“Inna lillaahi wa innaa ilaihi raaji’uun”. Telah berpulang ke Rahmatullah, M. Thalib, pada Senin, 28 September 2026, di Yogyakarta pukul 22.00. Esok paginya, kabar tersebut beredar di sejumlah WAG.
Banyak yang mendoakan, termasuk Ustadz Fahmi Salim, seorang pendakwah. Juga Ustadz Faris BQ yang merupakan pendakwah sekaligus penulis. Selain itu, dia mengenang Almarhum sebagai ”Satu Almamater di Persis Bangil”.
Keluarga Besar Dewan Da’wah Islamiyah Indonesia pun turut menyampaikan takziyah melalui akun Instagram-nya. Mereka berdoa: ”Semoga Allah menerima segala amal ibadah beliau dan keluarga yang ditinggalkan diberikan ketabahan.”
Selanjutnya, mari mengenang sebagian kebaikan Almarhum. Kita ingat kembali aktivitas berdakwah melalui lisan dan tulisan dari M. Thalib. Di kedua pilar dakwah itu, berbicara dan menulis, M. Thalib terbilang menonjol. Almarhum memiliki kemampuan yang sama-sama baik dalam dua hal tersebut, yaitu lisan dan tulisan.
Pendakwah Komplit
M. Thalib adalah pendakwah ideal jika memakai perspektif KH Isa Anshary. Dalam bukunya, Mujahid Da’wah, tokoh Masyumi itu menegaskan bahwa pendakwah yang baik adalah yang memiliki kemampuan berbicara sekaligus menulis yang sama-sama baik.
Dalam kalimat lain, pendakwah yang komplet adalah jika pada dirinya olah lisan dan tulisannya sama-sama bisa digunakan secara tepat dan bagus saat berdakwah. Terkait hal itu, lihatlah M. Thalib yang terampil saat berceramah dan cakap ketika menulis.
M. Thalib, di satu sisi, saat berceramah menguasai materi maupun teknis penyampaiannya. Tak hanya itu, dia pun cekatan jika berdebat. Di sisi lain, ratusan karya bukunya, yang sebagian laris, menunjukkan bahwa dia merupakan penulis yang baik.
Pembicara Andal
Sekarang, kita ikuti sebagian jejak dakwah M. Thalib lewat lisan. Terkait hal ini, Artawijaya punya catatan. Menurut penulis sekaligus aktivis perbukuan ini, model ceramah dan debat M. Thalib memadukan wawasan keilmuan yang dalam—karena beliau rajin membaca—dan ilmu manthiq (logika) yang kuat.
Dalam ceramah dan debat, mimik wajah beliau ekspresif, argumentatif, dan kata-katanya tegas. Ini, saat berdebat, bisa bikin lawan debatnya shock.
M. Thalib, lanjut Artawijaya yang alumni Pesantren Persis Bangil ini, pernah berdebat dengan Dr. Zainun Kamal, dosen UIN Jakarta dan Universitas Paramadina Jakarta. Tema debatnya terkait buku Fiqih Lintas Agama yang diterbitkan Paramadina.
Tentang ini, bacalah reportase debatnya yang dipublikasikan Tempo dengan judul Bukan Hanya Debat Kusir. Tempo menulis pada 25 Januari 2004 bahwa mata Zainun Kamal kontan menyipit dengan kening berkerut. Pancingan Muhammad Thalib—lawan debatnya dari Majelis Mujahidin Indonesia (MMI)—membuatnya hampir kehilangan kontrol.
“Kami meminta Anda bertobat bila argumen Anda terbukti lemah,” kata Thalib mengawali pembicaraan dalam acara debat publik yang digelar di Universitas Islam Negeri (UIN) Jakarta pada Kamis 22 Januari 2004 (https://data.tempo.co/MajalahTeks/detail/ARM20180612100118/bukan-hanya-debat-kusir).
Masih kenangan dari debat itu. Teten Romly Qomaruddien, seorang aktivis dakwah, pernah mendapat cerita langsung dari M. Thalib. Berikut ini petikannya:
Ada berondongan pertanyaan dari M. Thalib yang “mematikan” lawan debatnya. Itu, membuat para pembicara kewalahan untuk menjawabnya. “Dari judul cover bukunya saja sudah salah,” sergah M. Thalib. “Mengapa buku ini diberi judul Fiqih Lintas Agama, sementara isinya meremehkan fiqih Islam dan tidak memuat sedikit pun fiqih-fiqih agama lain. Justru sebaliknya, hanya menelanjangi fiqih para ulama madzhab Ahlus Sunnah sekaliber Imam As-Syafi’i rahimahullaah. Bukankah judulnya fiqih lintas agama? Harusnya di dalamnya ada perbandingan fiqih Yahudi, fiqih Nashrani, fiqih Hindu, fiqih Budha, dan lain-lain,” gugat M. Thalib.
