Ada pengalaman yang membuat seseorang pulang dari sebuah kegiatan bukan hanya membawa dokumentasi, tetapi juga membawa pertanyaan baru tentang apa yang selama ini dikerjakan. Perayaan Pekan Tuli Internasional (PTI) 2026 Kabupaten Banyuwangi menjadi salah satu pengalaman tersebut.
Digelar pada Minggu, 27 September 2026, di Kantor Kecamatan Banyuwangi, kegiatan ini mempertemukan lebih dari 200 peserta dari berbagai daerah. Mereka datang dari Banyuwangi, Madura, Pasuruan, Yogyakarta, Bali, Situbondo, Jember, dan sejumlah wilayah lainnya.
Rangkaian kegiatannya cukup beragam. Dimulai sejak pukul 06.00 WIB dengan senam pagi dan jalan sehat, dilanjutkan pemeriksaan kesehatan gratis, workshop, pertunjukan seni, bazar UMKM teman Tuli, doorprize, pelatihan bahasa isyarat, hingga kegiatan mengaji dengan isyarat bersama Rumah Quran Sahabat Tuli.
Namun, ada satu hal yang terasa lebih penting daripada sekadar rangkaian acara tersebut: teman Tuli bukan hanya hadir sebagai peserta. Mereka berada di balik penyelenggaraan kegiatan sebagai penggerak dan pengelola.
Panitia berjumlah 29 orang. Sebanyak 26 orang merupakan teman Tuli dan tiga orang teman dengar sekaligus Juru Bahasa Isyarat, yaitu Alfian, Nabila, dan Salsa. Persiapan dilakukan selama kurang lebih dua bulan.
Bagi banyak orang, komposisi tersebut mungkin hanya terlihat sebagai data kepanitiaan. Tetapi jika dilihat dari perspektif gerakan sosial, ada pesan yang lebih besar di dalamnya.
Kelompok yang selama ini sering menjadi sasaran pelayanan ternyata mampu menjadi pelaku utama yang mengorganisasi sebuah kegiatan.
Di sinilah makna inklusif menjadi penting.
Menjadi inklusif tidak cukup hanya dengan membuka pintu agar semua orang boleh hadir. Menjadi inklusif berarti memastikan bahwa setiap orang memiliki kesempatan untuk mengambil peran, menyampaikan gagasan, mengelola kegiatan, dan menentukan arah gerak bersama.
PTI Banyuwangi memperlihatkan praktik tersebut dengan sangat nyata.
Mulai dari briefing, gladi, pembagian peserta, koordinasi panitia, hingga pengelolaan informasi dilakukan secara terstruktur. Bahkan urusan administratif yang tampak sederhana pun diperhatikan. Informasi pengambilan kaus peserta disampaikan secara rinci, termasuk persyaratan identitas dan surat kuasa apabila pengambilan diwakilkan.
Di dalam grup peserta, kolom komentar bahkan sementara dinonaktifkan agar informasi penting dari panitia tidak tertutup oleh percakapan lain.
Bagi saya, hal-hal semacam ini menunjukkan bahwa kemampuan mengelola organisasi tidak ditentukan oleh apakah seseorang Tuli atau teman dengar. Ketika ruang, kepercayaan, dan sistem diberikan, setiap orang memiliki kesempatan untuk menunjukkan kapasitasnya.
Pelajaran lain datang dari hal yang sangat sederhana. Dalam briefing, panitia mengingatkan agar konsumsi diprioritaskan terlebih dahulu untuk peserta dan tamu. Panitia makan setelahnya.
Pesannya sederhana: penyelenggara hadir untuk melayani.
Namun, justru dari hal-hal sederhana seperti itulah karakter sebuah organisasi terlihat.
Pengalaman belajar mengaji dengan bahasa isyarat juga menghadirkan refleksi lain. Selama ini, banyak aktivitas keagamaan dibangun dengan asumsi bahwa komunikasi utama dilakukan melalui suara. Padahal, tidak semua orang mengakses informasi dengan cara yang sama.
Bahasa isyarat menunjukkan bahwa pesan keagamaan dapat disampaikan melalui medium yang berbeda.
Artinya, ketika cara berkomunikasi berubah, akses terhadap dakwah pun dapat diperluas.
Di titik ini, pengalaman PTI Banyuwangi menjadi relevan bagi gerakan perempuan muda seperti Nasyiatul Aisyiyah.
Nasyiatul Aisyiyah selama ini memiliki tradisi dakwah yang dekat dengan perempuan muda, keluarga, pendidikan, sosial, lingkungan, kewirausahaan, hingga berbagai isu kemasyarakatan. Namun, di tengah perubahan masyarakat yang semakin beragam, pertanyaan penting perlu diajukan:
Sudah sejauh mana model dakwah Nasyiatul Aisyiyah dapat diakses oleh perempuan muda Tuli?
Pertanyaan ini bukan untuk menyalahkan model dakwah yang selama ini berjalan. Justru sebaliknya, pertanyaan tersebut dapat menjadi pintu untuk memperluas gerakan.
