Belajar jurnalistik tidak cukup hanya dengan membaca dan menulis. Siswa perlu mengalami langsung bagaimana informasi dicari, digali, diuji, dan disajikan. Hal itulah yang dilakukan peserta Kelas Talenta Jurnalistik SMP Muhammadiyah 6 Surabaya dalam pertemuan kedua ekstrakurikuler jurnalistik, Jumat (4/9/2026).
Meski baru dua kali mengikuti pembelajaran tatap muka, para siswa menunjukkan antusiasme tinggi. Mereka aktif berdiskusi, bertanya, menyampaikan pendapat, hingga berani turun langsung mewawancarai narasumber di lingkungan sekolah.
Pembina Ekstrakurikuler Kelas Talenta Jurnalistik SMP Muhammadiyah 6 Surabaya, Andi Hariyadi, mengatakan pembelajaran jurnalistik dirancang agar siswa memiliki ruang yang luas untuk mengembangkan ide sekaligus melatih keberanian mencari informasi.
“Siswa harus diberikan seluas-luasnya ruang diskusi yang terarah sesuai tema yang didapatkan. Dengan begitu, mereka bisa mengeksplorasi informasi sebanyak mungkin,” ujar Andi saat mendampingi pembelajaran di ruang diskusi SMP Muhammadiyah 6 Surabaya.
Menurutnya, kemampuan menggali informasi dari narasumber bukan sekadar persoalan keberanian bertanya. Lebih dari itu, siswa harus mampu menemukan informasi baru, memahami persoalan, dan mengolahnya menjadi bahan tulisan yang memiliki nilai.
“Kelas talenta jurnalistik tidak sekadar menghasilkan tulisan dengan gaya bahasa yang bagus, tetapi juga melatih siswa mengungkapkan ide dan pokok pikiran yang inovatif sehingga karya mereka memiliki nilai lebih,” katanya.
Andi yang juga Ketua Majelis Pustaka, Informatika, dan Digitalisasi Pimpinan Daerah Muhammadiyah Surabaya itu kemudian mengajak siswa mengenal sosok Buya Hamka sebagai salah satu teladan dalam dunia literasi dan jurnalistik.
Ia menceritakan produktivitas Buya Hamka dalam menulis, mulai dari karya sastra, jurnalistik, hingga karya keislaman, termasuk Tafsir Al-Azhar 30 juz.
“Kisah tersebut memantik rasa ingin tahu siswa. Mereka antusias bertanya tentang karya, perjalanan hidup, serta perjuangan Buya Hamka. Dari sosok tersebut, siswa diajak memahami bahwa kemampuan menulis lahir dari kebiasaan membaca, ketekunan, dan keberanian menuangkan gagasan,” urai Andi.
Setelah sesi diskusi, siswa dibagi menjadi dua kelompok untuk melakukan praktik wawancara. Mereka diminta mencari informasi dari narasumber yang berada di lingkungan sekolah.
Kelompok pertama yang terdiri atas Fatimah Azzahra dan Hafizah Vira Aulia, siswa kelas 9B, memilih meliput kegiatan Cooking Class. Keduanya menemui guru yang sedang mendampingi siswa praktik membuat sandwich.
Dengan sopan, mereka meminta waktu untuk melakukan wawancara. Pertanyaan yang diajukan tidak hanya mengenai identitas dan latar belakang pendidikan narasumber, tetapi juga pengalaman mengajar, alasan memilih praktik membuat sandwich, bahan yang digunakan, teknik memasak, hingga proses penyajiannya.
Keduanya juga mengamati langsung kegiatan siswa selama praktik. Mereka melihat keseruan peserta Cooking Class sekaligus hasil praktik berupa sandwich yang berhasil dibuat.
Pengalaman tersebut membuat mereka menyadari bahwa kegiatan di lingkungan sekolah dapat menjadi sumber informasi yang menarik apabila diamati dengan baik.
Sementara itu, kelompok kedua yang terdiri atas Qaanita Lutfiah Salsabilah dan Shakila Nurita Arianto, juga dari kelas 9B, memilih melakukan wawancara dengan penjual somay di kantin sekolah.
Dari wawancara tersebut, keduanya mendapatkan informasi tentang sosok ibu rumah tangga yang telah sembilan tahun berjualan somay. Mereka menggali informasi mengenai bahan yang digunakan, pengalaman berjualan, suka dan duka menjalankan usaha, hingga kiat mempertahankan usaha mikro di lingkungan sekolah.
Wawancara tersebut sekaligus memberikan pengalaman baru bagi siswa. Mereka tidak hanya memperoleh bahan tulisan, tetapi juga belajar melihat nilai sebuah cerita dari kehidupan orang-orang di sekitar mereka.
Setelah wawancara, kedua kelompok kembali ke ruang diskusi untuk memaparkan hasil pengamatan dan informasi yang diperoleh. Data yang mereka dapatkan kemudian didiskusikan dan diperdalam bersama.
Suasana diskusi berlangsung dinamis. Rasa grogi yang sempat muncul ketika pertama kali mewawancarai narasumber perlahan berubah menjadi kepercayaan diri.
Hafizah mengaku pengalaman tersebut membuatnya semakin tertarik mendalami jurnalistik.
“Kami senang mengikuti praktik pertama sebagai tim jurnalis. Semoga ke depan kami semakin berkembang dalam memahami jurnalistik dan bisa mengembangkan potensi diri, terutama dalam public speaking dan kemampuan lainnya,” ujarnya.
Hal senada disampaikan Shakila. Menurutnya, praktik wawancara memberikan pengalaman langsung tentang bagaimana seorang jurnalis bekerja.
“Kegiatannya seru dan menambah pengalaman baru. Saya jadi lebih tahu bagaimana proses menjadi seorang jurnalis dan pentingnya mencari informasi dengan baik,” katanya.
Shakila berharap kegiatan jurnalistik berikutnya tidak hanya berlangsung di lingkungan sekolah, tetapi juga memberi kesempatan kepada siswa untuk mengeksplorasi berbagai peristiwa dan sumber informasi di luar sekolah.
“Semoga kegiatan jurnalistik ini bisa membantu mengembangkan kemampuan menulis, menambah wawasan, dan membuat saya lebih percaya diri dalam menyampaikan informasi,” tuturnya.
Bagi SMP Muhammadiyah 6 Surabaya, praktik semacam ini menjadi bagian penting dalam pembelajaran jurnalistik. Siswa tidak hanya diajarkan membuat tulisan, tetapi juga dilatih menjadi pencari informasi yang kritis, komunikatif, dan bertanggung jawab.
Dari ruang kelas, mereka mulai belajar satu hal penting dalam jurnalistik: informasi tidak selalu datang dengan sendirinya. Ia harus dicari, ditanyakan, diamati, dan dipastikan kebenarannya. (*)





0 Tanggapan
Empty Comments