Kehidupan dunia menyimpan beragam kenikmatan yang dapat membuat manusia terlena. Harta, anak, jabatan, dan berbagai kesenangan lainnya merupakan anugerah Allah Subhanahu wa Ta’ala. Namun, semua itu dapat menjadi ujian apabila membuat manusia lalai dari mengingat Allah dan melupakan kehidupan akhirat.
Seorang mukmin yang cerdas akan mampu memilah dan memilih perkara yang bermanfaat bagi kehidupan dunia sekaligus menjadi bekal di akhirat. Ia tidak menjadikan kenikmatan dunia sebagai tujuan utama, tetapi memanfaatkannya untuk beribadah dan menebarkan kebaikan.
Sebab, ketika manusia menjauh dari petunjuk Allah, ia berisiko tersesat dalam mengarungi samudra kehidupan. Karena itu, memahami hakikat dunia menjadi bagian penting agar seorang Muslim tidak mudah terpedaya oleh gemerlapnya kehidupan.
Dunia Hanyalah Permainan dan Senda Gurau
Al-Qur’an telah menjelaskan hakikat kehidupan dunia agar manusia tidak tertipu oleh kesenangan yang bersifat sementara. Allah Ta’ala berfirman dalam Surah Al-An’am ayat 32:
وَمَا الْحَيَاةُ الدُّنْيَا إِلَّا لَعِبٌ وَلَهْوٌ ۖ وَلَلدَّارُ الْآخِرَةُ خَيْرٌ لِلَّذِينَ يَتَّقُونَ ۗ أَفَلَا تَعْقِلُونَ
“Dan kehidupan dunia ini hanyalah permainan dan senda gurau. Sedangkan negeri akhirat itu, sungguh lebih baik bagi orang-orang yang bertakwa. Tidakkah kamu mengerti?” (QS. Al-An’am: 32).
Ayat ini mengingatkan bahwa kehidupan dunia bersifat sementara, sedangkan kehidupan akhirat merupakan kehidupan yang kekal. Kesenangan dunia yang dikejar tanpa rasa syukur dan ketaatan kepada Allah dapat membuat manusia mengalami kerugian.
Dalam Tafsir Al-Muyassar dijelaskan bahwa kehidupan dunia bagi orang yang beramal hanya untuk mengejarnya dan melupakan akhirat merupakan kesenangan yang memperdaya. Sementara itu, di akhirat terdapat azab bagi orang-orang kafir serta ampunan dan keridaan Allah bagi orang-orang beriman.
Pesan tersebut bukan berarti seorang Muslim harus meninggalkan urusan dunia. Sebaliknya, dunia perlu dijalani dengan penuh tanggung jawab, disertai kesadaran bahwa setiap aktivitas harus diarahkan pada kebaikan dan tidak melalaikan kewajiban kepada Allah.
Harta dan Anak, Perhiasan Sekaligus Ujian
Harta dan anak merupakan bagian dari anugerah Allah yang menghiasi kehidupan manusia. Orang tua tentu menyayangi anak-anaknya dan berusaha memenuhi kebutuhan keluarga. Namun, kecintaan tersebut harus tetap berada dalam batas yang dibenarkan agama.
Allah Ta’ala berfirman:
الْمَالُ وَالْبَنُونَ زِينَةُ الْحَيَاةِ الدُّنْيَا ۖ وَالْبَاقِيَاتُ الصَّالِحَاتُ خَيْرٌ عِنْدَ رَبِّكَ ثَوَابًا وَخَيْرٌ أَمَلًا
“Harta dan anak-anak adalah perhiasan kehidupan dunia, tetapi amal kebajikan yang terus-menerus adalah lebih baik pahalanya di sisi Tuhanmu serta lebih baik untuk menjadi harapan.” (QS. Al-Kahfi: 46).
Ayat tersebut menegaskan bahwa harta dan anak merupakan perhiasan dunia, sedangkan amal saleh memiliki nilai yang lebih baik sebagai bekal di sisi Allah.
Karena itu, kekayaan tidak semestinya membuat seseorang sombong, dan kecintaan kepada anak tidak boleh menjadikan orang tua mengabaikan kewajiban agama. Harta hendaknya dimanfaatkan untuk kebaikan, sementara anak perlu dididik agar tumbuh menjadi pribadi yang beriman, berilmu, dan berakhlak mulia.
Allah juga mengingatkan bahwa harta dan anak dapat menjadi ujian. Dalam Surah At-Taghabun ayat 15, Allah Ta’ala berfirman:
إِنَّمَا أَمْوَالُكُمْ وَأَوْلَادُكُمْ فِتْنَةٌ ۚ وَاللَّهُ عِنْدَهُ أَجْرٌ عَظِيمٌ
“Sesungguhnya hartamu dan anak-anakmu hanyalah cobaan (bagimu), dan di sisi Allah pahala yang besar.” (QS. At-Taghabun: 15).
Ayat ini mengajarkan pentingnya menjaga amanah. Keberhasilan orang tua bukan semata-mata diukur dari banyaknya harta yang dimiliki atau tingginya pencapaian anak, melainkan juga dari kesungguhan mendidik keluarga agar taat kepada Allah.
Dengan demikian, harta dan anak dapat menjadi jalan memperoleh pahala apabila dikelola dan dibimbing sesuai tuntunan agama.
Jangan Menjadikan Dunia sebagai Tujuan Akhir
Seorang Muslim perlu meluruskan niat dalam setiap aktivitas. Bekerja, belajar, mencari nafkah, membangun usaha, dan mendidik anak dapat bernilai ibadah apabila dilakukan dengan niat yang benar serta melalui cara yang dibenarkan syariat.
