Iklan Mudipat Landscape
Iklan Mudipat Mobile

6 Tipe Manusia yang Perlu Kita Waspadai dalam Diri

Iklan Landscape Smamda
6 Tipe Manusia yang Perlu Kita Waspadai dalam Diri
Ilustrasi: OpenAI
Oleh : Ferry Is Mirza Jurnalis Senior dan Aktivis Muhammadiyah

Ada orang yang tampak baik ketika berbicara di depan banyak orang. Pakaiannya rapi. Ucapannya tertata. Pengetahuannya luas. Tetapi, ada saat-saat tertentu ketika watak asli seseorang terlihat. Ketika pendapatnya dibantah. Ketika hartanya berkurang. Ketika melihat orang lain lebih berhasil. Ketika berada di jalan yang macet.

Atau ketika malam tiba dan tidak ada seorang pun yang melihat apa yang ia lakukan. Di situlah akhlak diuji.

Sebab keburukan manusia tidak selalu tampak dalam perkara besar. Kadang ia muncul dari cara kita berbicara kepada orang lain, cara kita mengejar dunia, atau cara kita memperlakukan waktu yang seharusnya digunakan untuk mendekat kepada Allah.

Karena itu, enam karakter berikut lebih baik kita jadikan bahan introspeksi daripada sekadar daftar untuk menilai orang lain.

1. Al-Ja’dzari: Keras, Kasar, dan Sombong

Ada orang yang sulit mengakui kesalahan.  Dalam sebuah percakapan, ia selalu ingin menjadi pemenang. Ketika pendapatnya berbeda, suaranya meninggi. Ketika dikritik, ia tersinggung. Bahkan ketika benar-benar keliru, ia masih mencari alasan agar dirinya terlihat benar.

Inilah salah satu bentuk kekerasan hati. Masalahnya bukan sekadar suara yang keras. Lebih dalam dari itu, ada kesombongan yang membuat seseorang merasa lebih tinggi daripada orang lain. Padahal, semakin tinggi ilmu seseorang, semestinya semakin rendah hati dirinya.

Orang yang benar-benar kuat tidak selalu harus menunjukkan bahwa dirinya kuat. Ia mampu berkata, “Saya keliru.”

Kalimat sederhana itu kadang jauh lebih mulia daripada seribu alasan untuk mempertahankan ego.

2. Jawwadz: Rakus Mengejar Dunia

Ada orang yang setiap pagi bangun dengan satu pikiran: bagaimana mendapatkan lebih banyak. Lebih banyak uang. Lebih banyak jabatan. Lebih banyak pengaruh. Lebih banyak pengikut.

Setelah mendapatkannya, ia belum merasa cukup. Rumah sudah ada, ingin rumah yang lebih besar. Kendaraan sudah baik, ingin yang lebih mahal. Penghasilan meningkat, tetapi rasa syukur justru tidak ikut bertambah.

Dunia memang perlu dicari. Islam tidak mengajarkan manusia untuk bermalas-malasan. Tetapi ada batas yang perlu dijaga.

Jangan sampai tangan sibuk menggenggam dunia, sementara hati kehilangan kemampuan untuk bersyukur. Sebab persoalannya bukan berapa banyak yang kita miliki.

Persoalannya adalah apakah yang kita miliki membuat kita semakin dekat kepada Allah atau justru semakin jauh.

3. Sakhkhaab fii Aswaaq: Kasar di Ruang Publik

Kita sering melihatnya dalam kehidupan sehari-hari.

Di jalan raya, seseorang membunyikan klakson berkali-kali hanya karena kendaraan di depannya terlambat bergerak. Di antrean, seseorang memotong barisan lalu marah ketika ditegur.

Di tempat umum, suara teleponnya begitu keras. Ketika berbeda pendapat, kata-katanya tajam. Orang-orang di sekitarnya akhirnya ikut merasa tidak nyaman.

Hal-hal kecil seperti itu sering dianggap sepele. Padahal, adab justru terlihat dari perkara-perkara kecil.

Seseorang boleh marah. Tetapi tidak semua kemarahan harus diumbar. Seseorang boleh berbeda pendapat. Tetapi perbedaan tidak harus berubah menjadi penghinaan.

Lisan adalah bagian kecil dari tubuh, tetapi dampaknya bisa sangat panjang. Satu kalimat dapat membuat seseorang tersenyum. Satu kalimat pula dapat membuat seseorang terluka bertahun-tahun.

4. Himaar bin Nahar: Sibuk dengan Dunia, Lupa Memperbaiki Diri

Pagi berangkat bekerja. Siang mengejar target. Sore menyelesaikan urusan. Malam masih memeriksa pesan dan pekerjaan.

