Iklan Mudipat Landscape
Iklan Mudipat Mobile

Haedar Nashir Kenang Masa Ditempa Jadi Wartawan: Berita Dicoret, Naskah Disobek

Iklan Landscape Smamda
Haedar Nashir Kenang Masa Ditempa Jadi Wartawan: Berita Dicoret, Naskah Disobek
Prof. Haedar Nashir menyampaikansambtan dalam peringatan Hari Pers dan Literasi Muhammadiyah 2026 di Universitas Muhammadiyah Jakarta (UMJ), Kamis (13/8/2026). Foto: Istimewa
pwmu.co -

Ketua Umum Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah Prof. Haedar Nashir mengenang perjalanan panjangnya menjadi wartawan. Sebelum dikenal sebagai intelektual dan pemimpin Muhammadiyah, Haedar pernah ditempa keras sebagai wartawan lapangan.

Dia harus turun ke berbagai daerah, mengejar berita dengan berbagai moda transportasi, hingga menghadapi kenyataan pahit ketika tulisannya dicoret dan naskahnya disobek.

Kisah tersebut disampaikan Haedar Nashir dalam Peringatan Hari Pers dan Literasi Muhammadiyah 2026 di Universitas Muhammadiyah Jakarta (UMJ), Kamis (13/8/2026).

Kegiatan tersebut dihadiri sejumlah tokoh, antara lain Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah Prof. Abdul Mu’ti, Menteri Koordinator Bidang Pangan Dr. (HC) Zulkifli Hasan, Ketua Dewan Pers Prof. Komaruddin Hidayat, serta Rektor Universitas Muhammadiyah Jakarta Prof. Ma’mun Murod.

Di hadapan para wartawan dan pegiat media Muhammadiyah, Haedar mengawali ceritanya dengan sebuah impian yang baru terwujud puluhan tahun kemudian.

“Sesuatu yang saya dambakan sejak menjadi wartawan adalah dapat kartu wartawan. Setelah 42 tahun, kartu itu saya peroleh dari Prof. Komarudin Hidayat (Ketua Dewan Pers),” ujar Haedar.

Dia kemudian membawa peserta mengenang masa mudanya ketika pertama kali terjun ke dunia jurnalistik. Saat itu, Haedar berada di bawah tempaan pemimpin redaksi A. Adjib Hamzah selama sekitar lima tahun.

Tempaan itu tidak dilakukan di ruang redaksi semata. Haedar benar-benar dibentuk menjadi wartawan lapangan. Dia harus mendatangi berbagai daerah untuk mencari berita, menggunakan kendaraan apa pun yang tersedia.

“Selama lima tahun saya digojlok menjadi wartawan lapangan yang memungut berita ke daerah, naik bus, jalan kaki, naik kereta dan seluruh kendaraan, di Jawa maupun luar Jawa,” tuturnya.

Pengalaman itu membuat Haedar memahami perbedaan mendasar antara menjadi wartawan dan sekadar menjadi penulis. Wartawan, menurutnya, harus mengalami sendiri denyut lapangan, mencari informasi, bertemu narasumber, dan menguji fakta sebelum berita ditulis.

Namun, perjalanan itu tidak selalu menyenangkan. Sebagai wartawan muda, Haedar harus menerima kenyataan bahwa tidak semua berita yang dibuatnya layak dimuat.

Sebagian berita memang diterbitkan. Tetapi sebagian lainnya dikembalikan. Bahkan, ada naskah yang dicoret menggunakan tinta merah hingga disobek.

“Bapak ibu bisa bayangkan, masih muda belajar lalu dibegitukan. Sakitnya sampai sini,” katanya sembari menunjuk dadanya, seolah ingin menunjukkan betapa membekas pengalaman tersebut.

Bagi Haedar, pengalaman itu justru menjadi tempaan penting. Ia belajar dari koreksi, penolakan, dan kesalahan. Dari sanalah ia memahami bahwa menulis untuk media bukan pekerjaan yang bisa dilakukan secara sembarangan.

Tempaan sebagai wartawan kemudian memengaruhi sikap Haedar ketika dirinya dipercaya menjadi pemimpin redaksi, setelah Buya Syafii Maarif.

Dia mengaku tidak toleran terhadap tulisan yang dibuat secara asal-asalan. Baginya, redaksi memiliki tanggung jawab untuk memastikan tulisan yang diterbitkan memenuhi standar kualitas.

“Saya tidak toleran yang nulis asal-asalan. Di situlah menjadi bagian kita mengontrol tulisan agar disajikan menjadi baik,” tegasnya.

Prinsip tersebut terus ia pegang dalam perjalanan panjangnya di dunia media. Bahkan ketika kesibukannya sebagai pimpinan Muhammadiyah semakin besar, aktivitas menulis tetap menjadi bagian dari kehidupannya.

Haedar menceritakan bahwa ketika berada dalam rapat Pimpinan Pusat Muhammadiyah, dia pernah menyampaikan keinginannya untuk tetap menjadi pemimpin redaksi meskipun kelak dipercaya menjadi ketua umum.

“Saya boleh jadi ketua umum, tapi saya jangan dipecat dari pemred,” ujarnya, disambut tawa peserta.