M. Thalib melanjutkan: “Andaikan ilmu para pemateri ini diikat dan dikumpulkan menjadi satu, jangan dibandingkan dengan ilmunya Imam As-Syafi’i, bahkan dibandingkan dengan ‘kotorannya’ saja tidak akan sebanding.”
Rangkaian kalimat tajam di atas membuat suasana menjadi hening. Bahkan, menjadikan semua pemateri kebingungan untuk menjawab.
Kisah tersebut, lanjut Teten, membuat kami kagum akan keberania M. Thalib. Juga, sekaligus sangat menghormatinya (http://madrasahabi-umi.com/2026/09/30/pepatah-bertuah-penuh-hikmah-dari-seorang-singa-dakwah/).
Penulis Produktif
Di antara kenangan yang melekat kuat pada M. Thalib adalah keseriusannya dalam menulis. Ratusan makalah telah ditulisnya. Ratusan buku sudah dibuatnya.
Ada yang mencatat bahwa karya buku M. Thalib lebih dari dua ratus judul. Temanya beragam. Ini merupakan prestasi yang mengagumkan. Hal tersebut tentu dihasilkan oleh pribadi yang tekun.
Sekali lagi, tema karya buku M. Thalib beragam. Ada karya berupa Tafsir Al-Qur’an, seperti Juz Amma dan sejumlah tema. Ada pula Hadits dan Fiqih Nabawi, masing-masing dalam beberapa buku.
Karyanya di tema aqidah lebih dari 20 judul. Tema ibadah 23 judul, ekonomi 4 judul, politik 7 judul, sosial 3 judul, bahasa 4 judul, gender 10 judul, dan Keluarga Sakinah 64 judul.
Karya M. Thalib yang berupa buku pelajaran juga banyak, seperti Al-Qur’an dan Hadits, Fiqh, Tarikh, Bahasa Arab, dan Pendidikan Agama Islam.
Karya berupa terjemahan buku juga banyak, seluruhnya 50 judul. Di antaranya, Tafsir Al-Maraghi lengkap dan Fiqh Sunnah jilid 6–10 (https://www.scribd.com/document/780662253/02-Daftar-Karya).
Kesaksian Spontan
Saat mendengar kabar M. Thalib wafat, di sebuah WAG, Solikhin Abu Izzudin mendoakan ”Rahimahullahu rahmatan waasi’ah”.
Setelah itu, penulis dari banyak buku, termasuk buku best seller berjudul Zero to Hero, itu memberikan kesaksian:
“Beliau penulis yang menginspirasi dengan tema praktis dengan retorika angka-angka.”
Mungkin, yang dimaksud Solikhin dalam kalimat terakhir di atas adalah bahwa di antara karya-karya M. Thalib banyak yang memiliki ciri khas, yaitu judulnya memuat unsur angka.
Berikut ini sebagian contoh judul-judul itu: 15 Keutamaan Pernikahan dalam Islam, 50 Pedoman Mendidik Anak Menjadi Shalih, 40 Tanggung Jawab Orang Tua terhadap Anak, Memahami 20 Fitrah Sifat Orang Tua, dan Memahami 20 Fitrah Sifat Anak.
Jejak Berharga
Karya M. Thalib menawarkan beraneka tema. Ada yang bersifat panduan. Salah satunya berjudul Buku Sistem Cepat Belajar Bahasa Arab.
Hal yang lebih mengesankan, penerbitnya bermacam-macam. Termasuk dua penerbit besar, yaitu Pro-U Media Yogyakarta dan Pustaka Al-Kautsar Jakarta, turut menerbitkan karya-karyanya.
Cermati buku yang bertema pemikiran, seperti Melacak Kekafiran Berpikir. Mari buka buku itu yang diterbitkan Uswah, kelompok Pro-U Media Yogyakarta. Untuk terbitan 2007, buku itu merupakan cetakan yang ke-10. Ini menjadi pertanda buku tersebut laris dan dibutuhkan.
Di Pro-U Media, cukup banyak karya M. Thalib yang diterbitkan. Sebuah sumber menyebut sebagai berikut: ada 15 seri Ensiklopedia Keluarga Sakinah, satu jilid Manajemen Keluarga Sakinah, dan satu jilid Kamus Kosakata Al-Qur’an.
Selanjutnya, kita lihat karya M. Thalib di Pustaka Al-Kautsar Jakarta. Di sana, dia menulis sejumlah buku keislaman dan keluarga. Judul-judulnya adalah 60 Pedoman Rumah Tangga Islami, 40 Tanggung Jawab Orang Tua terhadap Anaknya, dan Nilai Laki-Laki dalam Islam.
Juga terbit di Pustaka Al-Kautsar Melacak Kekafiran dalam Berfikir. Buku ini menyoroti berbagai bentuk penyimpangan atau pemikiran yang bertentangan dengan akidah Islam. Perhatikan, di kemudian hari, buku Melacak Kekafiran Berfikir juga diterbitkan oleh Pro-U Media seperti yang telah disebutkan sebelumnya.
