Iklan SDM 4 Mudipat 2026

Arin Setyowati, Anak Buruh yang Kini Memimpin Nasyiatul Aisyiyah Jawa Timur

Iklan Smamda Sidoarjo 2026
Arin Setyowati, Anak Buruh yang Kini Memimpin Nasyiatul Aisyiyah Jawa Timur
Dr. Arin Setiyowati. Foto: Umsura
Oleh : Tanwirul Huda

Uang di tangannya saat itu hanya cukup untuk membayar angkutan umum. Namun, Arin Setyowati tetap berangkat mendaftar sekolah menengah kejuruan (SMK). Ia tidak ingin keadaan ekonomi keluarganya memupus harapan untuk melanjutkan pendidikan.

Keputusan itu menjadi salah satu bagian penting dalam perjalanan hidupnya. Anak pasangan buruh serabutan dan pedagang kecil asal Kapas, Bojonegoro, tersebut kini menjadi dosen Universitas Muhammadiyah Surabaya (Umsura).

Pada 2026, Arin dipercaya memimpin Pimpinan Wilayah Nasyiatul Aisyiyah (PWNA) Jawa Timur periode 2026–2030. Ini menyusul hasil Musyawarah Wilayah (Musywil) XIII yang berlangsung di Universitas Muhammadiyah Ponorogo (Umpo), Jumat-Ahad (16-18/10/2026).

Arin bukan lahir dari keluarga yang memiliki banyak pilihan. Ayahnya, Kartiono, bekerja serabutan sebagai sopir truk besar, sopir truk kecil, sekaligus tukang becak. Ibunya, Ninik Isnaini, berjualan kerupuk dan rujak di pasar. Sesekali, sang ibu berkeliling untuk menambah penghasilan keluarga.

Di antara tiga bersaudara, Arin merupakan satu-satunya anak perempuan.

Dalam keadaan ekonomi yang terbatas, biaya sekolah menjadi persoalan tersendiri. Bahkan, ketika hendak masuk SMK, ia sempat menghadapi kenyataan bahwa keluarganya tidak memiliki cukup uang untuk membayar biaya pendaftaran.

Namun, Arin tidak ingin berhenti sebelum mencoba.

“Waktu itu, saat saya mendaftar di SMK saya tidak ada uang sama sekali, hanya ada uang untuk bayar angkot, tapi saya tetap yakin datang dan daftar saja,” kenangnya dalam wawancara yang dimuat di laman resmi Umsura pada 13 Mei 2022.

Seorang kawan kemudian membantunya mendaftar. Sementara itu, prestasinya di sekolah turut membuka jalan. Sejak sekolah dasar hingga SMK, Arin dikenal rajin belajar dan kerap menjadi juara kelas. Beasiswa yang diperolehnya membantu meringankan biaya pendidikan.

Pengalaman itu memperlihatkan satu hal: keterbatasan ekonomi memang bisa mempersempit pilihan, tetapi tidak selalu menutup seluruh jalan.

***

Setelah lulus SMK, Arin ingin melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi. Ia sempat mendaftar ke Universitas Gadjah Mada (UGM) dan Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS). Namun, rencana tersebut belum terwujud. Pada tahun yang sama, ayahnya meninggal dunia.

Kepergian sang ayah membuat keadaan keluarga semakin berat. Keinginan melanjutkan pendidikan tinggi pun sempat meredup.

Kesempatan kemudian datang dari Pimpinan Daerah Aisyiyah Bojonegoro. Arin mendapat tawaran kuliah di Universitas Muhammadiyah Surabaya melalui beasiswa kader. Ia memilih program studi Hukum Keluarga Islam.

Beasiswa tersebut membebaskan biaya kuliah. Akan tetapi, biaya hidup di Surabaya tetap harus dipenuhi. Arin pun mencari pekerjaan agar bisa membayar kos dan memenuhi kebutuhan sehari-hari.

Pagi hingga sore, ia bekerja di tempat penyewaan jasa pengetikan. Setelah itu, ia mengikuti perkuliahan. Malam hari sering diisi dengan kegiatan Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM).