Sebab jika dakwah ingin menjangkau perempuan muda, maka perempuan muda Tuli juga harus menjadi bagian dari ruang tersebut.
Mereka bukan sekadar kelompok yang perlu diberi layanan khusus. Mereka adalah perempuan muda yang memiliki potensi menjadi kader, penggerak komunitas, pengusaha, pendidik, aktivis, pemimpin, sekaligus bagian dari ekosistem dakwah Nasyiatul Aisyiyah.
Karena itu, dakwah yang inklusif perlu berani memperluas cara.
Kajian dapat mulai menyediakan Juru Bahasa Isyarat. Materi dakwah dapat dikembangkan dalam bentuk visual dan video dengan bahasa isyarat. Informasi kegiatan dapat dibuat lebih aksesibel. Media sosial organisasi dapat menghadirkan konten dengan teks dan bahasa isyarat. Pelatihan kader dapat dirancang agar perempuan muda Tuli dapat mengikuti dan mengambil peran.
Bahkan lebih jauh, Nasyiatul Aisyiyah dapat membuka ruang kaderisasi bagi perempuan muda Tuli, bukan hanya sebagai peserta kegiatan, tetapi sebagai bagian dari gerakan.
Di sinilah makna setara perlu ditempatkan secara tepat.
Setara bukan berarti semua orang harus menggunakan cara yang sama. Setara berarti setiap orang memiliki kesempatan untuk mendapatkan akses dan mengambil peran sesuai kebutuhannya.
Seorang perempuan muda Tuli mungkin membutuhkan bahasa isyarat untuk mengakses kajian. Bukan berarti ia mendapatkan keistimewaan. Ia sedang mendapatkan akses yang membuat kesempatan belajarnya setara dengan perempuan muda lainnya.
Dengan perspektif tersebut, inklusif bukan sekadar persoalan teknis. Ia menjadi bagian dari cara sebuah gerakan memandang manusia.
Hal ini sejalan dengan semangat Progressif Pimpinan Wilayah Nasyiatul Aisyiyah Jawa Timur. Progressif tidak semestinya hanya dimaknai sebagai bergerak lebih cepat atau membuat lebih banyak program. Progressif juga berarti berani memperluas ruang gerakan agar semakin banyak perempuan muda dapat terlibat dan mendapatkan manfaat dari dakwah.
Progressif berarti tidak berhenti pada cara-cara lama ketika masyarakat terus berubah.
Jika perempuan muda Tuli belum sepenuhnya terjangkau oleh dakwah Nasyiatul Aisyiyah, mungkin persoalannya bukan pada mereka yang belum datang. Bisa jadi, model dakwahnya yang perlu diperluas agar mereka dapat datang, merasa diterima, dan menemukan ruang untuk bertumbuh.
Inilah tantangan gerakan ke depan.
Nasyiatul Aisyiyah tidak cukup hanya berbicara tentang keberpihakan kepada kelompok yang beragam. Keberpihakan perlu diterjemahkan menjadi desain gerakan yang benar-benar dapat diakses.
Sebab sebuah organisasi akan semakin kuat ketika semakin banyak perempuan muda menemukan tempat di dalamnya.
PTI Banyuwangi memberikan contoh bahwa teman Tuli mampu menyelenggarakan kegiatan secara mandiri, tertib, kreatif, dan penuh energi. Maka yang perlu dibangun bukan lagi hubungan antara “yang membantu” dan “yang dibantu”, tetapi hubungan antarsubjek yang sama-sama memiliki kemampuan untuk berkontribusi.
Dalam konteks Nasyiatul Aisyiyah, perempuan muda Tuli tidak seharusnya hanya menjadi objek dakwah.
Mereka juga dapat menjadi subjek dakwah.
Mereka dapat belajar, mengajar, menjadi kader, mengorganisasi kegiatan, mengembangkan komunitas, menyampaikan gagasan, dan ikut menentukan arah gerakan.
Karena itu, memperluas model dakwah kepada perempuan muda Tuli bukan sekadar menambahkan satu program baru dalam daftar kerja organisasi. Lebih jauh, hal tersebut merupakan bagian dari upaya membangun gerakan perempuan muda yang benar-benar inklusif, progresif, dan setara.
Pada akhirnya, pengalaman di Pekan Tuli Internasional Banyuwangi meninggalkan satu refleksi penting: jangan sampai pintu organisasi sudah terbuka, tetapi cara masuknya hanya bisa dilakukan oleh sebagian orang.
Pintu yang benar-benar inklusif bukan hanya pintu yang terbuka.
Ia adalah pintu yang dapat diakses.
Dan ketika pintu itu dapat diakses, perempuan muda Tuli tidak lagi hanya datang sebagai tamu.
Mereka dapat menjadi bagian dari perjalanan.
Nasyiatul Aisyiyah perlu terus memperluas cara berdakwah, memperluas ruang kaderisasi, dan memperluas siapa yang dapat berjalan bersama. Sebab gerakan yang progresif bukan hanya gerakan yang bergerak maju, tetapi gerakan yang memastikan tidak ada perempuan muda yang tertinggal di belakang.





0 Tanggapan
Empty Comments