Iklan SDM 4 Mudipat 2026

Dua Inovasi Ormawa UMM Tembus Final Abdidaya 2026, dari Mesin Kompos hingga Wisata Digital

Iklan Smamda Sidoarjo 2026
Dua Inovasi Ormawa UMM Tembus Final Abdidaya 2026, dari Mesin Kompos hingga Wisata Digital
Penyeraha mesin kompos karya mahasiswa. Foto: UMM
pwmu.co -

Dua organisasi mahasiswa Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) berhasil menembus final Anugerah Abdidaya Ormawa 2026 melalui inovasi pengolahan limbah pertanian dan pengembangan desa wisata berbasis teknologi digital. Salah satu inovasi mereka mampu memangkas waktu pengomposan dari tiga bulan menjadi hanya 14–21 hari.

Kedua tim tersebut adalah Himpunan Mahasiswa Program Studi Teknologi Pangan (Himatekpa) dan Lembaga Semi Otonom Himpunan Observasi Iptek Mahasiswa (LSO Hipotesa).

Keduanya akan berkompetisi dalam ajang nasional yang diselenggarakan Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemendiktisaintek) di Universitas Muslim Indonesia (UMI), Makassar, pada 21–25 Oktober 2026.

Kepala Bagian Minat Bakat Kemahasiswaan UMM, Ir. Ary Bakhtiar, SP, M.Si, IPM, ASEAN Eng, mengatakan keberhasilan tersebut menjadi salah satu capaian penting menjelang milad UMM.

Menurut dia, persaingan menuju tahap final cukup ketat karena hanya sekitar 60 perguruan tinggi negeri dan swasta dari seluruh Indonesia yang berhasil lolos.

“Pencapaian ormawa ini adalah wujud nyata dan salah satu bentuk implementasi komitmen UMM sebagai Kampus Inovasi Mandiri dan Berdampak,” ujarnya.

Ary menjelaskan, UMM mendukung pengembangan program mahasiswa melalui pendanaan, subsidi keberangkatan, biaya publikasi jurnal, pengurusan paten alat, hingga pendampingan monitoring dan evaluasi di lapangan.

Dukungan tersebut diharapkan tidak berhenti pada pencapaian di tingkat nasional, tetapi juga memastikan inovasi mahasiswa dapat terus dikembangkan dan memberikan manfaat bagi masyarakat.

Mesin Kompos Pangkas Waktu hingga 21 Hari

Salah satu inovasi yang dibawa mahasiswa UMM adalah mesin Pre-Kompos MultiStage karya LSO Hipotesa di Desa Tawangargo, Kabupaten Malang. Teknologi ini dikembangkan untuk menjawab persoalan limbah pertanian yang mencapai sekitar 350 kilogram per hari.

Di bawah bimbingan Ganjar Adhywirawan Sutarjo, S.Pi, MP, tim mengembangkan mesin pengolahan awal kompos yang dilengkapi sensor suhu dan kelembapan berbasis Internet of Things (IoT).

Teknologi tersebut dipadukan dengan pemanfaatan agen hayati Trichoderma untuk mendukung proses pengomposan. Hasilnya, waktu yang dibutuhkan untuk mengolah limbah menjadi kompos dapat dipangkas dari sekitar tiga bulan menjadi 14–21 hari.

Inovasi ini diharapkan membantu masyarakat mengelola limbah pertanian secara lebih efektif sekaligus mendukung penerapan pertanian sirkular.

Melalui pendekatan tersebut, limbah yang sebelumnya menjadi persoalan dapat diolah menjadi sumber daya yang bermanfaat bagi kegiatan pertanian.

Iklan SMPM 5 Surabaya 2026

Sementara itu, Himatekpa mengembangkan program Kasegher, singkatan dari Kawasan Eduwisata Sumber Segaran dan Kampung Herbal, di Desa Sukolelo, Kabupaten Pasuruan.

Di bawah bimbingan Dahlia Elianarni, S.TP, M.Sc, mahasiswa mengintegrasikan potensi alam desa dengan teknologi digital untuk mengembangkan kawasan eduwisata.

Program ini mencakup penerapan Smart BioDome berbasis IoT, pengembangan situs web pariwisata, serta sistem pembayaran digital menggunakan QRIS.

Pengembangan program tidak hanya berfokus pada fasilitas wisata. Tim Himatekpa juga membina lima produk usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) lokal agar memiliki peluang lebih besar untuk berkembang seiring dengan pengembangan kawasan eduwisata.

Melalui pendekatan tersebut, Kasegher diarahkan untuk menghubungkan potensi wisata, pemanfaatan teknologi, dan penguatan ekonomi masyarakat desa.

Keterlibatan mahasiswa dari berbagai disiplin ilmu juga menjadi bagian dari pengembangan program. Kolaborasi ini diharapkan membuat pengelolaan kawasan wisata lebih adaptif terhadap kebutuhan pengunjung sekaligus membuka peluang ekonomi bagi warga setempat.

Targetkan Inovasi Berkelanjutan

Keikutsertaan Himatekpa dan LSO Hipotesa dalam final Abdidaya Ormawa 2026 menjadi kesempatan bagi UMM untuk menunjukkan hasil pengembangan program pemberdayaan masyarakat yang dilakukan mahasiswa.

Ary berharap kedua tim tidak hanya meraih hasil maksimal dalam ajang tersebut, tetapi juga mampu menjaga keberlanjutan program setelah pendampingan berakhir.

“Mesin pengolahan kompos dan sistem eduwisata digital yang dikembangkan mahasiswa tidak berhenti sebagai proyek kompetisi. Keduanya diharapkan menjadi solusi yang terus dimanfaatkan masyarakat untuk memperkuat kemandirian desa,” ujarnya.

Bagi UMM, capaian ini sekaligus menjadi bagian dari upaya mewujudkan kampus yang tidak hanya menghasilkan prestasi akademik, tetapi juga melahirkan inovasi yang menjawab persoalan nyata di tengah masyarakat. (*)

Revisi Oleh:
  • Agus Wahyudi - 19/10/2026 17:08
SD Kreatif
Adv UMSURA

0 Tanggapan

Empty Comments

Search
Menu