Sejarah pergerakan Islam di Surabaya menyimpan pelajaran penting: perbedaan organisasi tidak selalu berarti perbedaan perjuangan. KH Hasan Basri Sagidipon atau KH Hasan Gipo (1869–1934) dan KH Mas Mansur adalah dua tokoh yang menunjukkan bagaimana persaudaraan dapat tetap tumbuh di tengah perbedaan jalan organisasi.
Keduanya sama-sama putra Surabaya dan memiliki hubungan persaudaraan. Namun, perjalanan dakwah mereka kemudian berlangsung melalui organisasi yang berbeda. KH Hasan Gipo menjadi Ketua Tanfidziyah pertama Nahdlatul Ulama, sedangkan KH Mas Mansur dikenal sebagai tokoh Muhammadiyah dan pernah memimpin Muhammadiyah Cabang Surabaya.
Yang menarik, perbedaan organisasi itu tidak memutus hubungan keduanya. Bahkan, makam KH Hasan Gipo dan KH Mas Mansur berada dalam satu kompleks di kawasan Masjid Ampel, Surabaya.
Jejak sejarah tersebut menjadi penting untuk dibaca kembali ketika ukhuwah umat kerap diuji oleh perbedaan pilihan organisasi, tradisi, maupun cara pandang.
Kisah keduanya menunjukkan bahwa organisasi dapat menjadi jalan pengabdian, bukan tembok yang memisahkan persaudaraan.
Hasan Gipo dan Semangat Dakwah Bil Hal
KH Hasan Gipo bukan hanya dikenal sebagai tokoh awal Nahdlatul Ulama. Ia juga seorang saudagar yang menggunakan kekayaannya untuk mendukung perjuangan, pendidikan, dan kepentingan umat.
Dalam situasi masyarakat yang hidup di bawah penjajahan, akses pendidikan masih terbatas, pelayanan kesehatan belum memadai, dan kesejahteraan rakyat terabaikan, Hasan Gipo memilih mengambil bagian dalam perubahan.
Kekayaan yang dimilikinya tidak berhenti sebagai kepentingan pribadi. Sebagian digunakan untuk membantu perjuangan dan kegiatan keumatan.
Sikap tersebut memperlihatkan dakwah bil hal: dakwah yang tidak berhenti pada kata-kata, tetapi diwujudkan melalui tindakan dan pengorbanan.
Peran Hasan Gipo juga tidak dapat dilepaskan dari dinamika pergerakan ulama Surabaya pada awal abad ke-20. Kota perdagangan itu sekaligus menjadi ruang perjumpaan para ulama dan aktivis yang memikirkan masa depan umat dan bangsa.
Taswirul Afkar yang berdiri pada 1914, misalnya, menjadi salah satu ruang pertemuan dan pertukaran gagasan para ulama. Di antara tokoh yang terlibat adalah KH Wahab Chasbullah, KH Dahlan Achyat, dan KH Mas Mansur.
Kemudian muncul Nahdlatul Wathan pada 1916. Dalam perkembangan berikutnya, KH Mas Mansur memilih jalan Muhammadiyah. Ia mundur dari aktivitas Nahdlatul Wathan setelah dipercaya memimpin Muhammadiyah Cabang Surabaya pada 1 November 1921.
Perjalanan itu memperlihatkan bahwa dinamika organisasi Islam di Surabaya sejak awal tidak berlangsung dalam ruang yang terpisah-pisah.
Para tokohnya saling mengenal, berinteraksi, berdiskusi, dan pada titik tertentu bekerja untuk kepentingan yang lebih besar.
Dari Surabaya untuk Perjuangan Bangsa
Pada 1926, dinamika tersebut memasuki babak penting dengan lahirnya Nahdlatul Ulama. Komite Hijaz menjadi salah satu mata rantai penting dalam proses tersebut.
Dalam konteks itu, KH Hasan Gipo kemudian dipercaya menjadi Ketua Tanfidziyah pertama Nahdlatul Ulama, dengan KH Hasyim Asy’ari sebagai Rais Akbar.
Posisi tersebut menunjukkan besarnya kepercayaan kepada Hasan Gipo. Ia bukan sekadar saudagar yang mendukung perjuangan dengan harta, tetapi juga menjadi bagian dari kepemimpinan organisasi yang kelak memainkan peran penting dalam sejarah umat Islam Indonesia.
