Belajar agama tak harus selalu duduk dan mendengarkan materi. Hal tersebut dibuktikan oleh MI Muhammadiyah 27 Surabaya melalui kegiatan Trenkids (Pesantren Kids).
Kegiatan bertema “Ibadah Asyik, Karakter Fantastis” itu menghadirkan pengalaman belajar Islam yang seru, interaktif, dan penuh makna bagi peserta didik kelas 4 hingga kelas 6 pada Jumat-Sabtu (16–17/10/2026).
Selama dua hari satu malam, para peserta diajak mendalami praktik ibadah sekaligus menumbuhkan karakter Islami melalui beragam aktivitas edukatif.
Paham Teori, Mampu Praktikkan
Mulai dari Wudhu Challenge, Akhlak Detective, qiyamul lail, tadabbur alam, hingga membawa pulang Kindness Voucher untuk orang tua.
Berbagai kegiatan tersebut dirancang agar peserta didik tidak hanya memahami ajaran Islam secara teori, tetapi juga mampu mempraktikkannya dalam kehidupan sehari-hari.
Koordinator Baca Tulis Al-Qur’an (BTQ) sekaligus panitia acara, Noor Insani Maulidiya, menjelaskan alasan pemilihan tema tersebut.
Menurutnya, hal tersebut untuk menanamkan pemahaman bahwa ibadah bukan sekadar kewajiban, melainkan kebutuhan dan kebiasaan baik yang perlu dibangun sejak dini.
“Melalui kegiatan Trenkids, kami ingin menghadirkan pengalaman belajar agama yang menyenangkan, interaktif, dan berkesan. Harapannya, murid semakin mencintai ibadah sekaligus memiliki karakter Islami yang kuat dalam kehidupan sehari-hari” ungkapnya.
Ia menambahkan, perpaduan praktik ibadah, permainan edukatif, tantangan kelompok, dan aktivitas kreatif menjadi cara untuk membantu peserta didik belajar melalui pengalaman langsung.
Dengan demikian, setiap kegiatan diharapkan memberikan pelajaran yang dapat diterapkan, baik di lingkungan sekolah maupun di rumah.
Lebih dari sekadar kegiatan pesantren yang menyenangkan, Trenkids diharapkan menjadi titik awal tumbuhnya kebiasaan baik.
Nilai-nilai disiplin, mandiri, jujur, peduli, dan bertanggung jawab diharapkan semakin melekat dalam diri peserta didik.
Mereka pun diharapkan menjalankan ibadah atas dasar kecintaan kepada Allah SWT, bukan semata-mata karena perintah atau pengawasan.
Belajar Wudu dengan Cara Menyenangkan
Keseruan Trenkids turut dirasakan Hamizan Muhyidin Alfath, peserta didik kelas 4A yang untuk pertama kalinya mengikuti kegiatan pesantren tersebut.
Ia mengaku antusias menjalani rangkaian acara, termasuk menikmati waktu bersama teman-teman sekamar pada malam hari.
Dari berbagai aktivitas yang diikuti, Alfath menyukai waktu snack time dan sesi menyaksikan tayangan bersama di lantai bawah.
Melalui sesi tersebut, peserta didik diajak mengamati praktik wudu untuk mengenali gerakan yang benar dan yang masih perlu diperbaiki.
“Pengalaman baru yang saya dapatkan adalah cara menyempurnakan wudu” ujar Alfath.
Tak hanya memperoleh pemahaman tentang tata cara wudu, ia juga belajar membedakan akhlak terpuji dan akhlak tercela.
Pengalaman tersebut mendorongnya untuk memperbaiki praktik wudu dan membiasakannya dengan benar, baik di rumah maupun di sekolah.
Ia pun berharap Trenkids berikutnya dapat berlangsung semakin seru dan menyenangkan.
Serunya Kerja Sama, Bertambah Ilmu dan Pengalaman
Pengalaman berkesan juga dirasakan Devya Hasna Dzakiya dari kelas 4B. Baginya, sesi permainan kelompok menjadi salah satu momen favorit karena mengajarkannya arti kekompakan dan kerja sama.
Di balik keseruan permainan, Devya mendapatkan pelajaran penting mengenai tata cara berwudu. Ia memahami bahwa wudu tidak boleh dilakukan secara terburu-buru, tetapi harus mengikuti tuntunan yang benar.
“Kalau wudu itu ya kayak, misal jangan terlalu cepat gitu” tuturnya.
Setelah mengikuti Trenkids, Devya merasa lebih memahami cara berwudu dengan baik. Ia juga bertekad membawa pulang kebiasaan positif, seperti lebih rajin belajar, membantu orang tua di rumah, serta konsisten menerapkan tata cara wudu yang benar dalam kehidupan sehari-hari.
Dari Kegiatan Seru Menuju Kebiasaan Baik
Kegiatan Trenkids menjadi bukti bahwa pembelajaran agama dapat dikemas secara menyenangkan sekaligus bermakna.
Melalui praktik ibadah, permainan edukatif, dan kebersamaan, peserta didik memperoleh kesempatan untuk belajar, berlatih, serta membangun karakter Islami secara langsung.
Harapannya, semangat “Ibadah Asyik, Karakter Fantastis” tidak berhenti ketika kegiatan berakhir.
Kebiasaan beribadah dengan benar, kedisiplinan, kepedulian, dan akhlak mulia diharapkan terus tumbuh dalam keseharian peserta didik. Sehingga mereka menjadi generasi Qurani yang beriman, mandiri, dan berkarakter Islami.





0 Tanggapan
Empty Comments