Orang Pergerakan
M. Thalib lahir di Surabaya, 30 November 1948. Dia tumbuh-kembang sebagai anak cerdas dan kritis. Saat dewasa, dia menjadi ulama yang berdakwah lewat lisan dan tulisan. Lebih dari 500 makalah dan lebih dari 200 buku sudah dia tulis.
Sebuah sumber menulis biografinya cukup lengkap. Berikut ini petikannya.
Tentang riwayat pendidikannya, setelah lulus dari SD pada 1960, M. Thalib belajar di Pesantren Persis Bangil. Di sini, jenjang Tsanawiyah dan Aliyah diselesaikannya pada 1967. Berikutnya, dia melanjutkan ke Fakultas Syari’ah UII Yogyakarta dan lulus pada 1978.
Para gurunya banyak, antara lain Ustadz ‘Abdul Qadir Hassan (Fiqih, Hadits, Tafsir dan Mantiq), Ustadz Ahmad Yazid (Bahasa Arab dan Mantiq), dan Ustadz ‘Ali Al-Hamidi (Tafsir).
Untuk politik, antara lain M. Thalib berguru kepada Dr. Muhammad Fuad Fakhruddin dan Dr. Muhammad Natsir. Kapan belajar kepada Pak Natsir? Itu terjadi saat Pak Natsir berkunjung ke Bangil dan dengan cara mulazamah, kata Hadi Nur Ramadhan – pendiri Pusat Dokumentasi Tamaddun.
M. Thalib juga berguru antara lain kepada Prof. Dr. Muchtar Yahya (Bahasa Arab dan Tafsir), Prof. Thaha Yahya (Bahasa Arab), Prof. Kahar Muzakir (Hukum Islam), Prof. Syafi’i Karim (Hukum Islam), Prof. Mulyatno (Hukum Pidana), Prof. Kasmat Bahuwinagun (Hukum Perdata), Prof. Noto Susanto (Hukum Antargolongan), dan Prof. Dr. HM. Rasyidi (Perbandingan Agama).
Pun, dia belajar kepada sejumlah dosen dengan berbagai kepakaran seperti tafsir, fiqih, waris, pidana, dan lain-lain. Adapun di antara dosen yang dimaksud adalah Ahmad Azhar Basyir, M.A.
Bahkan, ada yang terbilang istimewa. Saat menjalankan ibadah Umrah pada Mei 1978, M. Thalib mengikuti Halaqah Studi Islam kepada Prof. Muhammad Quthb di Masjidil Haram.
Semasa mudanya, M. Thalib sangat aktif mengikuti diskusi-diskusi intensif dengan para tokoh pergerakan Islam nasional di Indonesia seperti M. Natsir, Mohammad Roem, Soekiman Wiryosanjoyo, dan Farid Ma’ruf.
M. Thalib punya pengalaman mengajar yang panjang. Dia mengajar di Pesantren Persis Bangil (1968–1971), Asisten Dosen Fakultas Dakwah Muhammadiyah Yogyakarta (1974–1978), Dosen Fakultas Syari’ah dan Tarbiyah UII Yogyakarta (1978–1993), Dosen Agama di Fakultas Psikologi UGM Yogyakarta (1977), dan Dosen Ma’had ‘Ali Al-Mukmin Surakarta (2003–2005).
M. Thalib memang ”orang pergerakan”.
Pengalaman berorganisasi M. Thalib cukup mengesankan. Pernah di Pelajar Islam Indonesia (PII) Cabang Bangil, 1968–1970. Di Himpunan Mahasiswa Islam, Komisariat Bangil, 1968–1970. Di Pelajar Islam Indonesia Wilayah DIY, 1973–1976. Sebagai Ketua Senat Mahasiswa Fakultas Syari’ah UII Yogyakarta, 1973–1975.
Pada 1989, M. Thalib diangkat sebagai anggota Rabithah ‘Alam Islami (Muslim World League). Dia di Komisi Pengembangan Pemikiran Qur’an dan Sunnah.
Di Muhammadiyah, M. Thalib juga aktif. Dia pengurus Majelis Tarjih PDM Kodya Yogyakarta, 1977–1979. Setelah itu, di Majelis Tarjih PWM DIY, 2000–2005 (https://www.scribd.com/document/780662246/03-BIOGRAFI-PENULIS, akses 29 September 2026).
Indah Menggugah
M. Thalib telah menghadap Allah. Sebagian riwayat perjuangannya telah kita baca. Insya Allah, bisa menjadi pelajaran berharga. Bahwa, semangat belajar dan dakwahnya sangat menggugah. Karya-karya dakwahnya sangat bermakna.
Semoga M. Thalib bahagia di Sisi Allah. Mudah-mudahan Almarhum termasuk yang dipanggil mesra oleh Allah di dalam QS Al-Fajr [89]: 27-30 ini: “Hai jiwa yang tenang. Kembalilah kepada Tuhanmu dengan hati yang puas lagi diridhai-Nya. Maka masuklah ke dalam jamaah hamba-hamba-Ku, masuklah ke dalam surga-Ku.”[]





0 Tanggapan
Empty Comments