Sebelum suara dilantunkan, tubuh dipersiapkan. Sebelum ayat dibaca dengan irama, napas lebih dulu dilatih. Begitulah suasana talent qiroah SD Muhammadiyah 1&2 Taman (SD Mumtaz), Senin (14/9/2026). Tiga siswa mengikuti latihan yang tidak hanya mengasah kemerduan suara, tetapi juga melatih pernapasan, vokal, dan kesiapan fisik.
Ketiga siswa tersebut adalah Ganesha Krishna Rivaldi Jabbar dari kelas 5F, Muhammad Arkan Musyaffa dari kelas 5G, dan Mufida Abdillah dari kelas 6F. Mereka mengikuti latihan di bawah bimbingan Siti Maulidiatur Rohmaniyah, S.Hum.
Menariknya, latihan tidak dimulai dengan membuka mushaf. Ketiga siswa terlebih dahulu melakukan jogging dan sit-up. Aktivitas fisik tersebut menjadi bagian dari persiapan sebelum mereka menggunakan kemampuan vokalnya.
Setelah tubuh terasa lebih siap, latihan dilanjutkan dengan senam vokal dan latihan pernapasan. Siswa diajak mengeluarkan suara secara bertahap, mengatur tinggi rendah nada, serta menjaga kestabilan suara.
“Untuk suara biar bisa melantunkan dengan sempurna, perlu latihan suara, senam vokal, dan latihan napas,” ujar Ustadzah Siti Maulidiatur Rohmaniyah.
Nafas Menjadi Modal Penting
Dalam Qiroah, suara yang indah tentu menjadi salah satu daya tarik. Namun, kemerduan suara tidak akan maksimal jika tidak didukung kemampuan mengatur napas.
Karena itu, latihan pernapasan menjadi bagian penting dalam talent qiroah. Siswa dilatih menarik dan mengeluarkan napas secara teratur. Mereka belajar menjaga agar suara tidak mudah habis ketika melantunkan ayat yang panjang.
Latihan tersebut dilakukan secara bertahap. Siswa tidak hanya diminta menghasilkan suara yang keras atau tinggi, tetapi juga diarahkan agar mampu mengontrol suara sesuai dengan kebutuhan bacaan.
Setelah latihan pernapasan, senam vokal menjadi tahap berikutnya. Pemanasan suara dilakukan agar siswa lebih siap ketika mulai membaca al-Qur’an dengan irama.
Siti Maulidiatur Rohmaniyah memberikan contoh, kemudian ketiga siswa menirukan. Jika terdapat bagian yang belum sesuai, mereka mengulanginya. Proses tersebut dilakukan secara sabar dan berulang.
Dari latihan itu, siswa belajar bahwa suara yang baik bukan sesuatu yang datang begitu saja. Ada proses yang harus dijalani secara rutin.
Belajar Lagu Bayati
Pada latihan kali ini, siswa berlatih menggunakan lagu Bayati. Irama tersebut diterapkan ketika membaca Surat Hud ayat 61-63.
Ketiga siswa mencoba mengikuti alur nada yang dicontohkan oleh pembimbing. Mereka belajar mengenali naik-turunnya nada sekaligus menjaga bacaan agar tetap sesuai dengan kaidah.
Bukan hanya irama yang diperhatikan. Tajwid, makhraj, panjang pendek bacaan, dan tempat berhenti juga menjadi perhatian dalam latihan. Satu bagian ayat dilantunkan, kemudian siswa mengikutinya. Ketika ada nada atau bacaan yang masih kurang tepat, pembimbing memberikan contoh kembali.
Proses tersebut membuat latihan berlangsung dinamis. Siswa tidak sekadar duduk dan membaca, tetapi aktif mendengarkan, menirukan, mengulang, dan memperbaiki bacaan.
Bagi Ganesha Krishna Rivaldi Jabbar, latihan qiroah membuatnya semakin percaya diri. Ia mengaku sudah mampu membaca qiroah meskipun masih perlu banyak berlatih untuk menyempurnakan iramanya.
“Aku sudah bisa qiroah, meskipun terkadang nadanya masih salah,” tuturnya sambil tersenyum.
Pernyataan sederhana itu menunjukkan bahwa proses belajar tidak selalu harus menunggu sempurna. Keberanian untuk mencoba dan kesediaan memperbaiki kesalahan menjadi bagian penting dalam mengembangkan kemampuan.
Qiroah untuk Menumbuhkan Kepercayaan Diri
Talent qiroah di SD MUMTAZ tidak hanya diarahkan untuk menghasilkan siswa yang mampu melantunkan ayat al-Qur’an dengan suara merdu. Lebih dari itu, kegiatan ini menjadi ruang untuk mengembangkan kepercayaan diri dan kedisiplinan.
Ketika membaca qiroah, siswa harus berani mengeluarkan suara di hadapan orang lain. Mereka juga harus mampu berkonsentrasi agar irama, pernapasan, dan bacaan tetap terjaga.
Ganesha Krishna Rivaldi Jabbar, Muhammad Arkan Musyaffa, dan Mufida Abdillah terus mencoba mengikuti arahan selama latihan. Kesalahan yang muncul tidak menjadi alasan untuk berhenti. Justru dari pengulangan itulah mereka belajar.
Latihan dimulai dari hal sederhana. Jogging dan sit-up untuk mempersiapkan tubuh, dilanjutkan senam vokal, latihan napas, kemudian masuk pada pembacaan ayat dengan lagu Bayati.
Rangkaian tersebut memperlihatkan bahwa kemampuan qiroah membutuhkan proses. Tidak cukup hanya memiliki suara yang bagus. Siswa perlu membangun kebiasaan berlatih agar suara semakin terkontrol dan bacaan semakin baik.
Mendekatkan Siswa dengan Al-Qur’an
Pemilihan Surat Hud ayat 61-63 juga menjadi bagian penting dalam latihan. Siswa tidak hanya belajar bagaimana ayat tersebut dilantunkan dengan irama, tetapi juga berinteraksi dengan bacaan al-Qur’an secara lebih dekat.
Melalui talent qiroah, sekolah memberikan ruang kepada siswa untuk mengembangkan potensi sekaligus menumbuhkan kecintaan terhadap al-Qur’an.
Harapannya, kemampuan yang diperoleh tidak berhenti pada penampilan atau perlombaan. Siswa dapat membawa kebiasaan membaca al-Qur’an dengan baik ke dalam kehidupan sehari-hari.
Bagi Ganesha Krishna Rivaldi Jabbar, Muhammad Arkan Musyaffa, dan Mufida Abdillah, latihan qiroah hari itu menjadi bagian dari perjalanan untuk menemukan karakter suara masing-masing. Mereka belajar bahwa lantunan yang indah membutuhkan napas yang terlatih, vokal yang terjaga, irama yang tepat, dan tentu saja latihan yang konsisten.
Sebab, di balik suara qiroah yang terdengar merdu, ada proses panjang yang mungkin tidak selalu terdengar. Ada tarikan napas yang dilatih, suara yang diulang, nada yang diperbaiki, dan keberanian yang terus ditumbuhkan.
Dari talent qiroah SD Mumtaz, siswa belajar bahwa membaca al-Qur’an dengan indah bukan sekadar tentang suara. Ia adalah perpaduan antara keterampilan, ketekunan, dan kecintaan kepada kalam Allah. (*)





0 Tanggapan
Empty Comments