Iklan SDM 4 Mudipat 2026

Tutup Musywil PWNA Jatim ke-13, Tamhid Masyhudi Tekankan Dakwah, Ilmu, dan Integritas Kader Perempuan

Iklan Smamda Sidoarjo 2026
Tutup Musywil PWNA Jatim ke-13, Tamhid Masyhudi Tekankan Dakwah, Ilmu, dan Integritas Kader Perempuan
Ir. Tamhid Masyhudi sedang menyampaikan pesan dalam penutupan Musywil ke-XIII PWNA Jawa Timur (Huda/PWMU.CO)
pwmu.co -

Musyawarah Wilayah (Musywil) Pimpinan Wilayah Nasyiatul Aisyiyah (PWNA) Jawa Timur ke-13 resmi ditutup di Expotorium Universitas Muhammadiyah Ponorogo (UMPO), Ahad (18/10/2026).

Dalam sambutan sekaligus penutupan, Wakil Ketua Pimpinan Wilayah Muhammadiyah (PWM) Jawa Timur, Ir. Tamhid Masyhudi, menyampaikan ucapan selamat kepada Dr. Arin Setiyowati, S.H.I., M.A., dan formatur terpilih PWNA Jawa Timur periode 2026–2030.

Tamhid menegaskan, tema Musywil PWNA Jawa Timur ke-13 relevan dengan tantangan kehidupan saat ini dan masa depan. Menurutnya, Muhammadiyah memiliki tanggung jawab untuk terus menghadirkan gerakan yang mencerahkan dunia melalui dakwah, pembaruan, ilmu pengetahuan, dan amal nyata.

“Selamat kepada Dr. Arin Setiyowati dan formatur terpilih PWNA Jawa Timur periode 2026–2030. Semoga amanah ini menjadi jalan untuk memperkuat perjuangan dan menghadirkan gerakan perempuan berkemajuan yang memberikan manfaat bagi masyarakat,” ujarnya.

Ia menjelaskan, Muhammadiyah memiliki empat fondasi gerakan yang saling menguatkan, yakni gerakan dakwah, gerakan tajdid atau pembaruan, gerakan ilmu, dan gerakan amal. Keempatnya menjadi jalan untuk memajukan bangsa, negara, bahkan memberikan kontribusi bagi dunia.

Empat Fondasi untuk Mencerahkan Dunia

Tamhid mengapresiasi semangat para peserta Musywil yang datang dari berbagai daerah, termasuk Kangean dan Banyuwangi. Jarak yang jauh tidak menyurutkan langkah mereka untuk mengikuti proses permusyawaratan dan memperkuat gerakan organisasi.

Menurutnya, semangat tersebut menjadi bagian dari kekuatan dakwah Muhammadiyah dan Aisyiyah yang terus berkembang. Gerakan dakwah tidak hanya mendapatkan apresiasi di Indonesia, tetapi juga memperoleh perhatian di berbagai negara.

Pada aspek gerakan ilmu, ia mencontohkan keberadaan sekolah Muhammadiyah di Victoria, Australia, serta inisiatif pendirian sekolah internasional oleh Pimpinan Cabang Istimewa Muhammadiyah (PCIM) Kuala Lumpur. Baginya, langkah tersebut menunjukkan bahwa pendidikan menjadi instrumen penting untuk memperluas manfaat gerakan.

Di Jawa Timur, Tamhid menyebut terdapat sekitar 1.040 sekolah Muhammadiyah dan 1.550 PAUD serta TK Aisyiyah. Angka tersebut menggambarkan luasnya ruang pengabdian Muhammadiyah dan Aisyiyah dalam membangun sumber daya manusia melalui pendidikan.

“Kenapa Muhammadiyah bisa terus bergerak? Salah satunya karena memiliki sifat ihsan, yaitu semangat memberikan yang terbaik dan menghadirkan kebaikan bagi orang lain. Gerakan amal tidak cukup hanya melakukan sesuatu, tetapi bagaimana kita memberikan manfaat yang lebih baik bagi sesama,” tuturnya.

Ia berharap gerakan perempuan berkemajuan semakin mengambil peran dalam memajukan Jawa Timur. Perjuangan tersebut perlu dijalankan dengan orientasi yang utuh, yakni membangun kehidupan yang baik di dunia sekaligus mempersiapkan kebahagiaan di akhirat.

