Pimpinan Komisariat (PK) Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM) Kaizen menggelar Kajian September Hitam 2026 pada Rabu (30/9/2026) pukul 15.00 WIB. Kegiatan yang merupakan program kerja Bidang HPKP PK IMM Kaizen tersebut berlangsung di Lab Terpadu lantai 2.
Kegiatan diawali pembukaan oleh Moh. Faiz Haikal selaku Master of Ceremony (MC) sekaligus Sekretaris Bidang HPKP PK IMM Kaizen. Kajian kemudian dilanjutkan dengan penyampaian materi oleh Syarif Hidayat dengan Febri Dimas Ferdiansyah sebagai moderator.
Dalam kajian tersebut, Syarif membahas berbagai hal berkaitan dengan September Hitam, mulai dari pengenalan, sejarah dan sejumlah tragedi Hak Asasi Manusia (HAM), hingga persoalan keadilan dan pentingnya merawat ingatan sejarah.
Ia menekankan bahwa sejarah tidak sekadar mengingat tanggal dan peristiwa, tetapi juga memahami perjuangan orang-orang yang telah berkontribusi dalam perjalanan sejarah.
“Sangat disayangkan bagi kita kader IMM jika tidak mengingat sejarah, masa lalu,” ujarnya.
Salah satu pembahasan yang mendapat perhatian adalah kasus Munir Said Thalib, aktivis HAM yang dikenal melalui perjuangannya dalam mengadvokasi persoalan kemanusiaan. Peserta diajak memahami perjalanan perjuangan Munir serta persoalan pengungkapan kebenaran, keadilan, dan pertanggungjawaban dalam kasus tersebut.
Kajian juga membahas G30S dan konteks politik 1965, kekerasan dan pemberantasan PKI pada 1965–1966, serta persoalan impunitas dan keadilan. Materi kemudian diarahkan pada pentingnya merawat ingatan dan melawan pelupaan sebagai bagian dari pembelajaran sejarah.
Dalam perspektif gerakan mahasiswa, Syarif mengajak kader IMM memahami peran mahasiswa dalam membangun kesadaran, melakukan kajian, dan menyuarakan persoalan sosial serta kemanusiaan.
Bahas Peran Mahasiswa
Sesi tanya jawab berlangsung interaktif. Bayu, mahasiswa baru, mempertanyakan peran mahasiswa dalam menyuarakan aspirasi masyarakat kepada pemerintah. Menanggapi hal tersebut, Syarif menjelaskan bahwa mahasiswa dapat menjadi penghubung bagi masyarakat yang memiliki keterbatasan akses dalam menyampaikan persoalan kepada pemerintah, termasuk melalui aksi damai.
Pertanyaan lain membahas pandangan bahwa “sejarah ditulis oleh pemenang”, penulisan ulang sejarah, cara mahasiswa baru mengkaji persoalan bangsa, hingga fenomena buzzer pemerintah di media sosial.
Setelah diskusi, kegiatan dilanjutkan dengan penyerahan sertifikat kepada pemateri oleh Lutfi Dzaka Firdaus selaku Kepala Bidang HPKP PK IMM Kaizen. Kegiatan kemudian ditutup dengan foto bersama dan makan bersama peserta serta panitia.
Melalui Kajian September Hitam, PK IMM Kaizen berharap kader dapat memperluas pemahaman mengenai sejarah, HAM, keadilan, serta pentingnya menjaga ingatan terhadap berbagai peristiwa. Kegiatan tersebut sekaligus menjadi ruang bagi kader untuk mengembangkan sikap kritis dan kepedulian terhadap persoalan sosial dan kemanusiaan. (*)





0 Tanggapan
Empty Comments