Jalan Santai Masyarakat dan Santri (Masyan) Al-Ishlah pada Ahad (13/9/2026) semakin semarak dengan dentuman musik tradisional tongklek. Iringan musik khas tersebut menggetarkan lorong-lorong kampung sepanjang rute yang dilalui lebih dari 5.000 peserta.
Sebanyak 25 personel santri Al-Ishlah pimpinan Reza Izzudin tampil penuh energi. Seperti terlihat dalam foto, mereka mengusung seperangkat gamelan tongklek dengan hiasan ornamen megah berwarna emas yang menjadi ciri khasnya.
Perangkat musik tersebut juga dilengkapi bendera Merah Putih dan bendera Al-Ishlah.
Meski menggunakan alat yang sederhana, suara yang dihasilkan tongklek sangat dominan dan mampu menyedot perhatian warga. Musik tongklek terdiri dari tong plastik, ging, simbal, gambang, kenong, senar, dan alat musik perkusi lainnya yang dirangkai dalam sebuah gerobak dorong.
“Musik tradisional khas Tuban-Lamongan ini memang sangat diminati santri karena memiliki tempo yang cepat, penuh semangat, dan rancak. Iramanya yang dinamis sangat cocok membawakan lagu-lagu dangdut dan campursari Jawa, sehingga membuat langkah kaki peserta Masyan menjadi lebih bersemangat,” ujar Reza Izzudin.
Dentuman musik tersebut membuat suasana Jalan Santai Masyan semakin hidup. Kehadiran para santri dengan perangkat tongklek menjadi salah satu perhatian di sepanjang rute yang dilewati ribuan peserta.
Kehadiran tongklek tidak hanya menjadi pengiring jalan santai, tetapi juga menjadi wujud pelestarian budaya lokal dalam momentum peringatan 40 tahun Pondok Pesantren Al-Ishlah Sendangagung.
Melalui penampilan 25 santri tersebut, musik tradisional khas Tuban-Lamongan turut hadir dalam perayaan empat dasawarsa Al-Ishlah sekaligus menyemarakkan kebersamaan masyarakat dan santri dalam kegiatan Masyan.





0 Tanggapan
Empty Comments