika kalah.

***

Ada beberapa catatan yang pantas disimak. Pertama, pemain tidak hanya dibentuk oleh kemenangan Kemenangan membuat orang mudah percaya diri. Kekalahan mengajarkan hal lain. Mengajarkan cara berdiri kembali.

Ridho sudah merasakan keduanya. Dia pernah menjadi juara bersama Persebaya U-20. Dia ikut membawa Timnas U-23 meraih emas SEA Games 2023. Dia juga merasakan kegagalan. Merasa kecewa. Dikritik.

Karier yang panjang memang seperti itu. Tidak lurus. Ada naik. Ada turun. Yang penting bukan tidak pernah jatuh. Tetapi tahu bagaimana berdiri lagi.

Kedua, mental bukan berarti tidak pernah takut. Pemain profesional bukan manusia tanpa rasa takut. Dia juga bisa cemas. Bisa kecewa. Bisa bertanya-tanya. Termasuk ketika namanya disebut-sebut akan dicoret.

Mental bukan berarti tidak memiliki perasaan. Mental adalah kemampuan untuk tetap bekerja ketika perasaan sedang tidak nyaman.

Ridho tidak perlu membuktikan dirinya melalui pernyataan panjang. Dia cukup terus berlatih. Kemudian ketika kesempatan datang, ia bermain.

Ketiga, teknik membawa pemain ke lapangan, mental membuatnya bertahan Bek tengah membutuhkan teknik. Membaca permainan. Menghentikan lawan. Memenangi duel. Mengirim umpan. Mencetak gol jika kesempatan datang.

Tetapi itu belum cukup. Ada tekanan penonton. Ada kritik. Ada pergantian pelatih. Ada persaingan. Ada pemain baru. Ada pertandingan yang buruk. Ada kesalahan yang terus diputar ulang di media sosial. Tubuh harus kuat. Kaki harus siap. Tetapi kepala juga harus tetap dingin.

Karier Ridho menunjukkan bagian itu. Dia tidak selalu menjadi pemain yang paling ramai dibicarakan. Tetapi ia terus muncul.

Keempat, pemain besar tahu kapan harus bicara, kapan harus bekerja. Ada saat untuk meminta maaf. Ada saat untuk menerima kritik. Ada saat untuk diam. Dan ada saat untuk menjawab.

Ridho pernah meminta maaf setelah kegagalan. Kemudian ketika muncul kabar tentang pencoretannya, fakta akhirnya berbicara. Dia masuk skuad. Herdman memainkannya. Dan pada 1 Oktober, dia mencetak gol ke gawang Bangladesh.

Tidak semua persoalan harus dijawab dengan kata-kata. Sebagian cukup dijawab dengan pekerjaan.

Kini, Indonesia sudah berada di final FIFA ASEAN Cup 2026. Ridho masih ada di sana. Bek kelahiran Surabaya itu telah melewati beberapa generasi. Melewati beberapa pelatih.

Ada sesuatu yang mungkin bisa dipelajari dari perjalanan itu. Menjadi pemain profesional bukan sekadar soal kaki. Bukan sekadar soal otot. Bukan sekadar soal kecepatan.

Ada kepala. Ada hati. Ada keberanian untuk menerima kesalahan. Ada kesabaran menghadapi pergantian zaman. Dan ada keteguhan untuk tetap bekerja ketika orang lain mulai meragukan.

Sebab pada akhirnya, sejarah tidak selalu ditulis oleh mereka yang paling banyak dibicarakan. Kadang sejarah ditorehkan oleh mereka yang terus bertahan, terus bekerja, dan tetap berdiri ketika kesempatan datang.

Rizky Ridho kini berada di ambang halaman itu. Thailand menunggu. Tinggal selangkah. Jika sejarah harus ditulis, biarlah Ridho menorehkannya dengan kakinya sendiri. Di atas rumput. Bersama Merah Putih. (*)

Revisi Oleh:
  • Agus Wahyudi - 04/10/2026 03:38
SD Kreatif

Baca Lainnya

Adv UMSURA

0 Tanggapan

Empty Comments

Search
Menu