Iklan SDM 4 Mudipat 2026

Ketua PCNU Isi Pengajian Muhammadiyah Bondowoso, Serukan Kolaborasi Merawat Indonesia

Iklan Smamda Sidoarjo 2026
Ketua PCNU Isi Pengajian Muhammadiyah Bondowoso, Serukan Kolaborasi Merawat Indonesia
Ketua PCNU Isi Pengajian Muhammadiyah Bondowoso, Serukan Kolaborasi Merawat Indonesia. (Arif Efendi/PWMU.CO)

Perbedaan bukan alasan untuk menjauh, melainkan kesempatan untuk memperkuat persaudaraan. Pesan tersebut mengemuka dalam Pengajian Ahad Pagi Pimpinan Daerah Muhammadiyah (PDM) Bondowoso yang menghadirkan Ketua Tanfidziyah PCNU Bondowoso, Dr. KH. Moh. Syaeful Bahar, sebagai pemateri, Ahad (18/10/2026).

Kehadiran tokoh Nahdlatul Ulama (NU) di forum pengajian Muhammadiyah ini menjadi momentum untuk memperkuat ukhuwah Islamiyah sekaligus meneguhkan komitmen bersama dalam menjaga keutuhan bangsa.

Pengajian mengangkat tema “Tanggung Jawab Muhammadiyah dan NU dalam Merawat Indonesia dan Menjaga Islam dari Ancaman Radikalisme dan Sekularisme”. Kegiatan ini diikuti warga dan simpatisan Muhammadiyah, guru dan karyawan Amal Usaha Muhammadiyah (AUM), serta masyarakat umum.

Dalam pemaparannya, KH. Moh. Syaeful Bahar menegaskan bahwa Muhammadiyah dan NU memiliki tanggung jawab besar dalam membimbing umat, mengembangkan dakwah, serta menjaga keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).

Kedua organisasi Islam tersebut memiliki sejarah panjang dalam bidang pendidikan, dakwah, pelayanan sosial, dan pembentukan karakter masyarakat. Potensi besar itu, menurutnya, perlu diarahkan untuk memperkuat persatuan, bukan justru dihabiskan untuk mempertajam perbedaan.

Berbeda dalam Ibadah, Bersatu dalam Pengabdian

KH. Moh. Syaeful Bahar mengingatkan agar umat Islam tidak terjebak dalam persaingan memperebutkan jamaah atau memperbesar perbedaan praktik ibadah, termasuk persoalan qunut dan tidak qunut.

Perbedaan dalam persoalan keagamaan, menurutnya, tidak semestinya menjadi penghalang untuk membangun kerja sama. Umat Islam perlu melihat persoalan yang lebih besar, yakni bagaimana bersama-sama menjawab tantangan zaman dan memberikan manfaat bagi masyarakat.

“Jika tidak mau berkolaborasi, tinggal menunggu kehancurannya,” tegasnya.

Pernyataan tersebut menjadi pengingat bahwa persaingan internal yang tidak produktif dapat melemahkan kekuatan umat. Sebaliknya, kolaborasi antara Muhammadiyah dan NU dapat menjadi modal penting untuk memperkuat pendidikan, dakwah, pelayanan sosial, dan kehidupan kebangsaan.

Ia menekankan bahwa persaudaraan tidak harus dibangun dengan menyeragamkan seluruh pandangan. Perbedaan tetap dapat dihormati selama setiap pihak mengedepankan sikap saling menghargai dan berorientasi pada kemaslahatan bersama.

Dakwah Digital Harus Berlandaskan Ilmu

Selain pentingnya kolaborasi, KH. Moh. Syaeful Bahar menyoroti perubahan perilaku masyarakat dalam memperoleh pengetahuan agama di era digital.

Media sosial kini menjadi salah satu sumber rujukan keagamaan bagi masyarakat, termasuk generasi muda. Namun, popularitas sebuah konten tidak selalu menjamin kedalaman ilmu maupun ketepatan pemahaman yang disampaikan.

Konten keagamaan yang menyederhanakan persoalan Islam menjadi sekadar persoalan halal dan haram, misalnya, berisiko mengabaikan keluasan khazanah keilmuan Islam serta pentingnya kebijaksanaan dalam berdakwah.

Karena itu, ia mendorong Muhammadiyah dan NU untuk memperkuat dakwah digital dengan melibatkan dai-dai muda yang kreatif, komunikatif, dan mampu menjangkau generasi masa kini.

Iklan SMPM 5 Surabaya 2026

Kreativitas tersebut, lanjutnya, harus berjalan beriringan dengan tanggung jawab keilmuan. Materi dakwah perlu berlandaskan sumber yang dapat dipertanggungjawabkan serta melibatkan bimbingan ulama yang memiliki kompetensi keilmuan.

Dengan demikian, ruang digital tidak hanya dipenuhi konten yang menarik perhatian, tetapi juga menghadirkan pesan Islam yang mencerahkan, menyejukkan, dan mendorong kehidupan umat yang lebih baik.

Muhammadiyah dan NU, Pilar Persatuan Bangsa

Dalam konteks kebangsaan, KH. Moh. Syaeful Bahar menilai sinergi Muhammadiyah dan NU penting untuk menghadapi berbagai tantangan yang berpotensi memecah belah umat.

Konflik berkepanjangan di Timur Tengah, misalnya, menjadi pengingat tentang pentingnya mengelola perbedaan secara bijaksana dan tidak mudah terprovokasi oleh narasi yang mempertajam pertentangan.

Di Indonesia, Muhammadiyah dan NU memiliki peran strategis dalam menjaga kehidupan beragama agar tetap sejalan dengan semangat kebangsaan. Pendidikan, dakwah yang menyejukkan, serta pencerdasan masyarakat perlu menjadi agenda bersama.

Kolaborasi kedua organisasi juga dapat memperluas manfaat program sosial dan pendidikan, sekaligus memperkuat ketahanan masyarakat dalam menghadapi arus informasi yang berpotensi memicu perpecahan.

Melalui kerja sama yang berkelanjutan, umat Islam diharapkan semakin matang dalam menjalankan ajaran agama sekaligus memiliki kepedulian kuat terhadap persatuan dan masa depan bangsa.

 Merawat Persaudaraan Tanpa Menyeragamkan Perbedaan

Pengajian Ahad Pagi PDM Bondowoso ini menjadi momentum untuk menegaskan bahwa persaudaraan tidak harus menunggu keseragaman. Justru ketika perbedaan diakui dan dihormati, ruang kolaborasi dapat tumbuh lebih luas.

Kehadiran Ketua PCNU Bondowoso di forum pengajian Muhammadiyah menunjukkan pentingnya membuka ruang dialog dan memperkuat hubungan antarelemen umat Islam.

Muhammadiyah dan NU dapat berbeda dalam sejumlah praktik keagamaan, tetapi keduanya memiliki tanggung jawab bersama untuk merawat Islam, menjaga Indonesia, dan membangun masa depan umat.

Pesan yang mengemuka dalam pengajian tersebut sederhana, tetapi mendasar: perbedaan tidak seharusnya menjadi alasan untuk saling menjauh. Sebaliknya, perbedaan perlu dikelola dengan kedewasaan agar menjadi kekuatan dalam menghadapi persoalan umat dan bangsa. (*)

Revisi Oleh:
  • Nadjib Hamid - 18/10/2026 10:18
SD Kreatif
Adv UMSURA

0 Tanggapan

Empty Comments

Search
Menu