Hari berganti hari. Tahun berganti tahun. Tiba-tiba seseorang menyadari bahwa hidupnya semakin mapan, tetapi hatinya tidak semakin tenang.

Ia tahu bagaimana mengembangkan bisnis, tetapi lupa bagaimana mengembangkan kesabaran. Ia tahu bagaimana mengatur keuangan, tetapi lupa mengatur waktu untuk beribadah.

SMPM 5 Pucang SBY

Ia hafal cara mengejar kesuksesan dunia, tetapi jarang bertanya: sudah sejauh mana persiapanku untuk kehidupan setelah dunia?

Bekerja bukan kesalahan. Mencari rezeki juga bukan kesalahan. Yang perlu ditakuti adalah ketika kesibukan menjadi alasan untuk berhenti memperbaiki diri.

Jangan sampai kita begitu sibuk membangun rumah di dunia, tetapi lupa menyiapkan tempat kembali di akhirat.

5. Jifah bil Lail: Malam Berlalu Tanpa Kedekatan kepada Allah

Malam datang. Rumah mulai sunyi. Televisi dimatikan. Telepon diletakkan. Tetapi ada orang yang masih terus menggulir layar hingga matanya berat. Ia tidur. Malam berlalu. Pagi datang.

Kesempatan untuk berdoa, beristighfar, bermunajat, atau sekadar duduk dalam keheningan bersama Allah kembali terlewat.

Padahal, malam sering menjadi ruang paling jujur bagi manusia. Tidak ada tepuk tangan. Tidak ada penonton. Tidak ada kamera. Hanya seorang hamba dan Tuhannya.

Tidak semua orang mampu bangun di tengah malam. Tetapi setiap orang dapat belajar menyediakan waktu untuk mendekat kepada Allah.

Sebab hati yang terlalu sibuk pada siang hari terkadang membutuhkan kesunyian malam untuk kembali menemukan arah.

6. ‘Aalim fid Dunya, Jaahil fil Aakhirah: Pintar tentang Dunia, Lalai tentang Akhirat

Ada orang yang sangat terampil mengurus kehidupan dunia. Ia memahami teknologi. Pandai berbisnis. Mengerti investasi. Menguasai strategi. Mampu membaca peluang. Tetapi ketika ditanya tentang bekal akhirat, ia tidak pernah benar-benar memikirkannya.

Inilah ironi kehidupan. Manusia bisa menghabiskan puluhan tahun belajar agar kehidupannya nyaman, tetapi hanya sedikit waktu untuk belajar bagaimana mempertanggungjawabkan kehidupannya di hadapan Allah.

Kita perlu ilmu dunia. Tetapi ilmu dunia seharusnya membawa kita kepada kebijaksanaan, bukan membuat kita lupa kepada kehidupan yang lebih panjang.

Pada akhirnya, rumah yang kita bangun akan ditinggalkan. Jabatan akan berganti. Nama akan dilupakan.

Harta akan berpindah tangan. Yang mengikuti kita bukan semua yang pernah kita kumpulkan, melainkan amal yang pernah kita kerjakan.

Jangan Sibuk Mencari Enam Orang Ini

Enam karakter tersebut sebaiknya tidak menjadi daftar untuk mencari siapa yang pantas kita sebut buruk. Jadikan ia cermin.

Barangkali ada sedikit kesombongan dalam diri kita. Barangkali ada kerakusan yang selama ini kita sebut sebagai ambisi.

Barangkali ada ucapan yang melukai orang lain. Barangkali pekerjaan telah membuat kita terlalu jauh dari ibadah. Barangkali malam-malam kita habiskan tanpa sempat berbicara kepada Allah.

Atau barangkali kita sangat pintar mengurus kehidupan dunia, tetapi masih gagap ketika berbicara tentang bekal menuju akhirat. Manusia memang tidak luput dari kekurangan.

Karena itu, yang penting bukan merasa diri sudah bersih. Yang penting adalah selalu bersedia bercermin.

Setiap hari adalah kesempatan untuk memperbaiki satu kebiasaan. Menahan satu ucapan. Memaafkan satu kesalahan. Mengurangi satu keserakahan. Memperbaiki satu ibadah. Dan mendekat lagi kepada Allah.

Semoga Allah menjaga kita dari akhlak yang buruk, melembutkan hati kita, menjaga lisan kita, mencukupkan rezeki kita, dan tidak membiarkan kesibukan dunia membuat kita lupa kepada akhirat.

Sebab perjalanan hidup ini pada akhirnya bukan tentang seberapa banyak yang berhasil kita kumpulkan. Melainkan tentang seberapa baik kita pulang kepada-Nya. (*)

Revisi Oleh:
  • Agus Wahyudi - 06/10/2026 20:39
SD Kreatif

Baca Lainnya

Adv UMSURA

0 Tanggapan

Empty Comments

Search
Menu