Meraih predikat Best of The Best Nasional 2025 ternyata tidak membuat Pimpinan Ranting Muhammadiyah (PRM) Wage berpuas diri. Sebaliknya, penghargaan tersebut justru memunculkan pertanyaan baru: setelah menjadi yang terbaik, ke mana langkah berikutnya?
Pertanyaan itulah yang dibawa jajaran PRM Wage saat bersilaturahim dengan Wakil Ketua Pimpinan Wilayah Muhammadiyah (PWM) Jawa Timur Dr. H.M. Sulthon Amien, MM di Kantor PWM Jatim, Jalan Kertomenanggal IV/1, Surabaya, Sabtu (12/9/2026).
Pertemuan yang berlangsung sekitar 1,5 jam, pukul 12.00–13.30 WIB, tersebut menjadi ruang bagi PRM Wage untuk meminta arahan mengenai pengembangan gerakan di tingkat ranting.
“Kami sudah diberi amanah keberhasilan. Kami ingin meminta kompas agar tidak salah arah,” ujar Wakil Ketua PRM Wage Mashuri.
Bagi PRM Wage, imbuh dia, penghargaan nasional bukan tujuan akhir. Justru setelah capaian itu diraih, tantangan berikutnya adalah memastikan keberhasilan tersebut melahirkan gerakan yang lebih besar dan memberi manfaat lebih luas.
“Karena itu, PRM Wage tidak hanya datang untuk melaporkan capaian. Kami juga meminta pandangan PWM Jatim mengenai next level Ranting Wage, termasuk kemungkinan pengembangan program, penguatan kader, sinergi kelembagaan, hingga amanah baru yang dapat dijalankan,” jabar Mashuri.
Dalam diskusi tersebut dibahas sepuluh pertanyaan strategis. Salah satu yang menjadi perhatian adalah bagaimana menjadikan penghargaan Best of The Best sebagai titik awal untuk melakukan lompatan baru.
Dijelaskan Mashuri, dalam pertemuan itu pembahasan mengarah pada sejumlah persoalan mendasar dalam kehidupan ranting.
Di antaranya masalah kaderisasi dan regenerasi, pengembangan masjid dan jamaah, pengelolaan amal usaha dan aset, serta penguatan hubungan dengan Pimpinan Cabang Muhammadiyah (PCM), Pimpinan Daerah Muhammadiyah (PDM), PWM, majelis, dan lembaga Muhammadiyah.
“Pengalaman PRM Wage dalam menghidupkan masjid dan membina jamaah menjadi salah satu kekuatan yang dibicarakan,” ungkap Mashuri.
Gerakan tersebut berangkat dari keyakinan sederhana, yakni ketika masjid hidup, jamaah tumbuh. Ketika jamaah tumbuh, amal saleh bergerak.
Pengalaman itu dinilai tidak harus berhenti menjadi cerita keberhasilan Ranting Wage. Jika dirumuskan dengan baik, pola tersebut dapat menjadi pengalaman yang bisa dikembangkan dan direplikasi di ranting lain.
Penguatan Kader hingga AUM
Pertemuan juga menghasilkan sejumlah arahan konkret. Di antaranya penguatan kader melalui pendidikan lanjut, pemetaan kader muda, dan pengembangan database jamaah.
Penguatan Lazismu juga menjadi bagian dari pembahasan. Begitu pula pengembangan Klinik Muhammadiyah–Aisyiyah Wage sebagai bagian dari penguatan layanan kepada masyarakat.
Selain itu, muncul gagasan pengembangan Sekolah Cabang dan Ranting. Gagasan tersebut pada prinsipnya mendapat lampu hijau untuk ditindaklanjuti melalui koordinasi dengan Lembaga Pengembangan Cabang dan Ranting (LPCR) Wilayah.
“Pesan penting lainnya adalah agar PRM Wage tidak berhenti berinovasi. Selama masih memiliki kemampuan dan pengurus yang aktif, Ranting Wage didorong untuk terus mencari bentuk pengembangan baru yang membuat gerakannya semakin baik dan bermanfaat,” terang Mashuri.
Menariknya, pertemuan tersebut tidak berhenti pada arahan dan gagasan. PRM Wage diminta kembali bertemu dengan Sulton Amin dalam waktu tiga bulan untuk melaporkan perkembangan nyata dari hasil pertemuan.
Dengan demikian, ukuran keberhasilan pertemuan bukan sekadar banyaknya gagasan yang muncul, tetapi sejauh mana gagasan tersebut berubah menjadi gerakan.
Bagi PRM Wage, di situlah makna penghargaan Best of The Best. Predikat terbaik bukan alasan untuk berhenti. Tapi harus menjadi amanah untuk melangkah lebih jauh. (*)





0 Tanggapan
Empty Comments