Majelis Pembinaan Kader dan Sumber Daya Insani (MPKSDI) PDM Ponorogo menggelar kegiatan Curhat Bareng Kader Muhammadiyah Binaan MPKSDI bertema “Berdamai dengan Insecurity: Mengubah Aku Bisa Apa Menjadi Ini Kontribusiku” di Villa Kemuning, Tawangmangu, Sabtu–Ahad (7–8/11/2026).
Setiap kader memiliki potensi, tetapi tidak semua menyadari bagaimana mengoptimalkannya. Kegiatan ini menjadi ruang refleksi, diskusi, sekaligus pendampingan bagi kader Muhammadiyah Ponorogo, khususnya kader yang sedang menempuh pendidikan di perguruan tinggi.
Tidak sekadar berkumpul dan berbagi cerita, kegiatan ini diarahkan untuk membangun kesadaran kader tentang potensi diri, keberanian mengambil peran, serta kontribusi nyata bagi persyarikatan dan lingkungan sekitarnya.
Rangkaian kegiatan diawali dengan sidang pleno yang membahas arah masa depan dan sistem pergerakan kader. Dalam forum tersebut, para peserta diajak menyusun target selama masa perkuliahan agar proses akademik berjalan beriringan dengan aktivitas organisasi dan pengembangan kapasitas diri.
Sekretaris MPKSDI PDM Ponorogo, Abdul Rosyid, MIM, berharap kegiatan semacam ini dapat menjadi agenda rutin sebagai wahana pembinaan dan pendampingan kader.
“Harapan kami, kegiatan ini tidak berhenti sebagai pertemuan sesaat, tetapi menjadi kegiatan rutin yang mampu menjadi ruang pembinaan dan pendampingan kader. Kami ingin setiap kader berani mengambil peran sesuai dengan kemampuan masing-masing, sehingga keberadaannya benar-benar memberikan dampak,” ungkapnya.
Rosyid juga menekankan bahwa setiap kader tidak harus menunggu menjadi sosok yang hebat untuk mulai berkontribusi. Hal terpenting adalah mengenali potensi, mengambil tanggung jawab, dan melakukan sesuatu yang bermanfaat.
Arah Pergerakkan Kader Menuju Pendidikan Tinggi
Ketua panitia kegiatan Muhammad Nova Gimnastiar, menjelaskan bahwa sidang pleno menghasilkan sejumlah kesepakatan terkait sistem dan arah pergerakan kader selama menempuh pendidikan tinggi.
“Melalui sidang ini, kami menetapkan target dan arah pergerakan kader selama kuliah. Di antaranya, menargetkan IPK minimal 3,50 setiap semester, aktif di organisasi otonom (Ortom) dan organisasi mahasiswa (Ormawa), menerbitkan artikel ilmiah, serta menyelesaikan studi maksimal delapan semester,” jelasnya.
Selain target akademik dan organisasi, forum tersebut juga menyepakati pembagian tanggung jawab mentor dan pengurus organisasi di masing-masing kampus. Langkah ini diharapkan membuat proses pendampingan lebih terarah, terukur, dan berkelanjutan.
Setelah menjalani agenda diskusi yang serius, suasana kegiatan berlanjut lebih santai melalui kebersamaan dan bakar-bakar. Rangkaian kegiatan kemudian ditutup dengan outbound yang dikemas untuk memperkuat kekompakan, komunikasi, dan kerja sama antarkader.
Melalui kegiatan ini, MPKSDI PDM Ponorogo ingin menegaskan bahwa menjadi kader bukan sekadar menyandang identitas organisasi. Lebih dari itu, kader harus mampu mengenali potensi, menumbuhkan keberanian, serta menghadirkan kontribusi sesuai kapasitasnya.
Pertanyaan penting bagi seorang kader bukan lagi sekadar “Aku bisa apa?” melainkan “Apa yang bisa aku berikan dan kontribusikan?” (*)






0 Tanggapan
Empty Comments