Kepedulian terhadap lingkungan merupakan salah satu indikator peradaban sebuah masyarakat. Semakin tinggi kepedulian terhadap lingkungan, semakin baik pula kualitas peradabannya.
Hal itu disampaikan Ketua Pimpinan Pusat Muhammadiyah Prof. Dr, Muhadjir Effendy MAP saat menghadiri pengukuhan 1.014 kader penggerak lingkungan Green Movement Muhammadiyah (GreenMu) yang digelar Pimpinan Daerah Muhammadiyah (PDM) Banyumas, Selasa (22/9/2026).
“Semakin beradab, semakin baik lingkungannya,” ujar Muhadjir di hadapan pimpinan Muhammadiyah dan para kader GreenMu.
Menurutnya, gerakan lingkungan yang dirintis PDM Banyumas dapat menjadi contoh bagaimana Muhammadiyah mengambil peran nyata dalam membangun peradaban di tingkat daerah.
Muhadjir bahkan menyebut Banyumas berpeluang menjadi pelopor peradaban maju karena telah menggerakkan masyarakat untuk peduli dan terlibat dalam pengelolaan lingkungan.
Muhadjir menilai Muhammadiyah tidak perlu sekadar menyuarakan kepedulian terhadap lingkungan dengan berbagai slogan. Sebagai organisasi masyarakat yang besar, Muhammadiyah justru perlu menunjukkan gerakan nyata di tengah masyarakat.
“Sebagai organisasi yang besar, Muhammadiyah tidak perlu berteriak keras tentang lingkungan, tetapi langsung bergerak nyata di tengah-tengah masyarakat,” katanya.
Menurut dia, gerakan GreenMu sekaligus merupakan bentuk kontribusi Muhammadiyah dalam membantu pemerintah menyelesaikan persoalan lingkungan.
Ia mengingatkan, membantu pemerintah dan bekerja sama dengan kelompok lain merupakan salah satu butir Kepribadian Muhammadiyah. Prinsip tersebut menjadi bagian dari sikap Muhammadiyah dalam ikut memelihara dan membangun negara.
“Sebagai gerakan dakwah berkemajuan, jika ada kader Muhammadiyah tidak memiliki panggilan hati untuk membantu pemerintah dan bekerja sama dengan golongan lain, berarti diragukan kemuhammadiyaannya,” tegasnya.
Muhadjir juga mengingatkan butir lain dalam Kepribadian Muhammadiyah yang menekankan sikap adil serta korektif ke dalam dan ke luar dengan bijaksana.
Karena itu, menurut dia, sikap kritis Muhammadiyah terhadap persoalan di luar organisasi harus diimbangi dengan keberanian melakukan pembenahan dari dalam.
“Termasuk dalam gerakan peduli lingkungan juga harus dimulai dari dalam amal usaha dulu,” ujarnya.
GreenMu sebagai Legacy
Muhadjir menilai gerakan lingkungan yang dibangun Muhammadiyah Banyumas bukan sekadar program sesaat. Gerakan itu dapat menjadi warisan yang manfaatnya dirasakan generasi berikutnya.
Ia kemudian mengaitkan gerakan tersebut dengan firman Allah dalam Surat Yasin ayat 12 yang menjelaskan bahwa Allah mencatat amal manusia sekaligus bekas-bekas yang mereka tinggalkan.
Muhadjir menggambarkan catatan tersebut bahkan lebih akurat daripada sistem cloud yang merekam jejak digital manusia.
“Semua yang kita kerjakan dan bekas-bekas yang kita tinggalkan akan dicatat oleh Allah,” ujarnya.
Karena itu, ia mendorong kader GreenMu untuk memperluas gerakan. Menurut perhitungannya, 1.014 kader masih belum sebanding dengan jumlah penduduk Banyumas yang mencapai sekitar 1,75 juta jiwa.
Dengan jumlah tersebut, satu kader secara rata-rata harus mampu menjangkau sekitar 1.725 warga.
“Jadi ini masih menjadi tantangan besar. Muhammadiyah sudah memulainya dengan jumlah lebih dari seribu kader. Ke depan harus lebih dilipatgandakan lagi agar cakupannya lebih maksimal,” kata mantan Menteri Koordinator Pembangunan Manusia dan Kebudayaan itu.
Ia juga mendorong setiap kader untuk merekrut dan menggerakkan kader-kader baru di lingkungan masing-masing.
Ketua PDM Banyumas M Djohar menjelaskan, 1.014 kader GreenMu akan bergerak di berbagai elemen masyarakat. Mereka tidak hanya berperan sebagai edukator lingkungan, tetapi juga terlibat dalam pengumpulan dan pengangkutan sampah.
Gerakan tersebut menyasar lingkungan cabang, ranting, sekolah, masjid, kampus, hingga Amal Usaha Muhammadiyah.
“Selain itu, kami juga mengembangkan sistem pengelolaan sampah berbasis digital melalui aplikasi GreenMu yang dilengkapi fitur edukasi, gim pilah sampah, kuis, hingga kompetisi pengumpulan sampah,” terangnya.
Pengembangan gerakan tersebut diperkuat dengan penandatanganan MoU penerimaan wakaf lahan seluas 10 hektare untuk penghijauan.
Banyumas Dorong Pengelolaan Sampah
Gerakan GreenMu juga mendapat apresiasi Bupati Banyumas Sadewo Tri Lastiono. Ia mengatakan PDM Banyumas telah menunjukkan komitmen terhadap persoalan lingkungan, mulai dari sampah, pencemaran, hingga berkurangnya wilayah hijau.
Menurut Sadewo, persoalan lingkungan tidak lagi dapat dipandang sebelah mata.
“Menjaga kelestarian alam merupakan bagian dari amanah kepemimpinan manusia di bumi sekaligus bentuk tanggung jawab moral kepada Allah SWT serta generasi masa depan,” katanya.
Sadewo memaparkan, sekitar 77 persen sampah di Banyumas telah berhasil dikelola. Sisanya, kata dia, terus didorong melalui penguatan sistem pengelolaan yang lebih optimal.
Apresiasi serupa disampaikan Wakil Menteri Koordinator Bidang Pangan RI Hanif Faisol Nurofiq. Ia menekankan pentingnya kolaborasi lintas sektor dalam menangani persoalan sampah dan lingkungan.
Menurut Hanif, pemerintah tidak dapat berjalan sendiri. Persoalan lingkungan membutuhkan sinergi antara pemerintah, organisasi keagamaan seperti Muhammadiyah, pelaku usaha, dan masyarakat.
Kolaborasi tersebut diperlukan untuk membangun sistem pengelolaan lingkungan yang inklusif sekaligus mampu menjawab tantangan lingkungan global.
Kemenko Pangan, kata Hanif, mendukung konsep pengelolaan sampah terintegrasi, termasuk gerakan Zero Waste to Money.
Ia juga menilai penandatanganan MoU wakaf lahan 10 hektare memiliki potensi strategis untuk dikembangkan menjadi kawasan konservasi hijau yang produktif.
Kawasan tersebut, lanjut Hanif, juga berpeluang menghubungkan gerakan lingkungan dengan sektor pertanian dan peternakan di tingkat lokal.
Dengan demikian, GreenMu tidak berhenti pada gerakan memungut dan memilah sampah. Gerakan ini diarahkan menjadi ekosistem pengelolaan lingkungan yang melibatkan kader, warga, pemerintah, dan berbagai sektor kehidupan. (*)





0 Tanggapan
Empty Comments