Di sisi lain, KH Mas Mansur menempuh jalan perjuangan melalui Muhammadiyah. Kiprahnya kemudian berkembang hingga tingkat nasional. Ia terlibat dalam perjuangan kebangsaan dan akhirnya ditetapkan sebagai Pahlawan Nasional melalui Keputusan Presiden Nomor 162 Tahun 1964.
Dua tokoh itu menempuh jalan organisasi berbeda, tetapi memiliki titik temu yang sama: agama, kemajuan masyarakat, dan kepentingan bangsa.
Di sinilah sejarah keduanya menjadi relevan untuk generasi sekarang. Perbedaan wadah perjuangan ternyata tidak harus melahirkan jarak dalam persaudaraan.
Muhammadiyah dan NU Bertemu di Langgar Gipo
Semangat persaudaraan itu kembali tampak dalam upaya merawat jejak sejarah kedua tokoh tersebut.
Dalam sarasehan dan haul KH Hasan Gipo di kawasan Ampel, Surabaya, Sabtu (26/9/2026), hadir sejumlah tokoh yang mendorong agar sejarah perjuangan Hasan Gipo terus digali dan dikenalkan kepada masyarakat.
Pengasuh Pondok Pesantren Amanatul Ummah Prof. Dr. KH Asep Saifuddin Chalim termasuk yang mendorong pengusulan Hasan Gipo sebagai Pahlawan Nasional.
Menurut dia, jasa Hasan Gipo dalam perjuangan bangsa sangat besar sehingga layak mendapatkan penghargaan tertinggi dari negara.
“Sudah sepantasnya perjuangan KH Hasan Gipo mendapat penghargaan tertinggi dari negara, gelar Pahlawan Nasional,” ujarnya.
Namun, pesan penting dari pertemuan tersebut tidak berhenti pada gagasan pemberian gelar. Ada pesan sejarah yang jauh lebih panjang: bagaimana generasi sekarang membaca hubungan para pendahulu yang mampu bekerja bersama meski kemudian berada dalam organisasi yang berbeda.
Pesan itu bahkan hadir secara simbolik ketika Pimpinan Daerah Muhammadiyah Kota Surabaya melalui Sekretaris Catur Anang Hutoyo dan Bendahara Musa Abdullah membawa plakat Muhammadiyah untuk ditempatkan di Langgar Gipo, berdampingan dengan simbol Nahdlatul Ulama.
Sebelumnya, di tempat tersebut juga telah ditempatkan pigura yang menampilkan KH Mas Mansur dan KH Hasan Gipo.
Simbol tersebut menjadi pengingat bahwa sejarah Muhammadiyah dan Nahdlatul Ulama di Surabaya tidak seluruhnya dapat dibaca melalui batas organisasi.
Ada jejaring persaudaraan, perjumpaan gagasan, dan semangat perjuangan yang jauh lebih tua daripada sekat-sekat yang sering muncul dalam percakapan umat hari ini.
Sejarah yang Perlu Dihidupkan
Karena itu, menggali sejarah KH Hasan Gipo dan KH Mas Mansur bukan sekadar pekerjaan mengenang masa lalu. Sejarah tersebut dapat menjadi bahan refleksi untuk kehidupan umat hari ini.
Keduanya memperlihatkan bahwa perbedaan organisasi dapat berjalan bersama dengan persaudaraan. Bahkan, ketika tujuan besarnya adalah kemajuan umat dan bangsa, perbedaan jalan perjuangan justru dapat menjadi kekayaan.
Hasan Gipo memberikan teladan tentang keberanian mengorbankan harta dan tenaga untuk kepentingan umat. Mas Mansur menunjukkan keteguhan perjuangan melalui pendidikan, dakwah, organisasi, dan perjuangan kebangsaan.
Keduanya meninggalkan pesan yang sederhana tetapi penting: persaudaraan tidak harus menunggu kesamaan organisasi.
Justru ketika perbedaan itu ada, sejarah KH Hasan Gipo dan KH Mas Mansur mengajarkan bagaimana perbedaan tetap dapat diletakkan dalam bingkai ukhuwah dan kepentingan yang lebih besar.
Di tengah kehidupan umat yang semakin kompleks, jejak dua tokoh Surabaya itu layak terus dirawat.
Bukan sekadar agar nama mereka tidak hilang dari sejarah, tetapi agar cara mereka membangun hubungan, menghormati perbedaan, dan mengabdikan diri kepada umat dapat kembali menjadi teladan. (*)





0 Tanggapan
Empty Comments