“Waktu itu pagi saya kerja di rental sampai sore. Kemudian sorenya kuliah, malam lebih sering aktivitas organisasi Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM),” tuturnya.

Pada tahun kedua kuliah, ia bekerja sebagai tenaga administrasi di SD Muhammadiyah 24 Surabaya sekaligus mengajar komputer.

Pekerjaan, kuliah, dan organisasi berjalan beriringan. Arin harus membagi waktu untuk semuanya. Tidak ada kemewahan untuk hanya berfokus pada satu urusan.

Setelah menyelesaikan pendidikan sarjana, ia bekerja sebagai tenaga administrasi majalah Matan sembari mempersiapkan studi lanjut. Pengalaman bekerja itu menjadi bagian dari perjalanan sebelum akhirnya menapaki dunia akademik.

***

Arin kemudian memperoleh beasiswa calon dosen untuk melanjutkan pendidikan magister di UGM. Ia mendalami Ilmu Agama dan Lintas Budaya dengan fokus Ekonomi Islam.

Tantangan ekonomi belum sepenuhnya berakhir. Keterlambatan pencairan beasiswa membuatnya harus cermat mengatur kebutuhan hidup. Namun, ia terus melanjutkan studi. Beasiswa yang diperolehnya bahkan turut membantu membiayai pendidikan adiknya.

Setelah merampungkan pendidikan magister, Arin kembali ke Universitas Muhammadiyah Surabaya sebagai dosen.

Dunia yang dahulu harus ia perjuangkan dengan bekerja sambil kuliah kini menjadi ruang pengabdian profesionalnya. Ia mengajar, meneliti, dan mendampingi masyarakat melalui berbagai program pemberdayaan.

Bidang keilmuannya meliputi ekonomi Islam, keuangan sosial Islam, ekonomi mikro Islam, serta sejarah pemikiran ekonomi Islam. Bidang-bidang tersebut tercatat dalam Direktori Kepakaran Umsura.

Arin juga mengembangkan kiprahnya melalui penelitian dan pengabdian kepada masyarakat. Pada 2021, ia terpilih sebagai dosen pendamping terbaik dalam program hibah Program Holistik Pembinaan dan Pemberdayaan Desa (PHP2D) pada ajang Abdidaya Kemendikbud. Ia juga tercatat sebagai penerima MOFA Research Fellowship Taiwan.

Iklan SMPM 5 Surabaya 2026

Capaian tersebut menjadi bagian dari perjalanan akademiknya. Namun, perhatian Arin tidak berhenti pada pengembangan keilmuan di lingkungan kampus.

***

Salah satu kiprah Arin yang menonjol ialah keterlibatannya dalam penelitian dan pendampingan kelompok masyarakat rentan.

Pada 2022, Muhammadiyah.or.id memberitakan penelitiannya mengenai pemberdayaan ekonomi perempuan pekerja seks komersial di kawasan Krembangan, Dupak Bangunsari, dan Tambak Asri, Surabaya. Penelitian itu menghubungkan persoalan ekonomi dengan pendekatan dakwah, kesehatan, dan pendampingan sosial.

Bagi kelompok yang menghadapi kerentanan, persoalan kehidupan tidak cukup diselesaikan dengan nasihat keagamaan. Mereka juga membutuhkan dukungan kesehatan dan peluang memperoleh penghasilan alternatif.

Dalam program pendampingan tersebut, bantuan alat produksi, termasuk mesin cuci, menjadi salah satu upaya untuk membuka peluang ekonomi bagi perempuan yang didampingi.

Riset itu kemudian menjadi bagian dari buku Jalan Sunyi Dakwah Muhammadiyah: Pemberdayaan Mantan PSK oleh Muhammadiyah Surabaya, yang diterbitkan Umsurabaya Press pada 2019.

Kiprah tersebut memperlihatkan pertemuan antara tiga ruang yang selama ini menjadi bagian dari perjalanan Arin: dunia akademik, gerakan dakwah, dan pemberdayaan masyarakat.

