Puncak peringatan Milad ke-78 Pondok Pesantren Karangasem Muhammadiyah Paciran Lamongan berlangsung khidmat dan penuh kesan, Ahad (18/10/2026).
Tepat 78 tahun sejak didirikan pada 18 Oktober 1948, momen ini ditandai dengan gelaran Talkshow Pendidikan yang menghadirkan deretan Guru Besar.
Sekretaris PWM Jawa Timur sekaligus Staf Ahli Bidang Regulasi dan Hubungan Antar Lembaga Kemendikdasmen RI Prof Dr H Biyanto MAg hadir sebagai keynote speaker.
Sementara itu, jajaran narasumber diisi oleh para alumni. Di antaranya Guru Besar Teknologi Pendidikan Prof Dr Hj Sutiah MPd dan Guru Besar Ilmu Bahasa Arab Prof Dr H Uril Baharuddin MA.
Tidak ketinggalan Pimpinan Pondok Pesantren Karangasem Muhammadiyah Paciran KH Drs Abdul Hakam Mubarok Lc MPd, KH Anwar Mu’rob, dan alumni Pondok Karangasem serta bapak dan ibu guru dan tenaga pendidik di lingkungan Pondok Karangasem.
Pulang ke Pondok
Suasana talkshow semakin hangat saat Prof Uril naik ke panggung. Bagi Guru Besar Bahasa Arab tersebut, kembali ke Karangasem terasa seperti napak tilas kehidupan masa lalunya.
“Serasa pulang ke pondok sendiri, di mana dulu saya pernah enam tahun tidur dan menimba ilmu di sini” kenangnya penuh haru.
Dalam pemaparannya, Prof Uril menegaskan bahwa kunci utama dalam memajukan dan mengembangkan lembaga seperti Pesantren Karangasem adalah dengan menciptakan keunggulan khusus.
Ia kemudian mengisahkan kenangan manisnya semasa menjadi santri Karangasem pada era 1990-an.
“Saya belajar bersama KH Anwar setiap usai salat Zuhur. Pokoknya saya ikuti terus. Saat itu saya belum mahir berbicara bahasa Arab, tapi ilmu nahwu sharaf sudah mahir. Semua kitab sudah terbaca, Tafsir, Kitab Sahih Muslim, dan kitab-kitab kuning lainnya, tapi tidak bisa berbicara Bahasa Arab” ungkapnya.
Keunggulan pondok dalam mencetak santri yang mahir nahwu sharaf, menurut Prof Uril, disempurnakan dengan metode penggemblengan bahasa yang intensif. Ia menceritakan pengalamannya saat duduk di kelas 3 SLTA.
“Ketika liburan kelas 3, sebanyak 14 orang santri termasuk saya menambah waktu tinggal di pondok selama 14 hari khusus untuk belajar bercakap bahasa Arab bersama KH Mudlofir” tuturnya.
Nahwu Shorof Tak Cukup
Selama dua minggu itu, lanjutnya, mereka tidak boleh berbicara bahasa apa pun selain bahasa Arab.
“Dan alhamdulillah, kami semua akhirnya bisa lancar berbicara. Yang luar biasa, ke-14 santri dalam kelompok tersebut kini semuanya menjadi guru” ucap Wakil Ketua MTT PWM Jatim itu.
Dari kisah nostalgianya itu, Prof Uril menarik sebuah pesan penting untuk masa depan Pondok Karangasem.
Ia menyampaikan, menguasai nahwu sharaf memang sudah menjadi keunggulan otentik pondok pesantren sejak dulu. Namun, di era global saat ini, itu saja tidak cukup.
“Santri hari ini tidak hanya harus kuat di fondasi nahwu sharaf, tetapi juga harus mampu dan berani berbicara menggunakan bahasa asing untuk melangkah menuju panggung dunia” tegasnya.
Puncak peringatan Milad Ke-78 ini menjadi refleksi panjang perjalanan Pesantren Karangasem Muhammadiyah Paciran dari masa ke masa. Sekaligus penegah komitmen untuk terus mencetak generasi ulama berwawasan global.





0 Tanggapan
Empty Comments