Ibadah, Ilmu, Adil, dan Ihsan

Dalam paparannya, Tamhid mengingatkan bahwa gerakan berkemajuan perlu dimulai dari penguatan hubungan manusia dengan Allah Swt. Ibadah dan upaya mendekatkan diri kepada-Nya menjadi fondasi pembentukan jati diri seorang hamba sekaligus sumber kekuatan moral dalam menjalankan amanah.

Ia mengaitkan hal tersebut dengan pesan Al-Qur’an tentang shalat yang mencegah perbuatan keji dan mungkar. Ibadah, dengan demikian, tidak berhenti pada rutinitas, tetapi harus tercermin dalam perilaku, tanggung jawab, dan kepedulian sosial.

Fondasi berikutnya adalah penguasaan ilmu dan profesionalisme. Tamhid menekankan pentingnya penguasaan sains, teknologi, rekayasa, seni, dan matematika atau STEAM sebagai bekal untuk memahami serta mengelola tantangan kehidupan.

Iklan SMPM 5 Surabaya 2026

Menurutnya, semangat keberagamaan harus berjalan seiring dengan kecakapan intelektual. Kader yang memiliki ilmu memadai dan bekerja secara profesional akan lebih siap memberikan kontribusi nyata bagi masyarakat.

Selain itu, ia menyoroti pentingnya menegakkan keadilan dan ihsan. Keduanya menjadi prinsip yang harus hadir dalam kepemimpinan maupun kehidupan bermasyarakat.

“Kalau kita ingin masyarakat makmur, pemimpin dan rakyat harus mampu menghadirkan keadilan dan ihsan. Keadilan memastikan hak-hak ditunaikan, sedangkan ihsan mendorong kita untuk memberikan kebaikan yang lebih luas,” tegasnya.

Tamhid juga mengingatkan bahwa ujian dan cobaan merupakan bagian dari perjalanan perjuangan. Kesulitan tidak semestinya membuat kader berhenti, tetapi perlu dihadapi sebagai proses pembelajaran untuk melakukan perbaikan dan melangkah menuju keberhasilan.

Ia menambahkan, setiap amanah akan dimintai pertanggungjawaban. Kesadaran tersebut menjadi pengingat agar setiap kader menjalankan tugas dengan jujur, sungguh-sungguh, dan berorientasi pada kemaslahatan.

Kader Perempuan Harus Berintegritas dan Terus Bergerak

Mengakhiri sambutannya, Tamhid mengajak kader Nasyiatul Aisyiyah untuk terus memperkuat komitmen terhadap perjuangan, pengembangan ilmu, dan dakwah amar makruf nahi mungkar.

Ia menekankan bahwa kader perempuan berkemajuan bukan hanya dituntut aktif dalam organisasi, tetapi juga harus mampu melahirkan kader-kader baru yang berintegritas, berilmu, dan siap melanjutkan estafet perjuangan.

“Tugas Yunda sekalian sebagai kader Nasyiatul Aisyiyah adalah menegakkan keadilan dan ihsan, memperkuat dakwah, serta melahirkan kader-kader yang berintegritas. Dengan semangat itu, Muhammadiyah akan terus bersinar dan menyinari bumi ini,” pesannya.

Ia juga mendorong formatur terpilih segera menyusun kepengurusan dan melakukan konsolidasi organisasi. Setelah kepengurusan wilayah terbentuk, gerakan perlu dilanjutkan melalui penguatan struktur di tingkat daerah, cabang, hingga ranting.

Konsolidasi tersebut penting agar hasil Musywil tidak berhenti pada pergantian kepemimpinan dan rumusan program, tetapi benar-benar diwujudkan dalam kerja nyata yang dirasakan masyarakat.

Penutupan Musywil PWNA Jawa Timur ke-13 menjadi penanda berakhirnya rangkaian permusyawaratan sekaligus dimulainya amanah baru bagi kepemimpinan periode 2026–2030. Tantangan berikutnya adalah menerjemahkan semangat perempuan berkemajuan menjadi gerakan yang terorganisasi, berkelanjutan, dan membawa manfaat bagi umat, bangsa, serta kemanusiaan. (*)

Revisi Oleh:
  • Tanwirul Huda - 18/10/2026 13:27
SD Kreatif
Adv UMSURA

0 Tanggapan

Empty Comments

Search
Menu