Sebaliknya, apabila kehidupan dunia dan perhiasannya menjadi satu-satunya tujuan, manusia berisiko melupakan tanggung jawab akhirat.
Allah Ta’ala berfirman:
مَنْ كَانَ يُرِيدُ الْحَيَاةَ الدُّنْيَا وَزِينَتَهَا نُوَفِّ إِلَيْهِمْ أَعْمَالَهُمْ فِيهَا وَهُمْ فِيهَا لَا يُبْخَسُونَ أُولَٰئِكَ الَّذِينَ لَيْسَ لَهُمْ فِي الْآخِرَةِ إِلَّا النَّارُ وَحَبِطَ مَا صَنَعُوا فِيهَا وَبَاطِلٌ مَا كَانُوا يَعْمَلُونَ
“Barang siapa menghendaki kehidupan dunia dan perhiasannya, pasti Kami berikan kepada mereka balasan pekerjaan mereka di dunia dengan sempurna dan mereka di dunia tidak akan dirugikan. Itulah orang-orang yang tidak memperoleh sesuatu di akhirat kecuali neraka, dan sia-sialah di sana apa yang telah mereka usahakan di dunia dan terhapuslah apa yang telah mereka kerjakan.” (QS. Hud: 15–16).
Ayat ini menjadi peringatan agar manusia tidak berhenti pada pencapaian duniawi. Kesuksesan, kekayaan, dan kedudukan semestinya menjadi sarana untuk mendekatkan diri kepada Allah, bukan alasan untuk melupakan-Nya.
Karena itu, penting bagi setiap Muslim untuk senantiasa mengevaluasi niat dan amalnya. Apakah kesibukan yang dijalani semakin mendekatkan diri kepada Allah atau justru membuatnya semakin jauh dari petunjuk-Nya?
Zuhud agar Dicintai Allah dan Manusia
Salah satu sikap yang perlu ditanamkan dalam menghadapi godaan dunia adalah zuhud. Zuhud bukan berarti meninggalkan pekerjaan, menolak kekayaan, atau menjauhi kehidupan bermasyarakat. Zuhud berarti tidak menjadikan dunia sebagai tujuan utama dan tidak membiarkan kecintaan kepadanya menguasai hati.
Dari Sahl bin Sa’ad As-Sa’idi radhiyallahu ‘anhu, diriwayatkan bahwa seorang laki-laki datang kepada Rasulullah ﷺ dan berkata, “Wahai Rasulullah, tunjukkanlah kepadaku suatu amalan yang apabila aku melakukannya, Allah akan mencintaiku dan manusia pun akan mencintaiku.”
Rasulullah ﷺ bersabda:
ازْهَدْ فِي الدُّنْيَا يُحِبَّكَ اللَّهُ، وَازْهَدْ فِيمَا عِنْدَ النَّاسِ يُحِبَّكَ النَّاسُ
“Zuhudlah terhadap dunia, niscaya Allah mencintaimu. Zuhudlah terhadap apa yang dimiliki manusia, niscaya manusia mencintaimu.”(HR. Ibnu Majah, no. 4102).
Hadis tersebut mengajarkan bahwa kecintaan kepada Allah dan hubungan baik dengan sesama dapat tumbuh ketika seseorang tidak diperbudak oleh kepentingan duniawi dan tidak tamak terhadap apa yang dimiliki orang lain.
Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah menjelaskan bahwa zuhud berkaitan dengan meninggalkan perkara yang tidak bermanfaat bagi kehidupan akhirat. Adapun wara’ adalah sikap berhati-hati dengan meninggalkan perkara yang dikhawatirkan mendatangkan mudarat bagi kehidupan akhirat.
Dengan sikap zuhud dan wara’, seorang Muslim diharapkan mampu menjaga hati, mengendalikan keinginan, serta membedakan antara kebutuhan dan keserakahan.
Menjadikan Dunia sebagai Bekal Akhirat
Pada hakikatnya, dunia merupakan tempat manusia beramal dan mempersiapkan bekal untuk kehidupan akhirat. Selama diberi kesempatan hidup, seorang Muslim hendaknya menggunakan waktunya untuk memperbanyak amal saleh, memperbaiki diri, dan memberikan manfaat kepada sesama.
Harta yang dimiliki dapat menjadi sarana bersedekah. Ilmu yang diperoleh dapat digunakan untuk membimbing orang lain. Jabatan dapat menjadi jalan untuk menegakkan keadilan, sedangkan keluarga dapat menjadi ladang pendidikan dan pembentukan akhlak.
Semua itu membutuhkan niat yang lurus, usaha yang sungguh-sungguh, dan kesediaan untuk terus mengevaluasi diri.
Jangan sampai kesibukan mengejar dunia membuat kita melupakan salat, mengabaikan keluarga, meremehkan hak orang lain, atau kehilangan kepedulian terhadap sesama. Sebab, kenikmatan dunia sebesar apa pun tidak akan menggantikan nilai keimanan dan amal saleh yang menjadi bekal menghadap Allah.
Semoga Allah Subhanahu wa Ta’ala membimbing kita agar mampu memanfaatkan usia untuk menabur amal saleh, menjaga amanah, dan memberikan manfaat kepada sesama. Semoga kita tidak mudah tertipu oleh gemerlap dunia, tetapi mampu menjadikannya sebagai jalan menuju rida Allah dan kebahagiaan akhirat. (*)





0 Tanggapan
Empty Comments