Akhir-akhir ini berita tentang bencana seperti tidak pernah berhenti. Banjir datang ketika hujan deras mengguyur. Gempa mengguncang tanpa banyak memberi tanda. Gunung meletus, tanah longsor, angin kencang, hingga berbagai penyakit muncul silih berganti.
Televisi memberitakannya. Ponsel kita juga tak pernah sepi dari kabar serupa. Di media sosial, gambar rumah terendam, jalan berubah menjadi sungai, warga mengungsi, atau tanah yang longsor menutup akses jalan dengan mudah kita temukan.
Kadang kita hanya melihatnya beberapa detik, lalu menggulir layar ke berita berikutnya. Tetapi ada saat ketika sebuah berita bencana membuat kita berhenti lebih lama.
Terutama ketika melihat seorang ibu memeluk anaknya di tempat pengungsian. Seorang bapak berdiri di depan rumah yang hanya menyisakan puing. Atau seorang anak yang mencari barang-barang miliknya di antara lumpur dan reruntuhan.
Lalu muncul pertanyaan dalam hati: “Ya Allah, ini bertanda apa?”
Pertanyaan itu manusiawi. Namun sebagai seorang Muslim, bencana tidak cukup hanya dilihat sebagai peristiwa alam. Ada pelajaran yang perlu direnungkan. Al-Qur’an dan Sunnah memberikan beberapa cara bagi kita untuk memandang musibah.
Pertama, tanda peringatan dari Allah: tadzkiir
Allah SWT berfirman: “Telah tampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia, supaya Allah merasakan kepada mereka sebagian dari akibat perbuatan mereka, agar mereka kembali ke jalan yang benar.” (QS Ar-Rum: 41)
Ayat ini mengajak manusia melihat kerusakan bukan hanya dari sisi kejadian, tetapi juga dari sisi perilaku. Bencana dapat menjadi semacam “klakson” yang membangunkan kita dari kelalaian.
Dalam kehidupan sehari-hari, seseorang kadang baru menyadari pentingnya kesehatan setelah jatuh sakit. Baru merasakan berharganya keluarga ketika harus kehilangan salah seorang di antaranya. Baru menyadari nikmat rumah setelah melihat rumahnya terendam banjir.
Begitu pula dengan hubungan kita kepada Allah. Bisa jadi selama ini salat sering ditunda. Sedekah hanya dilakukan ketika ada kelebihan. Lisan terlalu mudah menyakiti orang lain. Kesibukan membuat zikir semakin jarang. Alam dieksploitasi tanpa memikirkan akibatnya.
Maka ketika sesuatu terjadi, barangkali yang perlu kita lakukan bukan sekadar bertanya, “Mengapa ini terjadi?”, tetapi juga bertanya kepada diri sendiri: “Apa yang sedang Allah ingatkan kepada saya?”
Namun, kita juga harus berhati-hati. Tidak setiap bencana boleh langsung divonis sebagai hukuman Allah kepada korban tertentu. Kita tidak mengetahui rahasia ketetapan-Nya. Yang bisa kita lakukan adalah mengambil pelajaran dan memperbaiki diri.
Kedua, tanda ujian untuk mengangkat derajat Bagi orang beriman, musibah juga dapat menjadi ujian.
Rasulullah saw bersabda bahwa tidaklah seorang Muslim tertimpa kelelahan, penyakit, kesedihan, gangguan, bahkan duri yang menusuknya, kecuali Allah menjadikannya sebagai sebab penghapusan dosa-dosanya.
Musibah, karena itu, tidak selalu berarti keburukan bagi orang yang mengalaminya. Bayangkan seseorang yang kehilangan rumah karena banjir. Hari-hari berikutnya mungkin tidak mudah. Ia harus tidur di tempat pengungsian, makan seadanya, memikirkan pekerjaan, sekolah anak, dan masa depan keluarganya.
Tetapi di tengah kesulitan itu, ia tetap salat. Ia bersabar. Ia tidak berhenti berharap kepada Allah. Di situlah sebuah musibah bisa berubah menjadi ladang pahala.
Yang tertimpa musibah dan bersabar mendapatkan pahala. Orang yang meninggal dalam keadaan tertentu karena bencana dapat memperoleh kemuliaan syahid. Sementara orang-orang yang datang membantu—mengantarkan makanan, membersihkan rumah, mengumpulkan donasi, menyelamatkan korban—juga memperoleh kesempatan besar untuk berbuat kebajikan.
Musibah akhirnya tidak hanya memperlihatkan siapa yang sedang kesusahan. Ia juga memperlihatkan siapa yang mau peduli.
Di sebuah kampung yang terkena banjir, misalnya, sering kali kita melihat hal sederhana yang justru menghangatkan hati. Ada pemuda yang mengangkut lansia menggunakan perahu. Ada ibu-ibu yang memasak untuk para pengungsi. Ada anak-anak muda yang membersihkan lumpur dari rumah warga.
Mereka mungkin tidak mengenal satu sama lain sebelumnya. Tetapi bencana mempertemukan mereka dalam satu kesadaran: ketika saudara kita sedang kesusahan, kita tidak boleh hanya menjadi penonton.
Ketiga, tanda dekatnya hari Kiamat Rasulullah saw juga mengingatkan tentang banyaknya gempa sebagai salah satu tanda menjelang kiamat.
Dalam sebuah hadis disebutkan: “Tidak akan terjadi kiamat sampai banyak terjadi gempa bumi.”