Haedar juga membandingkan pengalaman menulis pada masa lalu dengan kondisi saat ini.

Menurutnya, dunia menulis telah mengalami perubahan besar. Jika dahulu tulisan harus melewati seleksi ketat media, kini media sosial memungkinkan siapa pun menulis dan menyebarkan gagasannya secara langsung.

“Menulis di zaman dulu beda dengan sekarang. Di media sosial siapa pun bisa menulis. Dulu kita menulis tidak gampang,” katanya.

Pengalaman itu ia rasakan ketika mulai menulis di harian Kompas setelah menjadi dosen di Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY).

Tidak semua tulisan yang dikirim langsung diterima. Ia harus mencoba berkali-kali sebelum tulisannya berhasil dimuat.

SMPM 5 Pucang SBY

“Berkali-kali baru tembus. Kalau sudah tembus, ya jalan,” ujarnya.

Menurut Haedar, setelah tulisan seseorang berhasil melewati seleksi media, kepercayaan biasanya tumbuh. Penulis bahkan dapat kembali diminta mengirimkan tulisan.

Kondisi tersebut, menurut dia, menunjukkan bahwa proses seleksi media pada masa lalu ikut membentuk kualitas penulis sekaligus menjaga mutu informasi yang dikonsumsi publik.

Perjalanan menulis Haedar kemudian berlanjut di berbagai media. Di Republika, ia dipercaya menulis kolom refleksi sejak 2000, ketika dirinya menjadi anggota Pimpinan Pusat Muhammadiyah.

Hingga 2020, Haedar menyebut telah menghasilkan sekitar 240 tulisan di media tersebut.

Di Suara Muhammadiyah, dia juga menulis melalui rubrik “Tajuk” dan “Bingkai”.

Bagi Haedar, pengalaman panjang tersebut memperlihatkan bahwa media memiliki mekanisme seleksi yang penting. Tulisan tidak sekadar dinilai dari apakah menarik atau tidak, tetapi juga dari kualitas bahasa, substansi, dan etikanya.

“Dulu untuk menulis di media sudah diseleksi. Maka mungkin tidak ada bahasa yang tidak etik,” katanya.

Karena itu, ia menilai perubahan teknologi dan kemudahan produksi konten harus diimbangi dengan tanggung jawab yang lebih besar. Kebebasan menulis tidak boleh menghilangkan disiplin jurnalistik.

Dari Mewawancarai Nakamura hingga Diwawancarai

Ada satu pengalaman lain yang dikenang Haedar sebagai bagian menarik dari perjalanan hidupnya sebagai wartawan.

Pada masa lalu, ia pernah mewawancarai Mitsuo Nakamura, akademisi asal Jepang yang dikenal luas karena penelitiannya mengenai Muhammadiyah.

Haedar mengaku sangat mengagumi Nakamura ketika mewawancarainya. Namun, puluhan tahun kemudian, situasinya berbalik.

Pada 2025, ketika Nakamura melakukan penelitian, justru Haedar yang diminta menjadi narasumber wawancara. Wawancara tersebut berlangsung di kantor Suara Muhammadiyah.

“Dulu dia mewawancarai beliau penuh kagum. Belakangan beliau wawancara dengan saya. Itulah jalan hidup,” tutur Haedar.

Bagi Haedar, peristiwa tersebut menjadi gambaran menarik tentang bagaimana perjalanan seorang wartawan dapat mempertemukannya dengan berbagai tokoh dan peristiwa dalam lintasan waktu yang panjang.

Dalam orasinya, Haedar tidak hanya mengenang perjalanan pribadinya. Ia juga menekankan posisi strategis pers dalam kehidupan publik.

Ia mengingatkan bahwa pers pernah dikenal sebagai pilar keempat demokrasi, melengkapi tiga cabang kekuasaan negara: eksekutif, legislatif, dan yudikatif.

“Kekuatan pers sebagai pemberi informasi di ruang publik yang betul-betul alternatif dari tiga pilar: yudikatif, legislatif, eksekutif,” ujarnya.

Menurut Haedar, posisi tersebut menunjukkan betapa pentingnya pers dalam menyediakan informasi yang dibutuhkan masyarakat sekaligus menghadirkan ruang alternatif bagi publik untuk memperoleh dan menguji informasi.

Di tengah era media sosial, ketika setiap orang dapat menjadi produsen informasi, fungsi pers profesional justru menghadapi tantangan baru. Kecepatan tidak boleh mengalahkan akurasi, sementara kebebasan berekspresi tidak boleh menghilangkan etika.

Perjalanan Haedar Nashir dari wartawan muda yang harus berjalan kaki, naik bus dan kereta untuk mengejar berita hingga menjadi pemimpin Muhammadiyah menunjukkan satu hal: wartawan tidak lahir hanya dari kemampuan menulis.

Dia dibentuk oleh lapangan, koreksi, penolakan, disiplin, dan keberanian untuk terus belajar. (*)

Revisi Oleh:
  • Agus Wahyudi - 13/08/2026 11:08
SD Kreatif

Baca Lainnya

Adv UMSURA

0 Tanggapan

Empty Comments

Search
Menu