Ia tidak hanya mengkaji persoalan sebagai bahan penelitian, tetapi juga terlibat dalam upaya mencari jalan keluar bagi kelompok yang membutuhkan dukungan. Pengalaman itu menjadi salah satu bagian penting dari profilnya sebagai akademisi yang menaruh perhatian pada persoalan sosial dan ekonomi masyarakat.

Selain mengajar dan meneliti, Arin terlibat dalam pengembangan Al Islam dan Kemuhammadiyahan di lingkungan perguruan tinggi.

Pada Juli 2024, Suara Muhammadiyah mengutip pandangannya mengenai pentingnya Baitul Arqam bagi dosen Universitas Muhammadiyah Surabaya. Ketika itu, ia menjabat Kepala Lembaga Pengkajian Al Islam dan Kemuhammadiyahan (LPAIK) Umsura.

Arin menekankan pentingnya perkaderan yang dirancang secara sistematis dan menjadi bagian dari budaya organisasi, bukan sekadar kegiatan sesaat.

Perhatian terhadap perkaderan tersebut relevan dengan amanah yang kini diembannya. Sebagai Ketua PWNA Jawa Timur periode 2026–2030, ia akan memimpin organisasi otonom Muhammadiyah yang menghimpun perempuan muda.

Kepemimpinan di tingkat wilayah tidak hanya membutuhkan kemampuan mengelola organisasi. Ada pula pekerjaan menyiapkan kader, memperluas partisipasi perempuan muda, dan memastikan program organisasi menjawab kebutuhan anggotanya serta masyarakat.

Arin meraih gelar doktor dari Universitas Airlangga (Unair) pada 13 Juli 2026 dengan ujian terbuka disertasi yang mengangkat topik model transformasi pengelolaan nazhir wakaf Muhammadiyah.

Pengalaman Arin dalam bidang ekonomi Islam, penelitian sosial, dan perkaderan menjadi bagian dari rekam jejak yang menyertai kepemimpinannya. Bagaimana pengalaman itu diterjemahkan menjadi program prioritas Nasyiatul Aisyiyah Jawa Timur akan menjadi bagian penting dari perjalanan kepemimpinannya selama empat tahun ke depan.

***

Perjalanan Arin Setyowati memperlihatkan perubahan ruang pengabdian. Dahulu, ia harus berjuang agar tetap bisa bersekolah. Beasiswa, pekerjaan, dan dukungan orang-orang di sekitarnya membantunya melanjutkan pendidikan hingga menjadi dosen dan peneliti.

Kini, ia mendapat amanah memimpin organisasi perempuan muda di tingkat Jawa Timur.

Pengalaman hidupnya tidak serta-merta menjawab seluruh tantangan organisasi. Namun, perjalanan tersebut memberinya pengalaman langsung tentang arti kesempatan, pendidikan, kemandirian ekonomi, dan dukungan sosial.

Ia pernah menjalani pagi untuk bekerja, sore untuk kuliah, dan malam untuk berorganisasi. Ia juga pernah menghadapi kehilangan ayah ketika sedang merintis jalan menuju perguruan tinggi.

Pengalaman-pengalaman itu menjadi bagian dari perjalanan panjang yang membawanya sampai pada posisi sekarang.

Amanah sebagai Ketua PWNA Jawa Timur periode 2026–2030 membuka babak baru. Tantangannya bukan lagi semata-mata memperjuangkan kesempatan bagi dirinya sendiri, melainkan ikut membangun ruang bagi perempuan muda untuk belajar, bertumbuh, berorganisasi, dan berdaya.

Dari seorang anak buruh serabutan yang pernah mendaftar sekolah dengan uang sebatas ongkos angkutan, Arin kini berada di posisi yang memberinya kesempatan untuk mengambil peran lebih luas dalam gerakan perempuan muda Muhammadiyah.

Perjalanannya belum selesai. Justru, kepemimpinan ini menjadi babak baru untuk menerjemahkan pengalaman dan pengetahuan menjadi kerja organisasi yang manfaatnya dapat dirasakan kader dan masyarakat. (*)

Revisi Oleh:
  • Agus Wahyudi - 18/10/2026 14:28
SD Kreatif
Adv UMSURA

0 Tanggapan

Empty Comments

Search
Menu