Karena itu, semakin banyak kejadian yang mengingatkan manusia pada kefanaan dunia, seharusnya semakin kuat pula kesadaran kita bahwa kehidupan ini tidak selamanya. Kita sering menjalani hari seolah-olah masih memiliki waktu yang panjang.
Pagi berangkat bekerja. Siang mengejar pekerjaan. Sore pulang. Malam berkumpul bersama keluarga. Besok mengulang rutinitas yang sama.
Kita membuat rencana untuk bulan depan, tahun depan, bahkan puluhan tahun mendatang. Itu tidak salah. Tetapi ada satu hal yang sering lupa kita siapkan: kepulangan kepada Allah.
Kita sibuk menyiapkan rumah, tetapi lupa menyiapkan amal. Kita memikirkan tabungan untuk masa depan anak, tetapi kadang lupa menabung pahala untuk kehidupan setelah kematian.
Kita memperbaiki penampilan di hadapan manusia, tetapi lupa memperbaiki hubungan dengan Allah.
Bencana, kematian, dan berbagai peristiwa yang datang tiba-tiba seharusnya menjadi pengingat bahwa kehidupan manusia memang tidak pernah benar-benar berada dalam genggamannya sendiri.
Lalu, apa yang harus kita lakukan?
Pertama, memperbanyak muhasabah. Jangan buru-buru menyalahkan alam atau menunjuk orang lain.
Mari bertanya kepada diri sendiri: “Apa yang harus saya perbaiki dalam hubungan saya dengan Allah?”
Perbaiki salat. Perbaiki sedekah. Perbaiki lisan. Perbaiki hubungan dengan orang tua, pasangan, anak, tetangga, dan sesama. Perbaiki pula cara kita memperlakukan alam. Sebab bisa jadi perubahan besar memang harus dimulai dari sesuatu yang sederhana: diri sendiri.
Kedua, memperbanyak istighfar dan doa. Dalam kondisi penuh ketidakpastian, manusia membutuhkan tempat untuk bersandar. Dan bagi seorang Muslim, tempat bersandar itu adalah Allah SWT.
Di antara doa yang diajarkan Rasulullah saw: Allahumma inni a’udzu bika min zawali ni’matik, wa tahawwuli ‘afiyatik.
“Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari hilangnya nikmat-Mu dan berubahnya kesehatan atau keselamatan yang Engkau berikan.”
Doa bukan berarti kita pasif menghadapi bencana. Doa justru harus berjalan bersama ikhtiar: menjaga lingkungan, mematuhi peringatan kebencanaan, membantu korban, dan melakukan berbagai upaya untuk mengurangi risiko.
Ketiga, menolong sesama yang tertimpa bencana. Bencana menguji bukan hanya kesabaran korban, tetapi juga empati orang-orang yang menyaksikannya. Ketika melihat saudara kita kehilangan rumah, jangan berhenti pada rasa iba.
Kalau punya harta, bantu dengan harta. Kalau punya tenaga, bantu dengan tenaga. Kalau memiliki keahlian, gunakan keahlian. Kalau tidak mampu melakukan semuanya, setidaknya panjatkan doa.
Sebab boleh jadi bagi kita, bantuan itu hanya sebuah paket makanan atau sejumlah uang. Tetapi bagi seseorang yang sedang kehilangan hampir seluruh miliknya, bantuan kecil itu bisa berarti sangat besar.
Pada akhirnya, bencana bukan semata-mata tentang air yang meluap, tanah yang bergerak, gunung yang meletus, atau bumi yang berguncang.
Bencana juga bisa menjadi cermin. Ia membuat kita melihat kembali kehidupan yang selama ini kita jalani.
Mungkin kita terlalu sibuk.
Mungkin kita terlalu nyaman. Mungkin kita terlalu jauh dari Allah. Mungkin kita terlalu sedikit peduli kepada sesama.
Bencana tidak selalu berarti Allah membenci kita. Bagi orang beriman, musibah bisa menjadi peringatan, ujian, penghapus dosa, atau jalan datangnya kebaikan yang tidak kita sangka.
Disentil agar ingat. Diuji agar bertumbuh. Diingatkan agar bersiap pulang.
Karena itu, jangan hanya bertanya: “Kapan bencana ini berhenti?”
Tetapi sesekali tanyakan kepada diri sendiri: “Jika Allah memanggil saya hari ini, sudah siapkah saya pulang?”
Semoga Allah SWT melindungi kita, keluarga kita, dan negeri kita dari segala bala dan musibah. Semoga Dia memberi keselamatan kepada mereka yang sedang tertimpa bencana, menguatkan hati mereka, serta menggerakkan hati kita untuk membantu sesama.
Allahumma shalli ‘ala Sayyidina Muhammad wa ‘ala ali Sayyidina Muhammad.
Ya Allah, dengan rahmat dan pertolongan-Mu kami memasuki waktu pagi, dan dengan rahmat dan pertolongan-Mu kami memasuki waktu petang. Dengan rahmat dan pertolongan-Mu kami hidup dan dengan kehendak-Mu kami mati. Dan kepada-Mu kebangkitan bagi semua makhluk.
Ya Allah, sungguh kami memohon kepada-Mu dengan cahaya wajah-Mu yang langit dan bumi bercahaya karenanya. Jadikanlah kami dalam pemeliharaan-Mu, pengawasan-Mu, dan di bawah penjagaan-Mu. Amin. (*)





0 Tanggapan
Empty Comments