Iklan SDM 4 Mudipat 2026

Kiai Najih Ihsan Jelaskan Perbedaan Menyembah Allah dan Mengesakan-Nya

Iklan Smamda Sidoarjo 2026
Kiai Najih Ihsan Jelaskan Perbedaan Menyembah Allah dan Mengesakan-Nya
KH Najih Ihsan. Foto: Mashuri/PWMU.CO

Tauhid merupakan landasan utama dalam ibadah seorang Muslim. Karena itu, menjalankan salat, puasa, zakat, dan haji perlu disertai keyakinan bahwa hanya Allah SWT yang berhak disembah dan menjadi tujuan penghambaan.

Pesan tersebut disampaikan KH Najih Ihsan dalam Kajian Ahad Pagi Pekan Ketiga di Masjid Al-Ilham Wage, Kecamatan Taman, Kabupaten Sidoarjo, Ahad (18/10/2026).

Dalam kajian Kitab Tauhid yang membahas buku Ulasan Tuntas tentang Tiga Prinsip Pokok: Siapa Rabbmu, Apa Agamamu, Siapa Nabimu, ia menjelaskan bahwa perintah Allah yang paling agung adalah bertauhid, yakni mengesakan Allah dalam ibadah.

“Yang paling besar, yang paling agung diperintahkan Allah adalah bertauhid, yaitu mengesakan Allah Subhanahu wa Taala di dalam beribadah,” jelas anggota Majelis Tabligh PWM Jawa Timur itu.

Menurutnya, pemahaman tauhid perlu menjadi dasar bagi seorang Muslim dalam menjalankan seluruh bentuk ibadah.

Penghambaan kepada Allah bukan hanya berkaitan dengan pelaksanaan ritual, tetapi juga dengan keyakinan yang mendasari ibadah tersebut.

Kiai Najih mengawali penjelasannya dengan mengutip firman Allah dalam Al-Qur’an Surah Adz-Dzariyat ayat 56:

وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْإِنْسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ

“Dan tidaklah Aku menciptakan jin dan manusia kecuali agar mereka beribadah kepada-Ku.”

Dia lalu menjelaskan bahwa kata ya‘budūn dalam ayat tersebut, menurut penafsiran yang dibahas dalam kitab yang dikaji, berkaitan dengan makna yuwahhidūn, yaitu mengesakan Allah.

“Jadi, antara menyembah Allah dan mengesakan Allah itu berbeda. Orang yang menyembah Allah belum tentu menjadikan Allah sebagai satu-satunya sesembahan. Namun, kalau yuwahhidūn, artinya mengesakan Allah, maka jelas bahwa penghambaan itu hanya ditujukan kepada Allah,” papar Kiai Najih.

Penjelasan tersebut menegaskan pentingnya memahami hakikat ibadah. Seorang Muslim tidak cukup hanya memperhatikan bentuk lahiriah amalnya, tetapi juga harus menjaga kemurnian keyakinan dan penghambaan kepada Allah.

Salat, zakat, puasa, dan haji tetap merupakan ibadah yang diperintahkan Allah. Tauhid menjadi landasan agar seluruh amalan tersebut dijalankan dengan keyakinan yang benar serta terhindar dari kesyirikan.

Al-Hanifiyah dan Keteladanan Nabi Ibrahim

Pembahasan berikutnya mengangkat konsep al-hanifiyah, yakni memurnikan penghambaan kepada Allah dan menjauhi segala bentuk kesyirikan.

Kiai Najih Ihsan mengaitkan konsep tersebut dengan agama Nabi Ibrahim yang menjadi teladan dalam memurnikan penghambaan kepada Allah.

“Agama yang pelaksanaannya itu harus dijauhkan dari syirik. Itu millata Ibrahim. Agama warisannya Nabi Ibrahim,” jelasnya.

