Iklan Mudipat Landscape
Iklan Mudipat Mobile

Dekolonisasi Sejarah Indonesia: Kritik Buya Hamka terhadap Teori Gujarat Snouck Hurgronje

Iklan Landscape Smamda
Dekolonisasi Sejarah Indonesia: Kritik Buya Hamka terhadap Teori Gujarat Snouck Hurgronje
Foto: Dok/Pri
Oleh : afif Naufal Surya Atta Guru Bahasa Inggris dan Sejarah di Averroes Digital Islamic School, Kota Malang

Penulisan sejarah Indonesia, pada kenyataannya, masih memuat pengaruh dari para tokoh orientalis. Namun, sebelum masuk ke dalam pembahasan lebih jauh, kita harus mengerti terlebih dahulu definisi orientalisme itu sendiri.

Orientalisme adalah gerakan pengkajian terhadap budaya Timur oleh para sarjana Barat yang berkembang sejak abad ke-18 M.

Dalam perkembangannya, Muhammad Salih al-Bundaq berpendapat bahwa gerakan orientalisme ditujukan kepada orang-orang Nasrani yang memiliki keinginan untuk melakukan studi terhadap agama Islam dan segala hal yang berkaitan dengan Islam.

Salah satu tokoh orientalis yang berpengaruh di Nusantara adalah Snouck Hurgronje. Snouck Hurgronje merupakan seorang orientalis yang mengkaji Islam, terutama Islam yang berkembang di Nusantara, untuk kepentingan pemerintah kolonial.

Ia juga dikenal sebagai mata-mata sekaligus penasihat politik Pemerintah Kolonial Hindia Belanda. Snouck mempelajari Islam hingga ke Mekkah dengan menggunakan nama samaran Abdul Ghaffar. Ia kemudian menjadi Adviseur voor Inlandsche en Arabische Zaken atau Penasihat Urusan Pribumi dan Arab.

Sebagai penasihat kolonial, Hurgronje memberikan sejumlah masukan kepada pemerintah kolonial untuk meredam perlawanan kaum Muslimin di Hindia Belanda.

Di antara masukan Snouck adalah penerapan sekularisasi, yakni pemisahan agama dari berbagai aspek kehidupan, terutama di ranah pendidikan.

Pendidikan sekuler sesuai standar pemerintah yang ditujukan kepada masyarakat pribumi elite bertujuan mencetak generasi muda yang tidak berjiwa Islam dan tidak membenci Belanda.

Salah satu upaya yang dianggap menopang gagasan tersebut adalah merekonstruksi penulisan sejarah awal masuknya Islam di Nusantara dengan memisahkan bangsa Arab sebagai pemeran utama penyebaran ajaran Islam dan memopulerkan Teori Gujarat.

Lebih jauh lagi, Snouck juga mengusulkan untuk membangkitkan ingatan tentang kejayaan tokoh-tokoh pra-Islam guna mengerdilkan peran tokoh-tokoh Muslim.

Teori Gujarat pada awalnya dikemukakan oleh J. Pijnapel dan kemudian dikembangkan oleh Snouck Hurgronje. Ia mulai tertarik mengembangkan teori tersebut bersamaan dengan menguatnya Islam di beberapa kota pelabuhan Anak Benua India.

Hurgronje berpendapat bahwa para pedagang dari Gujarat, Bengali, dan Malabar telah lebih dahulu melakukan transaksi dagang dengan penduduk Nusantara dibandingkan dengan pedagang Arab.

Snouck Hurgronje juga menjadikan munculnya Kerajaan Samudera Pasai pada abad ke-13 M sebagai salah satu tolok ukur penting dalam pembahasan awal masuknya Islam di Nusantara.

SMPM 5 Pucang SBY

Tentunya, teori ini tidak bisa ditelan secara mentah-mentah. Seorang ulama kharismatik Nusantara asal Minangkabau, Buya Hamka rahimahullah, meyakini bahwa Islam sudah masuk ke Nusantara bahkan sejak abad ke-7 M.

Beliau menyampaikan gagasan tersebut dalam Seminar Masuknya Islam ke Sumatera Utara pada Maret 1962 di Medan. Dalam perkembangan selanjutnya, gagasan tersebut dikenal sebagai Teori Mekkah.

Di antara bukti yang dikemukakan adalah catatan dari Dinasti Tang yang menunjukkan adanya utusan Arab di Kerajaan Kalingga pada tahun 675 M dan adanya pemukiman di pesisir Sumatera Barat pada tahun 684 M.

Sebagai tambahan, dalam Tafsir Al-Azhar Jilid 10 Juz 29, Buya Hamka berpendapat bahwa penyebutan kaafuur (كَافُورًا) dalam ayat 5 Surat al-Insan menjadi salah satu petunjuk bahwa orang Arab telah berlayar ke kepulauan Indonesia sebelum Nabi kita Muhammad saw lahir.

Bagi Hamka, kata kaafuur yang berarti kapur barus berkaitan dengan komoditas yang sejak masa lampau dikenal berasal dari wilayah kepulauan Nusantara.

Hal ini menjadi salah satu argumentasi untuk menunjukkan bahwa hubungan antara orang Arab dan kepulauan Nusantara telah berlangsung jauh sebelum masa Islam.

Maka, setelah mengetahui penjelasan Buya Hamka tentang masuknya agama Islam ke tanah air kita ini, sudah saatnya kita sebagai bangsa yang merdeka berhak memilih dan mengembangkan narasi sejarah yang tidak lagi sekadar mengekor pada pandangan kaum orientalis Barat.

Membaca kembali sejarah bukan berarti menolak seluruh hasil kajian sarjana Barat. Namun, sebagai bangsa yang merdeka, kita memiliki hak untuk menguji kembali berbagai teori tentang sejarah bangsa sendiri dengan sumber, bukti, dan perspektif yang lebih luas.

Dalam konteks inilah gagasan Buya Hamka tentang awal masuknya Islam ke Nusantara menjadi penting untuk terus dikaji.

Sejarah Islam di Indonesia tidak semestinya hanya dibaca melalui satu teori, tetapi perlu dilihat dari berbagai sumber dan sudut pandang agar kita memperoleh gambaran sejarah yang lebih utuh. (*)

Daftar Pustaka

  • Snouck Hurgronje dan Tradisi Orientalisme di Indonesia. (2023). Pusat Unggulan IPTEK Perguruan Tinggi Centre for Islamic and Occidental Studies Universitas Darussalam Gontor (PUI-PT CIOS UNIDA Gontor).
  • Abbas, I., Mahmuddin, R., & Hasnidar. (2018). Peran Snouck Hurgronje dalam Merancang Sistem Pendidikan Sekuler DI Indonesia dan Dmpaknya Bagi Kaum Pribumi Islam.
  • Nukhbatul ‘Ulum : Jurnal Bidang Kajian Islam, 4(2), 135–144.
  • DP, M. (2023, January 23). Alasan Buya Hamka Menolak Teori Gujarat dan Pilih Teori Makkah. Intisari. Fandy. (n.d.). Teori Gujarat: Proses Masuknya Islam ke Indonesia. Gramedia Blog.
  • Hamka. (n.d.). Tafsir Al-Azhar (Jilid 10).
  • Hamka. (1982). Dari Perbendaharaan Lama. Pustaka Panjimas. Hamka. (1994). Sejarah Umat Islam. Pustaka Nasional PTE LTD.
Revisi Oleh:
  • Agus Wahyudi - 10/09/2026 15:47
SD Kreatif

Baca Lainnya

Adv UMSURA

0 Tanggapan

Empty Comments

Search
Menu