Menurutnya, prinsip tersebut mengingatkan umat Islam untuk menjaga kemurnian ibadah. Tauhid tidak cukup dipahami sebagai pengetahuan tentang keesaan Allah, tetapi harus tercermin dalam keyakinan dan praktik beragama sehari-hari.

Dia juga menjelaskan istilah ar-rusyd, yakni petunjuk menuju jalan yang benar. Dalam pembahasan kitab tersebut, penulis mengawali uraian dengan doa agar pembaca memperoleh petunjuk dan kemampuan untuk menaati Allah.

Iklan SMPM 5 Surabaya 2026

“Jadi penulis Kitab Tauhid ini mengajak kepada kita semuanya dan mendoakan semoga kita memperoleh istiqamah ala thariqil haq,” tutur Kiai Najid.

Pesan ini menekankan bahwa mempelajari tauhid harus diikuti upaya menjaga istiqamah. Ilmu agama tidak berhenti sebagai pengetahuan, tetapi menjadi pedoman dalam menentukan sikap dan menjalani kehidupan.

Mengenal Ibadah Kauniyah dan Syar’iyah

Pada pembahasan halaman 53–54 buku yang dikaji, Kiai Najih Ihsan menjelaskan dua macam ibadah, yaitu ibadah kauniyah dan ibadah syar’iyah.

Pertama, ibadah kauniyah, yakni ketundukan seluruh makhluk terhadap ketentuan Allah dalam tatanan penciptaan. Ketundukan ini berlaku bagi seluruh makhluk, baik orang beriman maupun orang kafir.

Pembahasan tersebut merujuk pada Al-Qur’an Surah Maryam ayat 93, yang menjelaskan bahwa seluruh makhluk di langit dan di bumi akan datang kepada Allah sebagai hamba.

Kedua, ibadah syar’iyah, yaitu ketundukan kepada Allah melalui pelaksanaan syariat yang dibawa para rasul. Ibadah ini berkaitan dengan ketaatan manusia dalam menjalankan perintah dan menjauhi larangan Allah.

“Sebagai contoh, kitab tersebut merujuk pada Surah Al-Furqan ayat 63 tentang hamba-hamba Allah Yang Maha Pengasih yang berjalan di bumi dengan rendah hati,” ungkap dia.

Pembagian tersebut membantu jamaah memahami cakupan ibadah sekaligus membedakan ketundukan seluruh makhluk terhadap ketentuan Allah dengan ketaatan manusia dalam menjalankan syariat.

Dalam kedua pembahasan itu, tauhid tetap menjadi pokok penting dalam memahami kedudukan manusia sebagai hamba Allah.

Pada pembahasan halaman 54–55, kitab tersebut kembali menegaskan tauhid sebagai upaya mengesakan Allah melalui ibadah.

Prinsip ini menuntut seorang Muslim mengarahkan penghambaan hanya kepada Allah, menjauhi kesyirikan, dan menjaga keikhlasan dalam menjalankan agama.

Karena itu, mempelajari tauhid bukan sekadar memperkaya pengetahuan keagamaan. Pemahaman tersebut perlu mendorong seseorang memperbaiki keyakinan, meningkatkan kualitas ibadah, dan menjaga ketaatan dalam kehidupan sehari-hari.

Kajian Ahad Pagi Pekan Ketiga di Masjid Al-Ilham Wage berlangsung pukul 06.00–07.00 WIB dan terbuka untuk umum.

Masjid Al-Ilham Wage beralamat di Pondok Wage Indah 1 Blok F1-2, Desa Wage, Kecamatan Taman, Kabupaten Sidoarjo, Jawa Timur. Jamaah yang tidak dapat hadir secara langsung juga dapat mengikuti kajian melalui kanal YouTube Masjid Al-Ilham. (*)

Siaran kajian dapat disimak melalui tautan berikut:

Revisi Oleh:
  • Agus Wahyudi - 18/10/2026 15:47
SD Kreatif
Adv UMSURA

0 Tanggapan

Empty Comments

Search
Menu